
Nadira berjalan tergesa keluar dari kamar setelah mendapat telepon dari kakaknya kalau Rania sudah berada di rumah sakit dan sebentar lagi akan melahirkan. Padahal, Mila sedang bersiap menyambut tamu yang akan datang nanti malam.
"Bunda ke rumah sakit nanti aja." Nadira melarang Mila yang hendak ikut ke rumah sakit.
"Nanti kamu enggak ikut acara lamaran aku dong, Nad?" tanya Cacha sedih.
"Nanti kalau Rania udah lahiran, dan acaramu belum selesai aku akan pulang, Cha. Tenang aja. Lagian aku juga penasaran pangeran mana yang akan datang melamarmu." Nadira berseloroh. Cacha tidak menjawab, hanya mendesah kasar.
Nadira pun kembali berpamitan dan pergi ke rumah sakit dengan pak sopir karena kebetulan Nathan masih berada di kantor.
Setelah hampir dua puluh menit perjalanan, Nadira yang sudah sampai di rumah sakit, langsung berlari menuju ke ruang persalinan. Di depan ruangan itu, dia melihat Kenan dan Ana yang sedang menunggu dengan cemas di depan ruangan.
"Kamu sudah datang, Nad?" Ana menyapa Nadira, dan memeluk sahabatnya erat.
"Bagaimana Rania, An? Apa sudah akan lahir?" tanya Nadira. Dia pun ikut merasa cemas.
"Mungkin sebentar lagi, Nad. Kata Kak Queen tadi sudah pembukaan delapan," sahut Ana. Mereka berdua pun duduk di kursi tunggu.
"Semoga semuanya lancar dan diberi keselamatan untuk ibu dan bayinya." Nadira berdoa, Kenan dan Ana hanya mengamini.
Sementara di dalam ruangan, Rania sedang berjuang mati-matian untuk melahirkan Baby JJ. Sedari tadi dia sudah merasakan sakit yang sangat luar biasa, Alvino yang melihat pun menjadi tidak tega.
Dengan erat dia menggenggam tangan istrinya, berusaha memberi semangat dan menyakinkan kalau istrinya pasti bisa.
"Kak, rasanya aku seperti mau buang air besar." Rania menghembuskan napas dengan cepat saat merasakan seperti ada sesuatu yang akan mendesak keluar di bawah sana.
Queen pun dengan tenang memberi arahan pada Rania untuk mengejan. "Jangan diangkat, Ran. Supaya tidak robek." Queen masih terlihat begitu tenang.
"Aku yakin kamu pasti bisa, Sayang." Alvino menciumi kening istrinya. Rania pun mengumpulkan segala tenaganya.
Tiga kali mengejan, terdengar suara bayi menggema di ruangan itu. Tanpa sadar, air mata Alvino jatuh dari kedua sudut matanya melihat seorang bayi laki-laki sedang menangis kencang.
"Wahh, ternyata si Juno yang keluar duluan." Wajah Queen terlihat begitu semringah. Dia pun menyerahkan Baby Jun kepada seorang perawat di sana.
__ADS_1
"Ayo, Ran. Semangat! Masih satu lagi. Aku yakin kalau Baby Jin tidak akan membuat mommy nya kesusahan." Queen berusaha menyemangati Rania yang sudah terlihat lemas.
Tiga menit kemudian, Rania kembali mengalami kontraksi dan dia mengejan sekuat tenaga. Mengumpulkan semua tenaga yang masih tersisa.
Oee oeee
Suara bayi kembali menggema di ruangan itu. Mereka pun bernapas lega. Alvino mendaratkan banyak ciuman di seluruh wajah istrinya. Bahkan lelaki itu menangis bahagia.
"Terima kasih, Sayang. Kamu luar biasa." Alvino mengusap kedua pipi Rania, dan kembali mendaratkan ciuman di sana. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas." Rania membalas dengan tersenyum simpul.
"Ehem! Kalian romantis sekali. Aku jadi iri," celetuk Queen sambil membersihkan kewanitaan Rania setelah selesai mengeluarkan ari-ari bayi.
"Semoga kamu juga lekas nyusul, Kak," kata Alvino tulus.
"Semoga saja." Queen menunjukkan senyum termanis yang dia punya.
Setelah semua sudah beres dan selesai, tiga orang yang menunggu di luar segera masuk dengan wajah yang berbinar bahagia. Ana mendekati adik kembarnya lalu mencium pipinya dengan lembut.
"Sama-sama, Kak."
"Ya ampun, kalian cakep banget. Jin dan Jun, kenalin ini onty kalian yang paling cantik." Nadira tersenyum lebar, dia begitu gemas melihat dua bayi yang sedang terlelap itu.
"Kamu tidak ingin mengucapkan selamat untuk kakak?" Alvino menyadarkan Nadira.
Dengan bergegas, Nadira mendekati sang kakak lalu memeluknya erat. "Selamat ya, Kak. Sekarang udah jadi Daddy Al." Nadira semakin mengeratkan pelukannya saat bayangan kedua orang tuanya tiba-tiba terlintas dalam ingatannya.
Seharusnya saat ini daddy dan mommy sedang bahagia karena bisa melihat kedua cucu kembarnya. Semoga kalian bahagia di Syurga.
"Kakak yakin kalau daddy dan mommy, sedang tersenyum di sana." Alvino membalas pelukan adiknya tak kalah erat. Seolah dia bisa mendengar apa yang diucapkan Nadira di dalam batinnya.
Setelah cukup lama, Nadira segera melerai pelukan itu dan beralih mendekati Rania. Dia pun sama seperti Ana, memberi ciuman di kedua pipi kakak iparnya. Tak lupa juga mengucapkan selamat untuk wanita itu.
__ADS_1
"Selamat, Al!" Kenan menepuk bahu sahabatnya. Dia pun merasa begitu bahagia.
"Terima kasih, Ken. Aku doakan semoga setelah ini Ana akan mengandung dan melahirkan buah hati yang lucu-lucu." Alvino berdoa dengan tulus. Mereka yang berada di dalam sana hanya mengamini.
"Beb!" Suara dari arah pintu berhasil mengalihkan perhatian mereka. Nathan masuk ke ruangan dengan langkah tegas, dia mendekati sang istri lalu memeluknya erat.
"Astaga, bucinmu parah, Nat!" cibir Alvino, tapi Nathan tidak peduli dan tetap memeluk Nadira dengan sangat erat.
"Biarin aja sih, Al. Sirik aja kamu kalau sama aku." Nathan melerai pelukan itu. Dia mengucapkan selamat untuk Rania dan Alvino, setelah itu dia berjalan mendekati box bayi untuk melihat dua bayi lucu yang masih tertidur.
"Beb, lihatlah. Cantik dan tampan seperti boneka. Menggemaskan sekali," kata Nathan dengan heboh.
"Jelas, dong. Kamu lihat dulu, daddy dan mommy nya aja tampan dan cantik." Alvino bicara dengan angkuh.
"Aku juga kalau punya anak pasti cantik dan tampan seperti mami dan papinya. Kan kecebong aku kualitas super premium." Nathan pun menyombongkan diri.
"Aku harap anak kalian nanti tidak menjadi kaleng rombeng seperti bapaknya," timpal Alvino. Nathan tidak menanggapi, karena dia begitu sibuk melihat dua bayi itu.
Nathan bergantian mengusap dengan sangat lembut pipi dua bayi itu. Senyum di bibir Nathan tidak sedikit pun surut. Justru semakin mengembang saat membayangkan dirinya dan Nadira memiliki anak yang lucu seperti ini. Ah! Rasanya dia sudah tidak sabar.
"Jangan dilihatin terus sih, Kak." Nadira berdiri di samping Nathan yang langsung melingkarkan tangan di perut istrinya.
"Aku sudah tidak sabar punya bayi lucu seperti itu denganmu, Beb." Nathan bicara dengan lembut, tak lupa sebuah ciuman mendarat di pipi Nadira. Bibir Nadira pun tersenyum simpul, dia juga tak sabar sama seperti suaminya.
"Eh, Al! Aku boleh tanya enggak sama kamu?" Nathan menurunkan tangannya dan menatap Alvino penuh tanya. Alvino mendengkus kasar saat melihat senyum Nathan yang penuh seringai.
"Jangan macem-macem!" seru Alvino dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Satu macam aja kok, Al. Beneran." Nathan menunjukkan rentetan gigi putihnya dengan alis yang terlihat naik turun.
"Apa?" tanya Alvino tak sabar.
"Kamu bisa punya bayi kembar menggemaskan gitu, waktu proses cetak pakai gaya apa? Anjing kawin, kodok terbang, kucing berak—"
__ADS_1
"Kak Nathan!" pekik Nadira kesal, sedangkan Alvino sudah mendelik ke arah Nathan. Rasanya dia ingin *******-***** mulut si Kaleng Rombeng.
"Apa sih, Beb. Aku tanyain loh. Nanti kita tinggal praktek di rumah." Nathan masih bicara santai, sedangkan yang lainnya hanya menggeleng tak percaya dengan mulut Nathan yang benar-benar tak punya malu.