
Mobil hitam milik Rendra melaju membelah jalanan kota. Mario yang duduk di kursi kemudi, sedari tadi melirik bos nya dari kaca depan. Wajah Rendra tampak begitu sendu dan Mario tahu apa penyebab pastinya.
"Tuan," panggil Mario. Rendra hanya menyahut dengan dehaman saja. "Anda yakin baik-baik saja?" tanyanya lagi.
"Menurut kamu, melihat orang yang kita cintai sudah menjadi milik orang lain dan tidak mungkin bisa kita miliki lagi. Apakah semua masih tetap baik-baik saja?" Rendra justru bertanya balik diiringi helaan napas panjang.
"Saya tahu semua tidak baik-baik saja, Tuan. Anda hanya harus perlu bersabar dan berusaha mengikhlaskan, Tuan." Mario memberi nasihat. Rendra hanya mengiyakan.
"Mar, apa menurutmu lebih baik aku menerima perjodohanku dengan Anisa?" tanya Rendra ragu.
"Kalau Anda belum yakin, lebih baik jangan disanggupi, Tuan. Ini perkara hati. Walau kedua orang tua Anda sekarang hidup bahagia karena dijodohkan, tapi Anda jangan lupa kalau setiap manusia memiliki kisah hidupnya masing-masing," tutur Mario panjang lebar.
"Mar, apa kamu pernah jatuh cinta dan terluka? Aku lihat kamu tidak pernah dekat dengan wanita mana pun?" tanya Rendra penasaran.
Mario menghela napas panjangnya. "Saya pernah jatuh cinta dan terluka dalam waktu bersamaan, Tuan. Maka dari itu sampai saat ini saya masih ragu untuk kembali jatuh cinta." Suara Mario terdengar begitu berat. Rendra yakin kalau asistennya itu pernah mengalami masa yang pahit.
"Apa cintamu bertepuk sebelah tangan?" tanya Rendra lagi.
"Bisa iya, bisa tidak, Tuan."
"Kenapa begitu?" sela Rendra. Baru kali ini Mario bicara sepanjang ini dengan dirinya dan itu mampu membuat Rendra menjadi begitu penasaran.
"Karena sahabat saya menikung dari belakang dan mengajak gadis yang saya cintai itu pergi." Mario memejamkan matanya sesaat saat merasakan sebuah perasaan sakit mengalir seiring aliran darahnya hingga membuat seluruh sarafnya terasa lumpuh.
"Kamu yang sabar, Mar. Aku yakin pasti ada kebahagiaan yang akan datang padamu, begitu juga padaku." Rendra berusaha berlapang dada meskipun dalam hati dia tidak rela jika Nadira menjadi milik orang lain.
__ADS_1
Suasana di mobil pun kembali hening. Mario kembali fokus pada kemudinya sedangkan Rendra memejamkan mata dan berusaha menguatkan hatinya.
***
Di sebuah ruangan, Nadira masih terlelap tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius dari sarung tangan anak buah Mike. Dua orang MUA yang sudah terkenal, saat ini sedang merias wajah cantik Nadira dan gadis itu sama sekali tidak terganggu.
"Nadira tidur?" tanya Cacha yang baru saja sampai.
"Dia tidak tidur, tapi dibius anak buah saya, Nona Muda." Mike yang berdiri di belakang Cacha menjawab pertanyaan gadis itu.
"Apa?!" pekik Cacha tak percaya. "Kenapa begitu?" tanyanya.
"Agar Nona Muda tidak meronta dan kejutan kalian berhasil," sahut Mike dengan tenang.
"Anda tenang saja, Nona. Karena saya yakin sebentar lagi Nona Muda akan sadar," kata Mike. Cacha pun hanya diam. Dia duduk di samping Nadira yang sudah dirias dengan sangat cantik. Persis seperti putri tidur di dalam cerita dongeng.
Hampir sepuluh menit berlalu, senyum Cacha mengembang saat melihat kelopak mata Nadira yang bergerak-gerak. Nadira hendak mengucek matanya, tapi Cacha langsung menahannya.
"Jangan, Nad. Aku tidak mau riasanmu rusak." Nadira menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Cacha. Dia terdiam dan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.
Nadira langsung beranjak bangun saat mengingat dia dibius ketika masih di dalam mobil. "Cha! Aku diculik!" pekik Nadira panik, tapi kemudian dia kembali terdiam saat melihat Cacha yang menahan tawanya.
"Kalau aku diculik, kenapa ada kamu di sini?" tanya Nadira heran.
"Sudahlah jangan dipikirkan, lebih baik sekarang kamu ganti gaun pengantin," perintah Cacha, membuat keheranan Nadira semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Maksud kamu, gaun pengantin gimana?" tanya Nadira.
"Lihatlah." Cacha mengajak Nadira bangun dan berdiri di depan cermin. Kedua bola mata Nadira melebar sempurna saat melihat wajahnya sudah dirias dengan sangat cantik. Bahkan, dirinya sampai pangling dan tidak menyangka kalau akan menjadi seperti seorang putri.
"Cha," panggil Nadira. Wajahnya terlihat begitu memohon penjelasan kepada sahabatnya.
"Jadi gini, kamu akan dinikahkan dengan rekan kerja Kak Al. Bukankah kamu akan berpisah dengan Kak Nathan?" tanya Cacha.
"Aku tidak akan berpisah dengan Kak Nathan," ucap Nadira tegas.
"Tapi waktu itu kamu bilang ingin berpisah dengan Kak Nathan dan ayah sudah menyanggupi. Jadi, kamu akan dinikahkan dengan orang yang sudah pasti bisa menjagamu dengan baik," jelas Cacha. Mata Nadira terlihat begitu basah.
"Cha, aku tidak mau pisah dengan Kak Nathan," rengek Nadira, menggoyangkan lengan Cacha dengan kasar.
"Jangan menangis. Nanti make up mu luntur. Mempelai pria sebentar lagi sampai dan acara akan dimulai." Cacha memegang kedua bahu sahabatnya.
"Cha, bagaimana dengan Kak Nathan?" tanya Nadira lesu.
"Kamu tenang saja. Ayah sudah menyembunyikan Kak Nathan jadi tidak akan ada yang akan menganggu acaramu. Lebih baik sekarang kamu ganti gaun dan aku akan membantumu," kata Cacha dengan tenang. Dia tidak peduli pada Nadira yang hendak menangis.
"Cha." Suara Nadira terdengar begitu lirih bahkan nyaris tak terdengar.
"Nad, percayalah semua demi kebaikan dan kebahagiaanmu. Kamu harus nurut, kalau tidak maka ayah dan Kak Al akan menggantungku di Monas." Cacha berusaha menakut-nakuti. Dalam hati dia tertawa dengan sangat puas. Nadira pun mau tidak mau akhirnya menurut untuk berganti gaun pengantin.
Anda benar-benar seperti rubah betina, Nona Muda. Memang keturunan Tuan Johan tidak pernah mengecewakan. Batin Mike. Dia menatap Cacha dengan lekat sebelum pergi dari ruangan itu.
__ADS_1