Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
163


__ADS_3

Di kamar bernuansa biru tosca milik Nadira, pasangan pengantin yang sudah tidak baru lagi tersebut, sedang sibuk bercengkrama di bawah balutan selimut bermotif bunga. Sedari tadi, tangan Nadira terus melingkar di perut Nathan yang sudah terlelap terlebih dahulu.


Mereka baru saja usai melakukan percintaan yang sangat panas setelah seminggu libur karena Nadira kedatangan tamu bulanan. Seperti seekor singa yang sangat lapar dan disuguhi sepotong daging, Nathan dengan buas menggarap Nadira tanpa ampun.


Bahkan saat Nadira menger*ng karena hentakan-hentakan yang dia berikan, Nathan justru menjadi semakin beringas. Sampai pada akhirnya mereka mencapai ******* bersama, tubuh Nathan langsung tumbang begitu saja.


Tangan Nadira semakin melingkar erat kala suhu dingin mulai menyentuh kulit putihnya karena dirinya tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun. Merasakan pelukan yang semakin terasa mengerat, membuat Nathan membuka paksa kedua matanya.


"Kamu kedinginan, Beb?" tanya Nathan, masih setengah sadar.


"Ya, aku enggak bisa tidur." Mendengar suara istrinya yang begitu manja, membuat Nathan merasa begitu gemas. Dia mengecup puncak kepala sang istri dan membalas pelukan wanita tersebut dengan tak kalah erat.


"Pakai bajumu. Jangan sampai kamu sakit. Ingat! Besok kita akan berangkat ke Bali," perintah Nathan, ia sedikit melonggarkan rangkulannya.


"Males!" sahut Nadira cepat.


"Kalau begitu kita anuan lagi aja. Itu 'kan bisa menghangatkan tubuh kita." Membicarakan hal seperti ini, mata Nathan menjadi terasa terang benderang. Kesadaran lelaki itu benar-benar penuh.


Nadira tidak menjawab, hanya mencubit gemas perut suaminya hingga membuat lelaki itu mengaduh, tetapi terkekeh pada akhirnya. Banyak ciuman mendarat hampir di seluruh wajah Nadira.


"Tidurlah, jangan sampai kita terlambat bangun." Nathan kembali merapatkan tubuhnya hingga tidak ada sedikit pun jarak tersisa di antara mereka. Dengan gerakan lembut, tangan kekar lelaki itu mengusap rambut Nadira. Menciptakan sebuah perasaan nyaman hingga tanpa sadar, Nadira pun benar-benar tertidur lelap.

__ADS_1


Setelah mendengar dengkuran halus dari istrinya. Bibir Nathan tersenyum simpul dan mencium kening wanita itu dengan sangat lama. Seolah menyalurkan segala rasa sayang yang dia punya. Nathan pun ikut memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


***


Langit bertabur bintang kini beralih menjadi cerah dengan bias cahaya sang surya yang menelusup melalui celah tirai. Nadira merentangkan kedua tangan untuk melemaskan seluruh otot yang terasa tegang. Bahkan, dia masih malas untuk membuka mata karena tubuhnya rasanya seperti remuk redam.


Nadira begitu terkejut saat tidak melihat keberadaan Nathan sama sekali. Dia bergegas turun dan menuju ke kamar mandi, tetapi hanya sepi yang dia dapatkan. Bahkan suara gemericik air pun tidak sedikit pun terdengar.


Nadira mendesah kasar, lalu mengambil handuk dan berniat untuk membersihkan diri karena setengah jam lagi, mereka akan berangkat ke bandara. Nadira sangat yakin kalau saat ini suaminya pasti sudah berada di lantai bawah.


Hampir lima belas menit berada di kamar mandi, Nadira keluar dengan tubuh yang sudah terlihat segar dengan handuk kecil membalut rambutnya yang masih basah.


Baru saja keluar dari kamar mandi, terdengar suara pintu kamar terbuka. Bibir Nadira tersenyum karena dia pikir suaminya yang sedang berjalan masuk, tetapi ternyata dia telah salah.


"Ada pesan dari Kak Nathan." Cacha menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang masih sangat berantakan sisa percintaan panas semalam.


"Pesan?" tanya Nadira semakin terheran.


"Ya. Kak Nathan ada urusan kantor yang sangat penting dan tidak bisa ditinggal sama sekali. Jadi, dia menyuruh kamu tetap berangkat. Nanti dia akan menyusul bersama Zack," papar Cacha.


"Kenapa Kak Nathan tidak bilang padaku?" tanya Nadira menuntut jawaban. Wanita itu terlihat sangat kecewa dengan suaminya.

__ADS_1


"Katanya, dia tidak tega membangunkan kamu yang kelelahan karena pertempuran semalam." Cacha berbicara sembari memutar bola matanya malas.


"Kak Nathan bilang seperti itu?" tanya Nadira tidak percaya. Cacha hanya mengangguk dengan cepat. "Dasar Kaleng Rombeng!" umpat Nadira. Tangannya terlihat mengepal dan saling memukul satu sama lain karena merasa begitu gemas.


"Gitu-gitu juga suamimu itu, Nad!" Cacha menutup mulut menahan tawa.


"Iya, kakakmu itu, Cha." Nadira pun tak mau kalah.


"Nad, aku males banget mau ikut ke Bali." Cacha merebahkan tubuhnya di kasur. Padahal niatnya ke kamar Nadira untuk menyuruh wanita itu untuk segera bersiap.


"Kenapa? Aku juga males kalau enggak sama Kak Nathan." Nadira memilih pakaian yang sekiranya nyaman dia pakai.


"Entahlah," sahut Cacha lesu.


"Mungkinkah kamu takut patah hati kalau melihat Mike menyebut nama wanita lain dalam ijab kabul yang dia ucapkan?" tanya Nadira menggoda sahabatnya.


Cacha terdiam sesaat, dia hanya berani membenarkan dalam hati, apa yang Nadira ucapkan barusan. "Tidak!"


"Kamu yakin?" Nadira berusaha memastikan.


"Sudahlah, Nad. Lebih baik kamu bersiap. Atau kita kabur saja, yuk!" ajak Cacha dengan seringai tipis di sudut bibirnya.

__ADS_1


💦💦💦


Jempolnya jangan lupa tekan, Hari Senin gaes, waktunya kasih vote dan hadiah.


__ADS_2