
Nathan melongo mendengar permintaan wanita itu, sedangkan Nadira justru melipat bibir menahan tawa apalagi saat melihat wanita itu mengibaskan rambutnya dengan gaya 'sok' anggun. Nathan menoleh ke arah istrinya dengan raut wajah menelas, tetapi Nadira justru mengangguk mengiyakan.
"Tapi setelah ini kita boleh beli rambutannya kan, Mbak?" tanya Nadira. Wanita itu mengangguk dengan cepat.
Nadira segera menyuruh Nathan untuk berdiri di samping wanita itu, sedangkan dirinya yang akan mengambilkan gambarnya. Sembari menatap layar ponsel, Nadira terlihat menahan tawa saat melihat wanita itu bertingkah centil dengan menggandeng tangan Nathan, sedangkan wajah Nathan terlihat begitu memelas.
"Udah, Beb!" Nathan setengah berteriak karena sedari tadi Nadira tidak selesai-selesai memfoto.
"Makasih ya, Babang Tampan." Wanita itu hendak mencium pipi Nathan, tetapi secepat kilat Nathan berjalan menjauh. "Ihh, kok gitu sih. Padahal aku pengen nyium kamu." Wanita itu menghentakkan kaki dengan wajah kesal.
"Maaf, Mbak. Saya tidak suka dicium ikan lohan." Nathan menjawab santai. Lelaki itu meringis saat Nadira mencubit pinggangnya.
"Aku ini bukan ikan lohan, tapi ikan ******!" sanggah wanita itu. Nathan kembali melongo, sedangkan Nadira tergelak keras. "Sana petik aja sendiri. Aku ngambek." Wanita itu berjalan masuk ke rumah.
"Beb, gimana?" tanya Nathan bingung.
"Petik aja. Kan tadi udah diizinin," jawab Nadira. Nathan menjadi bimbang, tetapi melihat anggukan istrinya. Dia pun segera mendekati pohon rambutan itu.
Nathan mendongak dan sedikit merinding saat melihat pohon yang menjulang tinggi di depannya. Dia bergidik saat membayangkan jatuh dari pohon itu, lumayan lah untuk membuat pantatnya sakit. Namun, demi si buah hati, Nathan pun memanjat pohon itu dan Nadira menyemangati dari bawah.
"Ayo, Mas!" teriak Nadira saat Nathan kesusahan naik pohon tersebut. Baru sampai di tengah batang, terdengar suara teriakan dari dalam rumah. Namun, kali ini suara laki-laki yang terdengar.
"Heh! Kamu mau maling ya!" bentaknya. Nathan hampir saja terjatuh kalau tidak memeluk pohon itu dengan erat. Dia menoleh dan sangat terkejut saat melihat lelaki yang masih terus meneriakinya. Sampai tanpa sadar, pelukan itu terlepas dan tubuh Nathan mendarat bebas di atas tanah.
"Astaga, pantatku sakit sekali." Nathan mengaduh. Nadira pun berjalan cepat mendekati suaminya untuk menolong.
"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Nadira khawatir.
__ADS_1
"Sakit, Beb." Nathan merengek.
"Halah! Laki-laki kaya gitu kok nangis. Enggak malu sama badan kekarmu itu?" ledek lelaki tadi.
Nathan mengumpat dalam hati. "Bapak sih, pakai teriak maling segala," cebik Nathan. Dia membersihkan celananya yang kotor.
"Lah, kamu manjat pohon orang sembarangan. Kalau saja aku tidak lihat ada bidadari cantik yang nunggu di bawah, sudah pasti aku arak kamu keliling kampung," ujar lelaki gemuk berkumis tebal itu.
"Aku kan udah izin sama istri Bapak tadi. Yang cantiknya luar biasa." Nathan menimpali.
"Tapi istriku bilangnya ada maling rambutan di depan," jawab lelaki itu.
Nathan hendak menjawab, tetapi Nadira menahan supaya tidak semakin terjadi perdebatan. Nadira pun mengatakan maksud kedatangannya, kalau dirinya sedang ngidam rambutan. Lelaki itu pun menawarkan diri, tetapi Nadira menolak dan tetap menginginkan Nathan yang memetik langsung untuknya. Akhirnya, dengan terpaksa dan susah payah, Nathan kembali naik ke pohon itu meski beberapa kali harus berhenti karena takut terjatuh.
"Beb, kalau cuma mau pegang rambut pendek keriting gitu aku juga punya," ucap Nathan yang saat ini sedang mengendarai mobilnya kembali.
"Ada, Beb. Rambutnya si Othong 'kan gitu. Kamu mau megang sepuasnya aku izinin, Beb. Enggak usah susah manjat, nanti aku aja yang manjat gunung," jawab Nathan santai. Nadira mendengkus kesal saat mendengarnya.
"Kenapa kamu mesum sekali, sih, Mas!" omel Nadira, tetapi Nathan hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya.
Mobil milik Nathan berhenti di pelataran rumah Alvino, dengan bergegas Nadira keluar dan berjalan masuk tanpa menunggu suaminya. Nathan pun segera menyusulnya. Ketika sampai di dalam, mereka melihat Alvino dan Rania sedang berada di ruang santai dengan Baby Jin dan Jun yang sedang tengkurap.
"Hai, Baby Jin dan Jun. Onty datang." Nadira menaruh rambutan secara sembarangan lalu menggendong Baby Jun, sedangkan Baby Jin langsung menangis keras saat melihat Nathan yang sedang berjalan masuk.
"Astaga, lihat tuh. Ada papi mesum langsung nangis." Alvino menggeleng berkali-kali. Nathan pun mengangkat Baby Jin dan menggendongnya. Tangisan bayi itu reda seketika, berganti dengan tawa yang membuat Nathan menjadi sangat gemas dan menghujami bayi gembul itu banyak ciuman di seluruh wajah.
"Kalian dari mana?" tanya Rania.
__ADS_1
"Dari rumah dan emang sengaja mau ke sini." Nadira menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba terdengar suara pekikan dari arah belakang yang berhasil mengejutkan mereka. Ana masuk dengan langkah lebar dan bersorak saat melihat Nathan seperti melihat artis idolanya. Kenan pun mengejar di belakang.
"Beruntung sekali aku bisa ketemu Kak Nathan di sini." Ana bertepuk tangan karena terlalu senang.
"Memangnya kenapa?" tanya Nathan heran. Sementara Kenan hanya mengusap dada karena semenjak hamil, istrinya menjadi sangat berbeda.
"Kakak ini idola aku sekarang." Senyum di bibir Ana tidak memudar sedikit pun. Ana mengusap perutnya yang sudah membuncit, lebih besar daripada Nadira. Selain usia kehamilan Ana, juga jumlah bayi yang saat ini sedang dikandung wanita itu yang membuat perutnya terlihat membuncit.
"Ken, istrimu ternyata sangat mengidolakan aku," ucap Nathan dengan membusungkan dada. Kenan dan Alvino mencebik, sedangkan yang lain hanya tersenyum lebar.
"An, kenapa sih kamu mengidolakan kaleng rombeng ini. Apa coba yang mau diidolakan dari manusia mesum kaya dia," cibir Alvino.
"Justru itu, Al. Semenjak Kak Nathan sering berbicara gaya bercinta, aku jadi suka bercinta dengan berbagai macam gaya padahal dulu aku hanya pasrah di bawah. Sekarang gerakanku enggak monoton," celoteh Ana. Gaya bicaranya seperti kesaksian obat herbal yang tersiar di radio. Mereka melongo mendengar jawaban Ana kecuali Kenan yang saat ini mengusap wajahnya kasar.
"Apalagi gaya Anjing Kawin kebanggaan Kak Nathan. Aku suka banget." Ana kembali bersorak.
"Nad, amit-amit loh!" Rania mengingatkan. Nadira pun segera mengusap perutnya, sedangkan Nathan justru tergelak keras.
"Kamu tahu gaya anjing kawin?" tanya Nathan. Ana mengangguk dengan cepat.
"Anjing kawin! Anjing kawin! Memang gaya anjing kawin kaya apa sih? Kenapa kalian begitu membanggakan gaya itu." Alvino benar-benar merasa begitu penasaran.
"Kepo banget kamu, Al." Nathan meledek, dan kembali menciumi wajah Baby Jin.
"Iya, bilang aja kamu pengen nyobain, Al," imbuh Ana yang sekarang menjadi satu spesies dengan kaleng rombeng
__ADS_1