
Di sebuah caffe ternama, dua manusia sedang duduk dengan berhadapan ditemani dua cangkir coffelatte di depan mereka. Tidak ada yang bersuara, mereka masih sama-sama membisu dengan pikiran yang berbeda. Sampai akhirnya, suara dering ponsel terdengar memecah keheningan di sana.
Cacha segera merogoh saku dalam jaket yang dikenakan, alisnya terlihat menaut saat melihat nama kakaknya tertera di layar. Namun, belum juga icon hijau tertekan, panggilan itu sudah terputus begitu saja disusul sebuah pesan masuk.
Aku mau lepas landas, Cha. Jangan bilang Nadira karena ini kejutan untuknya.
Cacha menaruh ponsel di atas meja diiringi helaan napas panjang. Jujur, gadis itu merasa iri dengan Nadira. Ulang tahun dirinya dengan Nadira itu sama, semuanya sama.
Kakaknya sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Nadira, sedangkan dirinya? Bahkan tidak ada sedikit pun yang mengingatnya. Yang ada, dirinya akan mendapat sebuah kenyataan yang menyakitkan, yaitu pernikahan Mike.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Mike, menyadarkan Cacha dari lamunannya.
"A-aku baik-baik saja." Cacha menunjukkan senyum terpaksa.
"Minumlah kopi Anda, Nona. Supaya pikiran Anda sedikit lebih tenang."
__ADS_1
Seolah terhipnotis, Cacha mengikuti apa yang diucapkan Mike. Dia menyeruput kopi itu dengan gaya anggunnya. Cacha kembali meletakkan cangkir di atas meja saat isinya tinggal setengah.
"Apa calon istrimu tidak marah kamu berdua denganku, Mike?" tanya Cacha. Suara gadis itu nyaris tidak terdengar sama sekali, tetapi masih bisa didengar baik oleh Mike.
"Tidak, Nona. Dia bukan orang pemarah, dan justru sangat baik hati. Bisa bersikap dewasa," ucap Mike dengan sangat antusias.
Wajah Cacha mendadak masam. Entah mengapa, mendengar ucapan Mike tadi, membuat hati Cacha terasa berdenyut sakit. Bibir Mike terlihat tersenyum manis hingga membuat seorang Cacha begitu terpikat karena selama ini dirinya belum pernah melihat senyuman Mike yang semanis itu.
"Pasti kamu sangat mencintainya, Mike." Pertanyaan dengan diiringi helaan napas panjang, berhasil keluar dari bibir Cacha.
"Beruntung sekali wanita itu," gumam Cacha. Namun, Mike masih bisa mendengarnya. Bibir lelaki itu semakin mengembang sempurna, berbeda dengan wajah Cacha yang terlihat begitu muram.
"Bukan dia yang beruntung, Nona. Tapi saya yang beruntung karena bisa mengenal wanita seperti dia. Bahkan saya diperkenankan untuk mencintainya." Binar bahagia terlihat memenuhi seluruh wajah Mike Anderson.
"Selamat ya, Mike. Semoga lancar dan langgeng." Cacha berusaha tetap terlihat tenang padahal batin gadis itu sedang bergejolak hebat. Mike tidak lagi menjawab, hanya mengangguk perlahan sebagai tanggapan.
__ADS_1
Setelah secangkir coffelatte sudah sama-sama tandas, Mike mengantar Cacha kembali pulang ke hotel. Namun, sebelum sampai hotel, Mike menghentikan mobilnya di depan sebuah butik ternama. Cacha pun hanya mengikut masuk karena Mike memaksa. Kening Cacha terlihat mengerut saat Mike menyuruhnya untuk mencoba gaun pengantin yang akan dikenakan mempelai wanita besok pagi.
"Kenapa harus aku, Mike?" tanya Cacha dengan heran. Dia menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Gaun itu terlihat begitu pas di tubuhnya.
"Karena calon istri saya tidak mau mencobanya, Nona. Katanya malu. Kebetulan postur tubuhnya hampir sama seperti Anda. Maaf kalau merepotkan Anda, Nona." Mike sedikit membungkuk hormat.
"Tidak apa, Mike. Kamu tenang saja." Cacha tersenyum kaku. Hatinya semakin merasa sedih, apalagi saat dia melihat tampilan wajahnya di depan cermin. Gaun putih tulang yang melekat di tubuh, justru menjadi luka untuknya. Karena dia hanya mencoba saja, sedangkan yang akan resmi memakai gaun itu, bukanlah dirinya.
"Ini sudah 'kan, Mike? Setelah ini, antar aku pulang ke hotel." Cacha berjalan menuju ke ruang ganti setelah Mike mengiyakan.
Seusai mengganti kembali pakaiannya, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke hotel tempat keluarga Saputra menginap. Selama mobil itu melaju membelah jalanan yang tampak lengang, Cacha hanya membisu. Pikiran gadis itu berkecamuk saat ini. Apalagi saat teringat kalau besok dirinya harus bersiap menerima kenyataan Mike sudah meminang wanita lain.
Setelah hampir lima belas menit menempuh perjalanan, kini mobil yang dikendarai Mike berhenti di depan hotel tempat Cacha menginap. Setelah mobil benar-benar berhenti, Cacha segera turun dan berpamitan kembali ke kamar.
"Selamat malam, Nona. Semoga mimpi indah," ucap Mike sebelum Cacha melangkah pergi. Cacha tidak menyahut, hanya mengangguk sebagai tanggapannya. Setelah memastikan Cacha benar-benar menghilang dari pandangan, Mike melajukan kembali mobilnya menuju ke tempat ia menginap, yang berada dekat dengan tempat acara pernikahannya.
__ADS_1