Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
291


__ADS_3

Hari pesta pernikahan Febian dan Ara akhirnya tiba juga. Sebuah gedung telah didekorasi dengan sangat mewah, puluhan ribu tamu undangan hadir untuk merayakan pesta pernikahan putra bungsu keluarga Alexander. Semuanya sudah siap, tetapi Ara masih berada di ruang make up. Rasanya dia begitu gugup karena akan menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Kamu terlihat sangat cantik, Ra." Nadira memuji adik iparnya. Wajah Ara pun bersemu merah.


"Kamu juga cantik, Kak." Ara membalas. Nadira hanya menunjukkan senyum lebarnya. Namun, tiba-tiba wajah Ara mendadak masam, Leona dan Nadira yang melihat itu pun mengerutkan kening karena heran.


"Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Leona ingin tahu.


Ara mengangguk lemah, "Aku baik, tapi ...."


"Tapi apa?" sela Nadira dan Leona bersamaan.


"Aku tidak percaya diri."


"Astaga." Leona menghela napas panjang lalu berdiri tepat di samping sahabatnya. "Apa yang membuatmu tidak percaya diri?" tanyanya penasaran.


"Aku malu. Kamu tahu 'kan kalau aku ini dulu hanya office girl di kantor Mas Bi." Ara menjawab lesu.


"Ra, statusmu sekarang adalah nona muda Alexander. Jadi, tidak akan yang berani mengusik atau menghinamu. Kalau sampai ada yang berani maka keluarga Alexander yang akan maju," ucap Nadira sangat yakin.


"Baik, Kak."


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita keluar, mereka pasti sudah menunggu kedatangan ratu malam hari ini." Nadira menggandeng Ara di sisi kanan, sedangkan Leona berada di sisi kiri. Saat keluar dari ruangan itu. Ara semakin terlihat gugup, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish

__ADS_1


You look so beautiful in white


Tonight


Lagu Shane Filan - Beautiful in white, mengalun merdu saat pintu ruangan terbuka dan tiga wanita cantik itu masuk dengan langkah anggun. Seluruh tatapan mengarah pada mereka, Febian yang sedang berdiri di depan panggung pun tersenyum lebar saat melihat kedatangan istrinya. Ketika Ara sudah berada di depan Febian, lelaki itu setengah membungkuk lalu meraih tangan Ara dan menciumnya.


"Kamu gugup?" tanya Febian lirih. Ara tidak menjawab, hanya mengangguk dengan cepat. "Tenanglah, ada aku di sini, Sayang."


Febian berdiri di samping Ara, lalu memasukkan tangan wanita itu ke dalam lengannya. Setelah itu, mereka naik ke panggung untuk menyambut para tamu undangan yang sudah hadir di sana sejak tadi. Ara mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kebanyakan tamu yang hadir adalah rekan bisnis keluarga Alexander. Ara tersenyum saat melihat ayahnya yang sedang duduk bersama Johan dan Mila juga tersenyum padanya.


"Minta perhatian semuanya." Suara Febian berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang langsung diam dan suasana di ruangan itu pun menjadi senyap. Febian beralih menggenggam erat tangan Ara.


"Selamat malam semuanya. Terima kasih atas kehadiran kalian di pesta pernikahan saya dengan istri tercinta. Terima kasih juga untuk seluruh anggota keluarga yang sudah membantu dan memberi dukungan atas digelarnya acara ini. Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri, saya Elvian Febian Alexander berdiri di sini untuk memperkenalkan istri saya yang paling cantik tentunya. Kiara Rafania Putri."


Febian menghentikan ucapannya sesaat, dan tepuk tangan yang begitu meriah terdengar menggema di ruangan itu.


"Juga untuk ayah mertua saya, Pak Akbar, terima kasih sudah mengizinkan saya untuk meminang putri Bapak yang luar biasa ini, untuk menjadi pendamping hidup saya sampai maut memisahkan. Terima kasih banyak, Pak."


Akbar mengusap air mata yang menetes, dia merasa sangat bersyukur karena putrinya mendapat lelaki yang tepat. Cukup sudah penderitaan yang dialami Ara dan sekarang saatnya wanita itu untuk bahagia.


Genggaman tangan Febian terasa mengerat, Ara pun mengusap air mata. Bukan hanya Ara, tetapi hampir semua yang di sana menangis haru mendengar ucapan Febian.


Nadira menghela napas panjangnya, "Andai daddy dan mommy di sini, pasti kebahagiaan ini akan terasa lebih lengkap," ucap Nadira lirih. Alvino menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapannya. Dia pun mendaratkan kecupan di kening adik perempuannya.


"Mereka pasti bahagia di sana melihat kita sudah bahagia." Suara Alvino terdengar bergetar menahan tangis. Sementara Nathan hanya diam di belakang membiarkan kakak-adik itu saling menguatkan.


"Yang terakhir adalah yang paling spesial. Ucapan terima kasih saya persembahkan untuk istri tercinta saya. Wanita yang hebat dan luar biasa. Wanita yang mampu menggetarkan hati saya, mampu menyembuhkan luka hati saya." Febian menatap Ara dengan sangat lekat, sebuah tatapan yang penuh cinta. Ara pun menatap balik.


"Kiara Rafania Putri. Izinkan aku mengatakan isi hatiku saat ini kalau aku ... sangat mencintaimu, Sayang."


Ara tidak bisa menahan air mata saat mendengar ucapan Febian. Dia merasa begitu bahagia dan terharu. Dengan lembut, Febian membantu mengusap air mata istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas." Ucapan itu akhirnya lolos dari bibir Ara. Wajah Febian berbinar bahagia. Dengan penuh cinta, Febian mencium lembut bibir Ara dengan lama.

__ADS_1


Sementara yang lain menutup mata putra-putri mereka supaya tidak melihat adegan ciuman itu. Alvino mendengkus kasar saat melihat Nathan dan Nadira yang juga ikut berciuman, sedangkan satu tangan Nathan menutup mata Bobby yang berada di dekatnya.


"Kenapa ditutup, sih, Dad?" Jinny menyingkirkan tangan Alvino dari wajahnya.


"Kamu tidak boleh melihat itu!" sahut Alvino sedikit tegas.


"Jinny sudah biasa melihatnya, Dad." Jinny bersidekap dengan raut kesal.


"Kapan kamu melihatnya?" tanya Alvino curiga.


"Waktu papi dan mami bersama," sahut Jinny jujur. Nathan dan Nadira terkejut saat mendengarnya, sedangkan Alvino menatap Nathan dengan marah.


"Jonathan Saputra!" hardik Alvino.


"Apa, Kakak Ipar?" Nathan berusaha supaya tetap terlihat setenang mungkin.


"Kenapa kamu sudah menodai mata suci putriku!" maki Alvino dengan sorot mata tajam.


"Aku sudah menyuruh Jinny untuk tutup mata. Aku tidak tahu kalau dia mengintip." Nathan menjawab santai. Dengan geram, Alvino maju mendekati Nathan, melihat itu Nathan pun hanya melangkah mundur.


"Astaga, Ran. Kenapa Aksara muntah." Teriakan Nathan membuat Alvino langsung berbalik dan terlihat penuh khawatir. Di saat itu pula, Nathan melangkah lebar menjauh dari Alvino.


Alvino semakin merasa kesal karena ternyata Nathan sudah membohonginya dan di saat dia berbalik, Nathan sudah pergi jauh dari hadapannya.


"Jonathan Saputra! Jangan pergi!" Suara Alvino menggelegar di ruangan itu hingga membuat perhatian banyak orang. Namun, Alvino tidak peduli dan tetap mengejar adik iparnya itu.


๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ


Nih, Othor Kasih yang panjang biar puas ๐Ÿ˜…


dukungan jangan lupa loh.


Othor tunggu. Karena pesta pernikahan sudah digelar, maka kisah Febian-Ara sudah sampai pada puncaknya ya.

__ADS_1


Masih nungguin bab selanjutnya enggak nih?


Selamat pagi dan selamat beraktivitas Gaess.


__ADS_2