
Febian melangkah cepat mengambil selimut di kamar lalu menutupkan ke tubuh Jasmin yang saat ini masih terus menangis. Dia berjongkok di depan Jasmin dan menggenggam erat tangan gadis yang sangat dia cintai. Rasa sesal benar-benar Febian rasakan atas perbuatan kalap yang tidak dia sadari.
"Sayang, maafkan aku." Suara Febian terdengar parau karena menahan air mata. Jasmin tidak menjawab, hanya memalingkan wajah karena dia sudah terlanjur sakit karena perbuatan kekasihnya.
"Pergilah, Bi!" usir Jasmin, tetapi Febian tetap berada dalam posisinya.
"Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini." Febian bersikukuh, tetapi Jasmin justru menatapnya penuh benci.
"Bi, kenapa kamu harus berhenti! seharusnya kamu lakukan apa yang kamu inginkan tadi! percuma aku hidup seperti ini!"
"Jas, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal sudah bertindak jahat seperti tadi. Aku janji akan menebus semuanya. Aku akan menemui orang tuamu."
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Febian bahkan sampai sudut bibir lelaki itu mengeluarkan darah. Febian tidak marah, hanya mengusap darah yang terasa getir saat tanpa sengaja dia tidak menelannya.
"Lebih baik sekarang kamu pergi dan jangan pernah kamu temui aku lagi! Aku tidak mau kenal atau menjalin hubungan dengan orang yang suka ingkar janji sepertimu! Pergi!" Suara Jasmin melengking di ruangan itu, Febian tidak sedikit pun beranjak. Dia hendak memeluk Jasmin, tetapi gadis itu justru meronta dan berlari ke dapur untuk mengambil pisau.
"Jangan berbuat macam-macam, Jas!" bentak Febian. Dia merasa sangat khawatir saat melihat Jasmin mengarahkan pisau tepat di lehernya.
"Pergi dari sini! Pergi! Aku tidak mau mengenalmu lagi!" usir Jasmin. Derai air mata terlihat memenuhi seluruh wajah gadis itu.
"Baik aku pergi sekarang. Tapi kamu harus janji tidak akan berbuat macam-macam. Biar Leona menemanimu di sini." Dengan tubuh gemetar Febian menghubungi nomor adik sepupunya dan menyuruh ke apartemen Jasmin untuk menemani gadis itu.
__ADS_1
Hampir lima belas menit berlalu, Leona masuk dengan begitu khawatir. Bahkan, gadis itu sampai menendang tulang kaki Febian karena marah dengan sepupunya saat melihat Jasmin yang sedang menangis dengan berbalut selimut.
"Pergilah, Kak! Biar aku yang menemani Kak Jasmin! Aku kecewa dengan kamu, Kak." Febian akhirnya pergi saat melihat sorot mata Leona yang menatapnya penuh arti. Setelah kepergian Febian, Leona segera memeluk Jasmin erat dan menenangkan gadis itu.
****
PRANG!
Nathan membanting cangkir yang berada di hadapannya setelah Febian selesai menceritakan semuanya. Sorot mata Nathan menajam bahkan tangan lelaki itu terkepal erat. Febian sedikit meringsut, tetapi dia mencoba bersikap tetap terlihat tenang.
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan menjadi lelaki yang begitu pengecut, Bi!" bentak Nathan dengan amarah yang memuncak.
"Aku hanya meminta waktu sampai berumur dua puluh delapan tahun, Kak, tapi Jasmin tidak sabaran."
"Aku yakin kalau Al tahu semuanya, dia juga akan kecewa padamu, Bi! Apa salahnya kamu menemui Tuan Dharma terlebih dahulu dan bukan malah akan merusak Jasmin!"
Amarah Nathan benar-benar sudah sampai pada puncaknya. Bahkan lelaki itu tidak menyadari kalau sedari tadi Nadira berdiri di belakang mereka mendengar semuanya.
"Jasmin itu gadis baik, jadi jangan—"
"Kamu belum tidur, Bi?"
Ucapan Nathan tercekat di tenggorokan saat mendengar suara Nadira dari arah belakangnya. Dia berbalik dan melihat Nadira yang sedang berjalan mendekat, tetapi wanita itu sama sekali tidak menatapnya.
__ADS_1
"Nad, kenapa kamu di sini?" tanya Febian dengan kening mengerut.
"Aku mencarimu, Bi. Entahlah, aku ingin sekali memelukmu." Nadira memeluk Febian dengan sangat erat. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Febian pun membalas pelukan kakak perempuan dengan tak kalah erat. Sementara Nathan hanya memandang mereka dengan perasaan yang susah dijelaskan.
"Tidurlah, Bi, ini sudah malam," suruh Nadira saat baru saja melepas pelukan itu.
"Selamat malam, Nad." Febian mencium kening Nadira sebelum akhirnya memilih pergi ke kamar dan membiarkan Nadira berbicara dengan Nathan.
"Beb ...."
"Maaf kalau Bi sudah sangat keterlaluan dan menyakiti gadis sebaik Jasmin. Mungkin karena aku dan Kak Al kurang keras mendidiknya. Aku tahu kalau Bi ingin menikah di usia dua puluh delapan tahun karena dia tidak mau melanggar janjinya kepada daddy. Lusa biar Kak Al meminta maaf langsung kepada Tuan Dharma."
Nadira seolah sedang berbicara dengan orang asing bahkan tanpa menatap suaminya sama sekali. Dia hendak pergi, tetapi Nathan segera menahan langkahnya.
"Beb, maafkan aku." Suara Nathan terdengar penuh sesal.
"Lepaskan. Aku takut Baby B menangis ingin menyusu," perintah Nadira, tetapi Nathan hanya diam saja.
Dengan sedikit kasar Nadira menghempaskan tangan Nathan lalu bergegas pergi kembali ke kamar. Nathan pun berusaha mengejar, tetapi Nadira sama sekali tidak peduli.
Leona siapa Thor?
ingat-ingat, dia anak kedua Ardian.
__ADS_1
Othor yakin banyak yang lupa 😅