Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
190


__ADS_3

Kenan sudah terbangun padahal hari masih gelap. Sebenarnya, dia masih sangat mengantuk, tetapi kata orang bahkan Alvino, sahabatnya sendiri, ibu hamil muda itu kebanyakan mengalami morning sickness setiap bangun tidur. Jadi, Kenan bangun terlebih dahulu sebelum istrinya terbangun karena dia ingin berjaga-jaga dan menjadi suami yang siaga.


Melihat istrinya masih tertidur nyenyak, Kenan membenamkan ciuman di perut istrinya yang mulai kelihatan menonjol. Lelaki itu sangat bahagia, membayangkan bisa mendapat tiga bayi sekaligus. Orang tuanya yang dulu selalu menuntut kehamilan Ana pun, kini merasa bahagia dan bersyukur. Bahkan, mereka meminta maaf kepada Ana atas ucapan yang sudah menyakiti hatinya.


"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Ana, saat membuka mata dia melihat Kenan sedang menatapnya.


"Aku baru bangun, apa kamu merasa mual?" tanya Kenan dengan lembut. Ana menggeleng lemah. "Atau kamu ingin sesuatu? Biar aku carikan untukmu."


Bibir Ana tersenyum mendengar pertanyaan suaminya. Dia tahu kalau suaminya saat ini pasti sedang mencoba menjadi suami siaga. Ana mengusap pipi Kenan dengan sangat lembut.


"Aku sedang tidak ingin apa pun, Mas. Mungkin ketiga bayi kita tidak mau menyusahkan mama papanya." Ana menjawab disertai senyum mengembang.


"Kalau begitu, tidurlah. Hari masih pagi." Kenan memeluk istrinya dengan sangat erat.


"Mas, aku mau sesuatu," ucap Ana ragu. Kenan yang barusan hendak memejamkan mata pun segera mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kamu ingin apa?" tanya Kenan dengan sangat antusias.


"Aku ingin itu." Ana menutup wajahnya, merasa malu. Kenan yang melihat pun hanya mengerutkan keningnya karena heran.


"Itu apa?" tanya Kenan penasaran.


"Itu ... itu ... em ...." Ana kembali terdiam. Kenan yang merasa gemas pun, segera mencium pipi istrinya.


"Katakan yang jelas, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan, pasti aku akan menurutinya." Kenan menatap Ana penuh cinta.


"Em, aku sebenernya penasaran, sebenernya gaya gaya anjing ala Kak Nathan itu seperti apa. Aku ingin sekali mencobanya." Ana berbalik dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Entahlah, rasanya dia begitu penasaran dan ingin mencicipi senikmat apa gaya tersebut.


"Kamu yakin akan mencobanya?" tanya Kenan memastikan. Dia membuka selimut yang menutup kepala istrinya. Ana hanya mengangguk cepat sebagai jawabannya.


"Sayang, dengerin aku ya. Usia kehamilan kamu ini masih sangat rawan. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kehamilan kamu berusia tiga bulan," tolak Kenan. Dia benar-benar ingin menjaga kehamilan istrinya.

__ADS_1


"Tapi aku penasaran, Mas." Ana merengek manja.


"Kita akan mencobanya nanti kalau kehamilanmu sudah lebih dari tiga bulan. Sekarang, kita harus benar-benar menjaganya. Bukankah kamu ingat bagaimana susahnya kita mendapatkan mereka?" Kenan masih mencoba memberi pengertian. Dia tahu kalau wanita hamil itu sangat sensitif.


Ana tidak membuka suara, dia kembali menutup seluruh tubuhnya dan menangis cukup keras. Kenan yang mendengar tangisan istrinya pun menjadi begitu khawatir. Dia berusaha membuka selimut lagi, tetapi Ana menahannya dengan kencang, masih dengan menangis. Kenan mengusap wajah dengan kasar.


"Baiklah. Kita akan mencoba gaya anjing kawin ala kaleng rombeng," ucap Kenan pasrah. Tangisan Ana terhenti seketika, dia membuka selimutnya dengan cepat, bahkan wajahnya sudah dipenuhi senyum semringah.


"Kamu tahu caranya?" tanya Ana antusias.


"Ya, aku pernah bertanya lebih detail." Kenan berbohong, dia tidak mau istrinya menuntut untuk bertanya kepada Nathan. Kalau benar terjadi, yang ada dirinya akan menjadi bahan tertawaan manusia bermulut emak-emak kompleks tersebut.


"Ayo, Mas!" Ana merasa sudah tidak sabar. Bahkan wanita itu sudah membuka piyama yang dikenakan. Kenan pun menggeleng tidak percaya.


Ana dengan bersemangat meraup bibir suaminya, dan mel*matnya dengan sangat agresif. Bahkan Kenan sampai kewalahan mengimbangi permainan istrinya.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Sayang." Kenan berusaha memberi nasihat. Ana hanya mengangguk mengiyakan, lalu kembali menggerayangi tubuh suaminya. Kenan pun mulai menyeimbangi permainan Ana, tangan lelaki itu terus saja mengusap perut istrinya.


Amit-amit jabang bayi, jangan sampai salah satu anakku menjadi titisan Kaleng Rombeng.


__ADS_2