Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
184


__ADS_3

Setelah percintaan panas itu terjadi, kini pengantin yang masih terbilang baru itu, tidur saling berpelukan di bawah selimut tanpa sehelai benang. Cacha merasa begitu nyaman saat kulitnya dengan kulit suaminya saling bersentuhan tanpa sekat.


Mike membenamkan ciuman di puncak kepala istrinya beberapa kali, sedangkan Cacha semakin merapatkan tubuhnya. Dia memejamkan mata, berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.


"Mike, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Cacha, masih dengan mata terpejam.


"Tentu saja." Mike menjawab singkat.


"Apa kamu pernah berpacaran, Mike?" tanya Cacha pelan.


"Belum pernah." Mike mengeratkan pelukannya.


"Apa kamu pernah mencintai seseorang?" tanya Cacha lagi. Kali ini Mike terdiam untuk beberapa saat.


"Kamu ingin aku menjawab jujur?" Cacha mengangguk dengan cepat. Mike menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan.


"Pernah, ada dua wanita yang bisa menaklukan hatiku." Mike berbicara dengan jujur, bibir Cacha yang barusan tersenyum kini senyum tersebut perlahan memudar.


"Apa aku mengenal wanita itu, Mike?" tanya Cacha dengan lirih. Dia memainkan telunjuk di dada bidang suaminya, melukis gambar abstrak untuk mengurangi kegundahan hatinya.


"Kamu mengenal salah satunya," ucap Mike, menghentikan gerakan telunjuk Cacha.


"Siapa?" Cacha mendongak, menatap suaminya dengan penuh telisik.


"Kamu ingin tahu mereka siapa saja?" tanya Mike. Cacha mengangguk dengan cepat. "Kamu yakin tidak akan marah setelah ini?" tanyanya lagi. Kali ini, anggukan kepala Cacha melemah. Wanita itu ragu, akankah dia marah setelah tahu semuanya? Namun, dirinya merasa begitu penasaran.


"Yang pertama namanya Devi. Dia sahabatku dan Mario."


"Mario?" sela Cacha karena dia merasa tidak asing dengan nama itu. "Apakah Mario asisten Mas Rendra?" Mike menanggapi dengan anggukan cepat.


"Devi berhasil membuat jantungku berdebar kencang, tapi sayang sekali cintaku bertepuk sebelah tangan karena Devi sangat mencintai Mario. Ya, walaupun pada akhirnya mereka tidak bersatu," tutur Mike. Dia menghela napas panjang, dadanya masih terasa sesak setiap kali teringat wanita itu.


"Kamu masih mencintainya, Mike?" tanya Cacha lirih. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


"Kalau aku bilang masih ada sedikit perasaan untuknya, apakah kamu akan marah?" Mike mengeratkan pelukannya. Dia tahu kalau istrinya pasti saat ini sedang sedih.


"Tidak! Itu hak kamu, Mike. Setiap orang pasti punya masa lalu." Cacha berusaha tetap terlihat setenang mungkin. "Kapan-kapan antar aku bertemu dengannya. Aku ingin sekali berkenalan."


"Suatu saat aku akan mengenalkan padamu," ucap Mike lembut.


"Mike, siapa wanita kedua yang bisa membuatmu jatuh cinta. Katamu, aku mengenalnya. Aku sangat penasaran," kata Cacha.


Mike melerai pelukannya, lalu mengusap wajah Cacha dengan penuh cinta. Mike bisa tahu kalau saat ini istrinya hanya sedang berpura-pura tersenyum.


"Wanita kedua yang membuatku jatuh cinta adalah Nona Muda ...." Mike menghentikan ucapannya. Dia semakin menatap Cacha dengan sangat lekat.


"Kamu juga mencintai Nadira?" tukas Cacha karena tidak sabar mendengar kelanjutan ucapan Mike. Lelaki itu tidak menjawab, tetapi bibirnya tersenyum simpul melihat raut wajah istrinya yang berubah sendu.


Kenapa banyak sekali yang sayang dengan Nadira? Siapa pun jatuh cinta dengannya.


"Nona Muda Saputra, bukan Alexander," ucap Mike membuat Cacha terdiam seketika. "Hanya Nona Muda Saputra yang mampu membuatku jantungku berdebar kencang saat ini."


"Aku?" tanya Cacha belum percaya.


"Baiklah." Cacha hanya menjawab lesu. Rasanya, dia sudah tidak bersemangat lagi atau bertanya lebih lanjut. Cacha kembali memeluk Mike dengan erat, dan membenamkan wajah di dada bidang lelaki itu.


Cacha berusaha memejamkan mata meski hatinya saat ini sedang sangat gelisah. Mike pun membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Dia juga berusaha terlelap karena tubuhnya sudah sangat lelah.


***


Mansion Alexander


Jam baru menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi mata Nadira sudah terbuka lebar. Wanita itu merasa sangat lapar dan tidak bisa kembali tidur padahal dirinya sudah berusaha memejamkan mata.


Merasa pergerakan dari sampingnya, Nathan membuka mata paksa. Dia menatap istrinya yang sedang tidur telentang dengan raut wajah yang susah ditebak.


"Kamu kenapa, Beb?" tanya Nathan, kembali memejamkan mata yang masih sangat mengantuk.

__ADS_1


"Aku lapar, Mas." Kedua mata Nathan terbuka seketika. Bahkan, dia langsung terduduk meski dengan menahan kantuk.


"Kamu mau makan apa, Beb? Biar aku cariin," ucap Nathan.


Nadira yang mendengar itu langsung tersenyum sumringah. Dia menatap suaminya dengan binar bahagia. "Kamu yakin akan menuruti keinginanku?"


"Pastilah! Demi Nathan junior." Nathan berbicara dengan sangat yakin.


"Apa pun keinginanku?" tanya Nadira lagi. Namun, kali ini senyum Nathan perlahan memudar, entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak.


"Mas?" panggil Nadira menyadarkan Nathan.


"I-iya, Beb." Nathan menjawab gugup.


"Aku mau makan cilok," ucap Nadira.


"Cilok?" Nathan belum percaya, Nadira menggangguk cepat. "Jam segini mana ada penjual cilok, Beb."


"Tuh, 'kan! Katanya apa pun keinginanku bakalan kamu turuti. Kamu jahat! Sana pergi aja!" Nadira berbalik dengan kesal.


"Beb, nanti siang ya. Jam segini penjual cilok juga masih pada tidur." Nathan berusaha merayu, tetapi Nadira tetap bersikukuh.


"Kalau kamu enggak mau beliin, mending kamu tidur di luar selama sebulan!" ancam ibu hamil tersebut.


"Baiklah, aku akan menyuruh Zack untuk menemani. Aku carikan dulu. Jangan ileran ya anak papi." Nathan mencium perut Nadira penuh sayang, lalu beralih mencium kening istrinya.


Nadira yang melihat itu tersenyum bahagia, dia tidak tahu kalau saat ini Nathan sedang ngedumel dalam hati sembari berjalan menuju ke pintu. Namun, baru saja memegang handle pintu, terdengar suara Nadira yang memanggilnya. Nathan pun kembali tersenyum dan berharap istrinya bisa diajak bernegoisasi.


"Apa, Beb? Kamu mau menunda ngidammu?" tanya Nathan penuh harap.


"Tidak! Aku cuma mau bilang kalau tiap butir cilok, jangan lupa dalemnya dikasih tempe," sahut Nadira. Mata lelaki itu membulat sempurna, tidak percaya.


"Baiklah!" Nathan bicara dengan sangat pasrah, dan berjalan gontai keluar kamar karena dia tidak mau berdebat dengan ibu hamil yang tidak mungkin kalah.

__ADS_1


Kenapa calon anakku suka sekali tempe? Mungkinkah karena papinya hobi sama tempe? Tapi 'kan tempe kesukaanku beda. Lebih legit dan bikin nagih.


__ADS_2