
Nadira segera bangkit berdiri saat melihat Mila masuk ke dalam ruangan itu. Wajah Nadira terlihat begitu malu karena sudah kepergok ibu mertuanya.
"Sorry, Bunda udah ganggu kalian. Silakan dilanjutkan." Mila kembali keluar ruangan. Nathan mendecak kesal. Dia menarik tubuh Nadira untuk masuk kembali dalam dekapannya. Nadira pun hanya bisa menurut.
"Nad ...."
"Nathan!" Baru juga Nathan akan berbicara, suara Mila sudah melengking memenuhi ruangan itu. Nadira pun kembali bangkit, wajahnya terlihat takut melihat Mila yang bersungut-sungut.
"Aunty," panggil Nadira dengan lirih. Mila tidak menjawab, dia berjalan ke sisi kanan brankar lalu menjewer telinga putranya dengan sangat kencang hingga Nathan berteriak kesakitan.
"Bunda, salah Nathan apa?" Nathan berusaha melepaskan jeweran tangan Mila karena telinganya bukan hanya sakit tapi juga memanas.
"Kamu ini lagi sakit gini, masih sempet-sempetnya mau mesum. Emang kamu udah ingat gadis cantik ini siapa?" omel Mila tanpa melepaskan jewerannya.
"Dia istri aku, Bun. 'Kan Bunda sendiri yang bilang!" cebik Nathan. Jeweran itu pun segera terlepas.
"Oh iya, Bunda lupa." Mila menepuk keningnya.
"Dasar emak-emak pikun!" gerutu Nathan kesal.
"Apa kamu bilang?" Nathan menunjukkan tanda piece saat Mila mendelik ke arahnya.
__ADS_1
"Tapi kenapa kalian mesra gitu?" tanya Mila lagi, dia jadi ragu kalau Nathan mengalami amnesia.
"Memang Bunda sama ayah enggak mesra?" Nathan tersenyum meledek ke arah Mila.
"Tentu saja mesra! Justru kemesraan kita itu tidak ada tandingannya."
"Pret!" sela Nathan begitu saja. Mila kembali mendelik ke arahnya membuat Nathan tergelak keras. Nadira yang sedari tadi diam, tak bisa lagi menahan tawanya. Dia memukul bahu Nathan karena begitu gemas dengan suaminya.
"Sakit, Sayang." Nathan merengek, Nadira melongo ke arah Nathan.
"Kamu yang bener aja, Kak! Cowok kok manja gitu," cibir Nadira. Dia melipat kedua tangan di dada. Mila yang melihat pun merasa sangat bahagia melihat hubungan Nathan dan Nadira yang sudah membaik.
"Pergilah, Bun. Jangan mengganggu! Emang Bunda enggak mau cucu?" tanya Nathan sedikit mengusir.
"Lah 'kan Nathan cuman nawarin, Bun. Kalau mau ya sabar, Bun. Nathan mau memroses dulu." Nathan bicara dengan begitu santai. Sementara wajah Nadira sudah merona merah, membahas hal seperti itu membuat Nadira menjadi malu karena dirinya belum melakukan.
"Pokoknya kalau belum sembuh total jangan bikin anak!" seru Mila diiringi hembusan napas kasar.
"Kenapa teriak-teriak sih, Mil. Suaramu sampai keluar ruangan," kata Johan yang baru berjalan masuk ruangan. Dia menatap Nathan dan Nadira yang terlihat begitu mesra.
"Kalian sudah baikan?" tanya Johan, kedua sudut bibirnya menunjukkan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Emang Ayah mau kita marahan terus?" tanya Nathan balik.
"Dasar bocah nakal! Ditanya bukannya jawab malah balik nanya!"
"Aduh! Aduh!" Nathan berteriak saat Mila kembali menjewer telinganya. "Ya Tuhan, kenapa Engkau titipkan hamba pada seorang ibu yang—" Nathan melirik Mila yang sudah mendelik ke arahnya. "Cantik, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan ...." Mila sudah melipat tangan di dada, menunggu kelanjutan ucapan Nathan.
"Dan apa?" tanya Mila tak sabar. Nathan menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Mesum!" jawab Nathan cepat. "Sayang, tolong aku mau ke kamar mandi," kata Nathan cepat untuk menghindari omelan bundanya. Benar saja, Mila langsung terdiam, sedangkan Johan menggeleng melihat istri dan putranya.
"Biar dibantu Bunda saja. Kasihan Nona Muda luka jahitnya baru aja kering," sela Johan menghentikan Nadira yang sudah bersiap membantu Nathan bangun. Mila pun segera berganti membantu putranya ke kamar mandi.
"Nona Muda, lebih baik Anda sarapan terlebih dahulu. Tuan Rendra sudah menunggu di depan." Johan berbicara dengan hormat.
"Uncle ...."
"Tidak boleh!" potong Nathan dengan cepat. "Biar aku pesankan makanan dari sini. Aku tidak ridho kamu makan dengan laki-laki lain!" Nathan mengurungkan niatnya ke kamar mandi.
"Kak, aku makan sama Cacha juga kok," kata Nadira memelas.
"Ya udah, kalau gitu aku ikut makan dengan kalian," timpal Nathan santai. Nadira menghembuskan napas kasar.
__ADS_1
"Aku makan sini aja deh, biar aku pesan." Nadira pun pasrah. Dia mengambil ponsel di dalam tas dan memesan makanan secara online. Melihat itu, Johan menyuruh Mike untuk menunggu di depan rumah sakit.
Setelah Nadira selesai memesan makanan, Nathan meminta Mila kembali membantunya ke kamar mandi. Namun, gerakan tangan Nathan yang hendak membuka pintu kamar mandi seketika terhenti saat melihat dua orang masuk ke ruangan dengan tergesa.