Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
46


__ADS_3

Setelah Nadira sudah kembali sadar dan tenang, pemakaman Davin dan Aluna pun segera dilaksanakan. Banyak pelayat yang mengantar pengusaha itu sampai ke peristirahatan mereka yang terakhir. Tangis ketiga saudara itu kembali pecah, saat kedua orang tua mereka dimasukkan ke liang lahat dan beberapa penggali kubur menutupnya dengan tanah.


Mereka menabur bunga di atas dua gundukan tanah itu. Setelah selesai, para pengantar jenazah mulai meninggalkan makam itu. Hanya tersisa keluarga saja yang berada di sana.


Baik Marvel maupun Ardian tidak menyangka akan kehilangan dua orang itu sekaligus. Mereka pun tak kalah terpuruknya, tapi tetap berusaha terlihat tegar. Nadira meminta Alvino dan Febian membantunya turun dari kursi roda. Awalnya mereka ragu, khawatir Nadira akan kembali pingsan, tapi melihat tatapan Nadira yang begitu memohon membuat Alvino maupun Febian akhirnya mengiyakan dan membantu gadis itu.


"Semoga daddy dan mommy tenang di alam sana." Nadira bergantian mencium nisan kayu yang tertancap di atas dua gundukan itu dengan tulisan 'Davino Alexander' dan 'Aluna Salsabila' tertera di sana. "Doakan Nadira bisa mendapat lelaki yang begitu menyayangi Nadira bahkan sampai Nadira menghembuskan napas terakhir. Seperti daddy yang begitu setia dengan mommy. Nadira sayang kalian."


Ucapan Nadira seolah menjadi sindiran keras untuk Nathan. Lelaki itu hanya bisa membisu. Perasaannya begitu tak karuan saat ini. Setelah kembali mencium nisan kayu itu, Nadira meminta dibantu berdiri dan segera pulang dari sana. Ketika Febian mendorong kursi roda melewati samping Nathan, Nadira langsung melengos begitu saja. Tanpa menatap Nathan sama sekali.


Nathan hanya menatap nanar kepergian Nadira. "Setelah semuanya tenang, kita akan jelaskan kepada Nona Muda. Setelah mereka semua tertangkap, kamu tidak perlu lagi menjaga Nona Muda." Nathan menoleh ke arah ayahnya. Menatap wajah sang ayah yang terlihat begitu terluka dan kecewa. Nathan tahu, ayahnya pasti sangat kecewa padanya.


"Lebih baik kita kembali ke mansion," ajak Johan. Mereka pun mengangguk setuju. Sebelum pergi dari makam itu, Johan menatap kedua nisan itu bergantian.


Semoga kalian tenang di alam sana. Saya janji akan segera menangkap mereka yang sudah mengancam nyawa keluarga Alexander dan memberi hukuman yang setimpal untuk mereka!


Johan mengepalkan tangannya erat, tapi bibirnya tersenyum sangat tipis saat ekor matanya melihat seseorang bersembunyi dari balik pohon yang tidak jauh dari tempatnya. Kemudian, dia menyusul mereka yang sudah kembali pulang, seolah tidak melihat apa pun.


***


Nadira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menatap langit kamar dengan tatapan kosong. Bahkan, ketika Cacha, Rania dan Ana masuk ke kamar itu, Nadira tidak menyadari sama sekali.

__ADS_1


"Nad," panggil mereka bersamaan. Namun, Nadira tetap saja menatap langit kamar itu. Tanpa banyak bicara, mereka bertiga naik ke atas tempat tidur dan memeluk erat tubuh sahabat yang kini sudah menjadi saudara.


"Nad, kita yakin kalau kamu gadis yang hebat. Bisa tetap kuat dan tegar meski keadaan sedang menyakitimu." Cacha berusaha menyadarkan Nadira. Namun, Nadira tetap diam saja.


"Eh, kamu menendang. Kamu mau menyapa aunty?" Ucapan Rania yang menirukan anak kecil berhasil membuat Nadira menoleh ke arahnya.


"Apa dia menendang?" tanya Nadira dengan lemah. Rania mengangguk dengan cepat. Nadira menatap lekat perut Rania yang sudah sangat membuncit, dan meletakkan tangannya di atas sana.


Bibir Nadira tersenyum simpul saat merasakan perut itu bergerak karena janin itu menendang. Mereka bertiga pun memandang Nadira dengan bahagia.


"Wah, baby twin mau menyapa Aunty? Boleh aku mencium nya?" pinta Nadira. Rania kembali mengangguk cepat.


"Aunty sudah tidak sabar menanti kelahiran kalian. Kenapa oma dan opa jahat, tidak mau melihat kalian lahir ke dunia," ucap Nadira. Wajahnya kembali terlihat sendu.


"Cilok?" Nadira mengerutkan keningnya.


"Ya, kamu tahu, Nad. Dua keponakan sultanmu ini ngidam cilok dan harus aku sendiri yang membuatnya. Benar-benar sangat merepotkan," celetuk Cacha. Dia menunjukkan dua jarinya saat Rania menatapnya dengan tajam.


"Baby Jin dan Jun, Aunty bercanda kok," seloroh Cacha sebelum pergi dari sana.


"Astaga, Cha. Namanya Jinny dan Junno bukan Jin dan Jun," cebik Rania kesal.

__ADS_1


"Kalau di singkat sama aja," timpal Cacha lalu pergi dari sana. Dia tidak peduli meski Rania meneriakinya. Baru saja keluar dari pintu kamar, ponsel Cacha terdengar berdering.


"Cha, musuh sudah berada di sekitarmu dan sekarang masuk perangkap. Jangan pernah turunkan kewaspadaanmu." Cacha hanya mengiyakan, lalu kembali menyimpan ponselnya di saku celana.


Cacha berjalan santai menuju ke dapur dan mengambil cilok yang masih berada di panci atas kompor. Suasana dapur begitu sepi bahkan tidak ada seorang pun di sana. Cacha mengambil beberapa buah cilok, menaruh di atas piring lalu menuangi kuah kacang di atasnya.


Tidak ada yang melihat seringai tipis di bibir Cacha saat ekor mata gadis itu melihat seseorang di sudut ruangan sedari tadi mengawasi. Cacha tetap bersikap tenang saat melihat orang itu sedang berjalan mendekatinya.


Karena kalian mau bermain, baiklah aku ladenin. Jangan anggap remeh keturunan Johan Saputra!


"Aduh! Tolong!" teriak Cacha dengan sangat keras.


___________________________________________


Sampai sini udah ada yang bisa menebak kira-kira siapa tersangka utamanya?


Hayoo siapa? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Yang tebakannya bener, Othor kasih pulsa 10ribu untuk 2 orang tercepat๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… tenang Othor enggak akan selewengin alur, tetap pada alur awal.


Oh iya, Kalau Othor bikin Grup Chat WA khusus kalian pembaca karya-karya Othor kalem ini. Kira-kira kalian mau gabung enggak? Kalau mau, yuk kirim nomor WA kalian via DM IG @tathabeo atau FB : Rita Anggraeni(Tatha)


Kalau banyak yang setuju langsung Othor buatin ๐Ÿ˜…

__ADS_1


Semoga hari kalian hari ini menyenangkan ๐Ÿ˜


__ADS_2