Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
17


__ADS_3

Nathan dan Nadira baru saja memasuki kamar yang sangat luas dengan satu buah ranjang king size berbalut sprei warna biru tosca. Nadira sedikit tercengang saat melihat ruangan itu hampir penuh dengan warna biru tosca. Yang tidak lain adalah warna kesukaannya. Nathan menatap Nadira yang masih berdiri terpaku tidak jauh dari tempat tidur itu.


"Anda tidak mandi, Nona Muda?" tanya Nathan mengagetkan Nadira.


"Tentu saja mandi, Kak. Kalau begitu aku mandi dulu," pamit Nadira. Dia mengambil handuk lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Sementara Nathan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Hembusan napas kasar terdengar berkali-kali memecah keheningan di kamar itu.


Hampir setengah jam berlalu, Nadira baru saja selesai mandi. Dia tidak menyadari jika Nathan masih berada di kamar itu dan sedang tiduran di sofa. Karena posisi sofa yang membelakangi kamar mandi.


Tubuh Nadira hanya terbalut handuk dari dada sampai atas lututnya. Memamerkan kulit putih mulusnya yang begitu membangkitkan gairah. Nathan yang melihat pemandangan itu, harus susah payah menahan saliva nya saat merasakan ada sesuatu yang terasa mendesak di pusat tubuhnya. Saat melihat Nadira yang akan berbalik, Nathan segera menutup rapat matanya dan berpura-pura tertidur lelap.


Nadira terlonjak saat menyadari keberadaan Nathan, tapi kemudian dia bernapas lega saat melihat Nathan yang tertidur lelap. "Uhh ... untung Kak Nathan tidur. Kenapa aku bodoh sekali?" gerutu Nadira. Dia berjalan menuju ke ruang ganti sambil mengusap dadanya lega.


Ya Tuhan, kuatkan imanku. Nathan membatin. Bayangan tubuh Nadira benar-benar mengganggu tidurnya. Dia segera bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus otaknya yang mulai tercemar.


Sementara Nadira yang masih di ruang ganti, begitu tercengang saat melihat banyaknya pakaian yang pas dengan ukuran tubuhnya. Mulai dari pakaian santai, piyama tidur bahkan baju kantor. Nadira menggeleng tidak percaya dan dia yakin semua ini pasti sudah disiapkan jauh-jauh hari. Gadis itu jadi teringat ucapan Arum yang mengatakan rumah ini sudah ada sejak dua bulan lalu. Mungkinkah sebenarnya Nathan sudah mempersiapkan ini untuk dirinya?

__ADS_1


Gadis itu mengambil piyama berlengan panjang, setelah memakainya, dia langsung keluar dari ruangan itu. Nadira merasa heran saat tidak melihat keberadaan Nathan sama sekali. Dia berjalan mendekati pintu kamar mandi dan mendengar suara gemericik air dari dalam sana.


"Kenapa Anda di sini, Nona Muda?" Nadira terlonjak kaget saat tidak menyadari Nathan yang keluar dari kamar mandi.


"Astaga, Kak Nathan! Bisakah Kakak membuka pintu sambil bersuara?" protes Nadira sambil memasang wajah cemberut.


"Memang kenapa? Apa Anda akan ke kamar mandi lagi?" tanya Nathan dengan nada datar. Bahkan tidak ada sedikit pun senyum di wajah lelaki itu.


"Tidak, aku hanya heran saja. Barusan Kak Nathan masih di sofa, tapi kenapa sekarang sudah selesai mandi?" Alis Nadira terlihat saling bertautan. Nathan tidak menjawab, dia berjalan melewati Nadira begitu saja.


Dengan langkah lebar Nadira mengikuti Nathan yang berjalan mendekati tempat tidur. Nadira terdiam saat melihat Nathan naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atas sana.


"Nona Muda, di sini hanya ada satu tempat tidur. Jadi mau tidak mau kita harus tidur bersama. Jangankan tidur bersama, bahkan jika saya meminta hak sebagai suami pun sah-sah saja." Nathan menjadikan kedua lengannya sebagai bantal. Dia tersenyum miring saat melihat wajah Nadira yang terlihat begitu gugup.


"Kak ... apa kita akan melakukan itu sekarang?" Suara Nadira terdengar begitu lirih.

__ADS_1


"Tentu saja." Nadira menatap lekat ke arah Nathan yang masih tersenyum miring. "Saya bercanda, Nona Muda. Bukankah Anda tahu kalau saya tidak bersentuhan dengan sembarang wanita?"


Mendengar ucapan Nathan yang seolah meledeknya membuat hati Nadira merasa begitu sakit. Jemari gadis itu saling meremas. Bahkan kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca. Tanpa membuka suara, Nadira segera mengambil bantal dan berjalan menuju ke sofa. Dia lebih memilih tidur di sofa.


"Anda mau ke mana, Nona Muda?" Nathan menatap gerak-gerik Nadira yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Tentu saja tidur." Nadira menjawab dengan sangat ketus.


"Kenapa Anda tidur di sofa? Apakah kasur ini kurang lebar untuk kita?" tanya Nathan tak kalah ketus.


"Aku takut menyentuh Kak Nathan tanpa sadar. Bukankah Kak Nathan tidak bersentuhan dengan sembarang wanita?" sindir Nadira. Padahal saat ijab kabul, jelas-jelas dia menggenggam tanganku dengan sangat erat. Nadira menggerutu dalam hati.


"Silakan tidur di sofa, Nona Muda. Jangan berteriak kalau nanti ada kecoak yang merambati tubuh Anda." Nadira langsung beranjak bangun saat mendengar ucapan Nathan.


"Kak Nathan yang benar saja! Mana ada kecoak di rumah semewah ini," bantah Nadira. Dia menatap ke arah Nathan yang masih tenang di posisinya.

__ADS_1


"Tentu saja ada. Barusan saya bangun karena ada kecoak yang jalan-jalan di tubuh saya," Nathan berusaha keras menahan tawanya. "Saya sudah menyuruh Mang Ujang untuk membuang sofa itu karena sudah menjadi sarang kecoak di bawahnya," imbuhnya.


Nadira segera turun dari sofa dan berjalan cepat menuju ke kasur. Dia merebahkan tubuhnya di samping Nathan. Namun, tak lupa Nadira menaruh dua guling sebagai pembatas.


__ADS_2