
"Nona Muda, dengan segenap kerendahan hati. Izinkan saya meminang Anda, tepat di ulang tahun Anda ini. Maukah Anda menikah dengan saya? Menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya kelak?" Mike kembali menghirup napas dalam untuk mengurangi kegugupannya. Cacha masih saja membisu, berusaha mencerna semua yang dia dengar saat ini.
"Mike, bukankah kamu akan menikah dengan wanita lain?" tanya Cacha bingung.
"Tidak ada wanita lain, Nona. Hanya Anda satu-satunya wanita yang saya cintai. Saya sengaja mengatakan akan menikah dengan wanita lain karena ingin membuat kejutan untuk Anda," papar Mike.
Tidak ada sahutan karena Cacha masih berusaha mengumpulkan kepercayaannya. Dia menatap lekat wajah lelaki yang masih berdiri setengah jongkok di depannya. Tatapan mereka bertemu, dan Cacha bisa melihat tatapan penuh cinta dari lelaki itu.
Melihat Cacha yang hanya diam saja, Mike menjadi begitu cemas. Dia khawatir kalau semua yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari menjadi sia-sia karena Cacha menolak pinangannya. Semua yang berada di sana pun, terdiam dengan jantung berdebar menunggu jawaban gadis yang saat ini hanya terdiam.
"Nona, saya tidak akan memaksa Anda untuk menerima pinangan ini karena saya ingin, Anda memberi jawaban sesuai kata hati Anda. Kalaupun Anda menolak, saya tidak apa karena saya sadar diri siapa dan berapa umur—"
"Aku menerima, Mike!" sela Cacha mengejutkan semua orang. Bahkan tubuh Mike rasanya tersiram air es, dan membeku seketika.
"Bisakah Anda mengulangi lagi, Nona?" tanya Mike tidak sabar.
Cacha menghirup napas dalam lalu mengembuskan dengan cepat untuk mengurangi rasa gugupnya. "Aku menerimamu, Mike! Aku mau jadi istrimu!"
Secara refleks, Mike bangkit berdiri dan memeluk tubuh Cacha dengan sangat erat. Seluruh orang yang berada di sana, menangis haru, tetapi sesaat kemudian mereka bersorak kegirangan.
"Terima kasih banyak, Nona. Maafkan saya." Mike melepas pelukannya lalu sedikit membungkuk hormat dengan tangan tertangkup di dada. Beberapa dari mereka tertawa melihat tingkah Mike yang masih bersikap sopan kepada Cacha.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kalian langsungkan ijab kabul." Johan yang barusan sedang memeluk Mila, segera melerai pelukan itu dan mengusap air mata yang berada di sudut ruangan.
Mereka pun sekarang berada di meja tempat ijab kabul berlangsung. Cacha yang duduk di samping Mike, terlihat begitu gugup. Mike pun sama, tangan lelaki itu telah basah karena keringat dingin.
__ADS_1
Di saat suasana haru, Nadira terlihat begitu sedih karena suaminya justru pergi entah ke mana. Dia berusaha menghubungi ponsel suaminya, tetapi tidak bisa terhubung sama sekali. Melihat kegundahan di hati sahabatnya, Ana merangkul lengan Nadira dengan erat untuk memberi kekuatan.
Johan duduk berhadapan dengan Mike dan Cacha, sedangkan di sampingnya ada penghulu dan juga dua orang saksi. Johan menjabat tangan Mike dengan erat untuk melakukan ijab kabul. Bibir lelaki itu tersenyum saat melihat anak buah yang sebentar lagi akan menjadi anak menantunya, sedang terlihat begitu gugup.
"Kamu sudah siap, Mike?" tanya Johan. Mike tidak menjawab, hanya mengangguk perlahan sebagai jawaban.
"Baiklah, silakan dimulai." Penghulu itu memberi perintah.
Johan menghirup napas dalam sebelum mengucapkan kalimat ijab. "Bismillah. Saudara Mike Anderson bin Luis Anderson, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Marisa Saputri binti Johan Saputra dengan maskawin seperangkat alat sholat, perhiasan seberat seratus gram, uang senilai sepuluh milyar, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya, Marisa Saputri binti Johan Saputra dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
Ucapan syukur menggema di ruangan itu. Mereka pun tak kuasa menahan air mata haru. Mila dan Johan saling berpelukan. Kini, ketiga anak mereka sudah mendapatkan jodohnya dan mereka berharap anak-anaknya akan selalu hidup bahagia.
Cacha dan Mike saling berpandangan. Binar bahagia tampak terlihat jelas dari mereka berdua. Cacha mencium punggung tangan Mike yang sekarang sudah sah menjadi suaminya, sedangkan Mike yang hendak mencium kening Cacha terlihat begitu ragu.
"Kamu tidak mencium kening istrimu, Mike?" celetuk Rayhan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Mike terlihat begitu gugup, sedangkan pipi Cacha sudah merona merah.
"Maafkan saya, Nona Muda." Setelah mengucapkan itu, sebuah kecupan sayang mendarat di kening Cacha disusul sorakan dari para tamu undangan yang hadir. Rasa bahagia tergambar jelas dari wajah-wajah mereka yang di sana, tetapi tidak dengan Nadira.
"Ijab kabul sudah selesai, aku mau balik ke kamar dulu, An." Nadira melepaskan rangkulan Ana di lengannya. Dia sudah tak kuat lagi menahan air mata. Nadira bahagia karena akhirnya, cinta Cacha dan Mike bisa bersatu.
__ADS_1
"Masih ada pesta, Nad." Ana masih berusaha menahan gerakan Nadira.
"Aku mau nyari Kak Nathan dulu. Nanti kalau pesta mulai, aku akan ke sini lagi." Tatapan Nadira terlihat begitu memelas. Akhirnya, Ana pun membiarkan Nadira melangkah menuju ke pintu utama. Hati Nadira terasa berdenyut sakit, saat tidak ada satu pun yang menahannya kecuali Ana.
Seharusnya aku tidak egois. Bukankah ini hari bahagia untuk mereka? Daddy, mommy ... Nadira kangen. Sambil melangkah, Nadira mengusap air mata yang perlahan membasahi wajah cantiknya.
Noted :
Kalau ada yang bertanya kok orang tua Mike tidak hadir, di sini saya beri informasi kalau Mike adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggal.
💦💦💦
Hallo, Hai.
Udah pada bosen belum nih? Masih adakah yang nungguin Othor Kalem ini?
Ehh, Othor numpang lewat ye
Ini hari Jum'at 'kan ya? Waktunya sedikit hadiah..
Buat yang belum dapat, jangan lupa terus kencengin dukungan kalian ya gaes
Terima kasih atas kesetiaan kalian selama ini
Untuk akun di bawah ini, silakan colek Othor via DM IG @tathabeo atau inbok FB : Rita Anggraeni (Tatha)
__ADS_1
Selamat siang gaess