
Sebuah ruangan dengan dekorasi pesta yang sangat mewah. Dengan sebuah panggung yang di mana terdapat singgasana untuk kedua mempelai. Berbagai hidangan makanan telah tersaji, bahkan banyak tamu undangan yang sudah hadir di sana.
Kedatangan keluarga Saputra disambut hangat oleh keluarga Bastian. Bahkan mereka menjadi tamu VIP. Beruntung, tidak ada satu pun yang tahu kalau Bastian dan Johan gagal menjadi besan.
Wajah Cacha terlihat begitu sedih. Entah mengapa, hatinya mendadak sakit saat melihat dekorasi pesta yang begitu mewah. Padahal satu minggu sebelumnya, lelaki yang sekarang menjadi mempelai pria, mendatangi rumahnya dan hendak melamarnya.
Suara gending terdengar bertalu-talu saat mempelai pria datang dan menuju ke panggung. Cacha menatap Rendra yang sudah duduk di tempat akad akan berlangsung. Lelaki itu terlihat begitu tampan dengan memakai tuxedo lengkap.
Yang semakin membuat Cacha hendak menangis adalah bayangan kelak ketika melihat Mike berada dalam posisi Rendra, sanggupkah dia melihatnya?
Anisa datang bersama kedua orang tuanya. Gadis itu terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin dan make up yang tidak terlalu tebal, tapi membuat aura kecantikan gadis itu makin terpancar. Bibir Anisa memang tersenyum, tetapi senyum yang terlihat begitu dipaksa.
Rendra menjabat erat tangan Herman—ayah Anisa. Rendra begitu gugup bahkan keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha mengumpulkan konsentrasinya karena pandangan Rendra saat ini teralihkan pada Cacha dan Nadira yang kebetulan duduk di depan.
"Nak Rendra sudah siap?" tanya Herman kepada calon anak menantunya. Karena Anisa merupakan anak semata wayang maka Herman akan menikahkan sendiri putrinya itu, tentu saja masih dengan mendatangkan penghulu.
Rendra terdiam sesaat, menghela napas panjang sebelum akhirnya dia mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, acara ijab kabul akan saya mulai." Herman menghirup napas dalam sembari menatap wajah putrinya yang sebentar lagi tanggung jawabnya akan berpindah pada suami yang sekarang sedang dia jabat tangannya.
"Bismillah. Saudara Viano Narendra Alfareza bin Sebastian Alfareza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Anisa Maharani binti Herman dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima milyar serta perhiasan seberat lima puluh gram dibayar tunai!"
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya ...." Rendra terdiam sesaat karena dirinya hampir saja menyebut nama Nadira.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Maharani binti Herman dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah!"
Cacha mengusap air mata saat kata sah menggema di ruangan itu, berbeda dengan Nathan yang tersenyum bahagia saat mendengarnya. Dengan mesra, Nathan merangkul pundak istrinya dan mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu.
"Kamu sakit hati?" tanya Nathan menggoda.
"Aku kira kamu bakal nangis-nangis," ledek Nathan diiringi gelakan tawa.
"Nat, diamlah!" suruh Mila. Ekor matanya memberi kode ke arah Nathan untuk melihat adiknya yang sudah terlihat sangat sedih.
Nathan pun terdiam dan kembali menyaksikan acara itu. Berbagai acara adat dilakukan, bahkan sampai membuat mereka lelah karena duduk terlalu lama.
Setelah selesai acara, Rendra bersama kedua orang tuanya segera turun dari panggung, dengan Anisa yang menggandeng tangannya. Mereka berjalan mendekati meja tempat keluarga Saputra berkumpul.
__ADS_1
"Selamat datang, maaf saya baru bisa datang menemui kalian." Rendra sedikit membungkuk hormat diikuti Anisa. Ekor mata lelaki itu melirik Cacha yang sedang memalingkan wajahnya.
"Tidak apa. Saya tahu bagaimana sibuknya menjadi seorang pengantin. Terima kasih sudah mengundang keluarga saya untuk datang, Tuan." Johan bicara dengan santai.
"Sama-sama, Tuan. Saya sangat minta maaf atas kejadian minggu lalu." Bastian bicara dengan tidak enak hati. Namun, Johan dan Mila justru menunjukkan senyum termanis yang mereka punya.
"Nis, bolehkah aku sedikit berbicara dengan Cacha?" pinta Rendra dengan memohon.
Anisa mengangguk lalu menurunkan tangannya dan dia pun tersenyum ke arah Cacha yang terlihat lesu.
"Mas, kamu 'kan sibuk menerima tamu. Lebih baik kamu kembali ke panggung saja," suruh Cacha, dia berusaha menolak ajakan Rendra.
"Ada hal penting yang akan aku bicarakan denganmu, Cha." Kali ini, Rendra memegang tangan Cacha. Walau gadis itu berusaha menepis, tetapi Rendra semakin menggenggam erat.
"Aku mohon." Suara Rendra terdengar pelan dan sorot matanya terlihat begitu memohon.
"Baiklah. Jangan lebih dari sepuluh menit dan lepaskan tanganmu!" perintah Cacha dengan suara datar.
Rendra pun segera melepas genggaman tangannya dan membiarkan Cacha berjalan terlebih dahulu.
"Mar! Kamu jaga istriku! Aku pergi sebentar!" perintah Rendra tegas kepada Mario, sebelum akhirnya lelaki itu berjalan cepat menyusul Cacha.
__ADS_1
Anisa hanya melihat kepergian suaminya dengan nanar, dia memang terluka, tetapi dia berusaha tetap tenang dan berpikir positif kalau suaminya hanya ingin menyelesaikan masalahnya.