Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
287


__ADS_3

Perusahaan Alexander cabang Bandung.


Febian duduk bersandar, tangannya mengetuk meja dengan pulpen. Pikirannya menerawang jauh, Leona yang melihat itu pun menjadi terheran-heran.


"Kak Bi, durasinya kurang lamakah? Kenapa malah jadi bengong gitu?" tanya Leona asal. Febian menoleh, dan menatap kesal kepada sepupunya.


"Kenapa mulutmu sangat menyebalkan sekali?" cibir Febian. Leona tidak menjawab, hanya mendengus kasar.


"Kak Bi sensitif banget, sih." Leona merapikan berkas-berkas di meja karena setengah jam lagi jam pulang kantor.


"Le, bantu aku siapkan pesta pernikahan untuk Ara." Ucapan Febian membuat gerakan tangan Leona terhenti seketika. Wanita itu menatap sepupunya dengan sangat lekat.


"Kak Bi mau mengadakan pesta pernikahan? Bukankah Kak Bi bilang pesta akan digelar tiga bulan setelah ijab kabul, dan pernikahan kalian baru akan berjalan satu bulan."


"Itu hanya rencana. Aku ingin semua orang tahu kalau Ara adalah istriku. Sudah menjadi bagian dari keluarga Alexander, jadi tidak akan ada lagi yang mengusiknya," ucap Febian tegas. Leona tersenyum lebar saat mendengarnya.


"Baiklah. Aku akan bantu siapkan semuanya. Kapan pestanya akan digelar?" tanya Leona tidak sabar.


"Besok Minggu," sahut Febian.

__ADS_1


"Apa?" Leona tercengang lalu bangkit berdiri. "Kak Bi yang benar saja. Sekarang hari Kamis, mana bisa siapin pesta mewah dalam waktu tiga hari!" Leona kembali mendudukkan tubuhnya secara kasar. Bibir wanita itu mengerucut saat melihat Febian yang justru terkekeh.


"Kamu jangan bodoh, Le!" ledek Febian. Mendengar ucapan Febian, Leona menjadi bersungut-sungut.


"Jangan mengataiku bodoh, Kak!" Wajah Leona tampak kesal, tetapi Febian justru tergelak keras.


"Kita bisa kerahkan semua keluarga kita untuk menyiapkan pesta itu. Kak Al dan Nadira pasti bisa bertindak cepat apalagi Uncle Jo dan Mike. Mereka paling bisa diandalkan. Memangnya kamu, cuma bisa ngerocos mulu." Leona bangkit berdiri dan berkacak pinggang saat mendengar ledekan sepupunya. Dia mendekati meja Febian, sedangkan Febian masih saja duduk tenang di kursinya.


"Kak—"


"Kamu sudah datang, Bar?" Pertanyaan Febian menghentikan Leona yang hendak mengomel. Wanita itu berbalik dan terkejut saat melihat suaminya baru saja masuk ke ruangan.


"Sayang, kamu bisa membunuhku." Bara berusaha melepaskan rangkulan tangan Leona yang terasa mencekik leher sakit eratnya.


"Aku senang sekali akhirnya kamu datang, Mas." Leona bergelayut manja, sedangkan Febian menghela napas panjangnya.


"Bar, kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Febian.


"Sudah, Kak. Tinggal nyoba gaun pengantin aja. Setelahnya semua beres," sahut Bara antusias. Leona berdiri tegak, lalu menatap Bara dan Febian bergantian.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu sudah siapin semuanya, Mas?" tanya Leona memastikan. Bara hanya menanggapi dengan anggukan cepat.


"Kalau semua sudah disiapkan kenapa Kak Bi minta aku buat bantuin—"


"Tugas kamu adalah menemani Ara supaya mau mencoba gaun pengantinnya. Aku ingin gaun itu bisa pas di tubuh Ara," sela Febian. Leona mendengkus kasar.


"Baiklah, Mr.Bucin." Leona hanya mengiyakan saja karena dia sudah terlalu lelah untuk terus berdebat.


***


Singapura


"Neng, jangan marah ya." Mike berjongkok di depan Cacha untuk menyejajarkan posisi mereka. Cacha memalingkan wajah karena masih merasa sangat kesal.


"Neng, kasihan anak kita." Mike mencium perut Cacha yang sudah mulai terlihat membuncit.


"Tapi, Mike. Aku ingin melihat pesta pernikahan Bi." Cacha merengek bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Neng, kita baru pulang ke Indonesia belum lama. Aku tidak mau kalian kenapa-napa kalau terlalu sering melakukan perjalanan jauh." Mike masih berusaha memberi pengertian. Cacha menyingkirkan tubuh suaminya lalu berjalan menghentak menuju ke kamar. Mike pun segera bangkit dan menyusul istirnya yang sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2