Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
128


__ADS_3

"Tuan?" Mario berusaha menyadarkan Rendra dari lamunannya. Benar saja, lelaki itu tergagap apalagi saat netranya menangkap sosok gadis cantik yang sudah berdiri tepat di depannya dengan bibir tersenyum manis yang membuat Rendra kembali terpikat.


"Ada perlu apa kamu ke sini, Nis?" Mario sengaja mengeraskan suaranya untuk kembali menyadarkan Rendra.


"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin menyerahkan berkas laporan rapat tadi," sahut Anisa dengan sopan. Tangannya menyodorkan map hasil laporan, dengan segera Rendra meraihnya, menaruh berkas itu di sampingnya tanpa mengecek kembali.


"Terima kasih, Nis." Rendra berbicara dengan lembut.


"Sama-sama, Mas ... eh maaf! Maksud saya Tuan." Anisa terlihat gugup, apalagi saat tatapan mata mereka bertemu.


"Panggil saja senyaman kamu kalau hanya ada kita bertiga." Rendra masih saja menatap lekat gadis itu.


Jujur, Rendra sangat kagum dengan Anisa. Gadis itu sangat cekatan, pekerja keras dan sangat bisa diandalkan. Hampir sama dengan Nadira. Walaupun lebih cantik Nadira, tapi bagi Rendra, Anisa pun tak kalah cantik. Sangat berbeda dengan masa kecilnya yang hitam, dekil dengan rambut keriting.


"Kalau begitu aku permisi dulu, Mas." Anisa masih bicara dengan lembut.


"Silakan." Anisa pun berbalik dan berjalan keluar ruangan. Sementara Rendra masih saja menatap penuh ke arah gadis tersebut tanpa sedikit pun memutuskan pandangannya.


"Tuan, kalau Anda masih terpikat dengan gadis lain, lebih baik Anda batalkan saja pertunangan Anda dengan Nona Cacha. Bukankah Anda tahu betapa tegasnya Tuan Johan?" Mario sedikit menyindir.


Rendra menatap Mario dengan sedikit kesal. "Diamlah, Mar. Aku tahu apa yang terbaik untukku. Bukankah sudah kubilang kalau aku akan belajar mencintai Cacha?" ketus Rendra. Mario tidak menjawab, hanya menanggapi dengan hembusan napas kasar.


"Lebih baik kita pergi cari cincin." Rendra beranjak bangun dan berjalan keluar ruangan, sedangkan Mario dengan setia mengekor di belakang.


***


Nathan dan Nadira sudah berada di pesawat yang sedang mengudara menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Selama berada di pesawat, Nadira tertidur lelap dengan bersandar di bahu nyaman milik suaminya.


Sementara Nathan, tak lepas menggenggam tangan istrinya dan berkali-kali mendaratkan ciuman. Nathan merasa sangat bahagia karena dirinya sudah menikah dengan Nadira, bahkan wanita itu sudah menjadi miliknya seutuhnya.


"Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa ragaku, Sayang." Nathan kembali mendaratkan ciuman yang membuat Nadira bergerak dan membuka paksa kedua kelopak matanya.


"Masih lama kah?" tanya Nadira dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Sebentar lagi, Beb. Kamu sudah tidak sabar?" tanya Nathan dengan lembut, kembali mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadira.

__ADS_1


"Rasanya aku udah kangen banget sama rumah." Nadira duduk tegak, lalu merentangkan tangannya.


"Astaga, Beb!" cebik Nathan saat tangan Nadira sampai mengenai tubuhnya. Nadira hanya menunjukkan senyum seolah tak berdosa. "Jangan menggodaku."


"Aku tidak menggoda. Tubuhku beneran sakit semua. Nanti sampai rumah aku mau minta pijit." Nadira kembali duduk bersandar dan memejamkan mata.


"Nanti aku pijitin." Nathan menawarkan diri.


"Ogah! Sama kamu mah yang ada pijat plus-plus, tapi banyakan plusnya daripada pijetnya," timpal Nadira, sedangkan Nathan hanya terkekeh geli apalagi melihat raut wajah istrinya yang tampak sebal.


"Ya sudah tidur lagi aja. Nanti kalau udah sampai aku bangunin," suruh Nathan. Nadira pun kembali berusaha terlelap agar rasa lelah di tubuhnya menghilang.


***


"Bunda! Anak bujang mu yang sekarang udah enggak bujang udah pulang!" teriak Nathan saat memasuki rumahnya. Nadira yang mendengar suaminya berteriak seperti itu hanya memutar bola matanya malas. Bahkan dia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi suami dan ibu mertuanya yang satu spesies.


"Nadira!" teriak Mila dari arah dapur. Wanita paruh baya itu berlari mendekati sang menantu lalu memeluknya dengan erat.


"Bunda kangen banget sama kamu, Nad." Mila semakin mengeratkan pelukannya.


"Nadira juga kangen sama Bunda," balas Nadira. Sementara Nathan yang berdiri di samping Nadira, hanya memasang wajah sebal karena sang bunda tidak memeluknya.


Mila menoleh ke arah putranya dan tersenyum simpul. Beberapa detik kemudian, wanita itu memeluk sang putra dengan erat.


"Bagaimana bulan madumu? Lancar 'kan?" tanya Mila, dia melerai pelukannya dan menatap wajah sang putra yang terlihat begitu semringah.


"Lancar banget, Bun. Bahkan semua gaya dari Bunda sudah Nathan praktekan. Dari anjing kawin, kodok terbang, entok—"


"Mas!" sela Nadira sedikit membentak.


"Apa, Beb?" tanya Nathan seolah tidak tahu apa-apa.


"Jangan mulai menyebalkan!" Nadira bersungut-sungut. Sebelum kemarahan istrinya semakin menjadi-jadi, Nathan segera mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya ke kamar.


"Mas! Belum pamitan sama bunda. Kamu yang sopan!" protes Nadira, ia memukul dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Bun! Kita ke kamar dulu ya, Ayang Bebeb udah pengen anu!" teriak Nathan saat sudah berjalan menapaki tangga.


"Mendes*ahmu jangan keras-keras, Nat! Kalau bunda denger terus pengen 'kan repot. Ayah lagi enggak di rumah," balas Mila juga berteriak. Nadira yang mendengarnya, hanya mendengkus kasar.


Sesampainya di kamar, Nathan merebahkan tubuh Nadira di atas tempat tidur. Kemudian, dia pun ikut merebahkan diri di samping istrinya.


"Jangan bilang kamu mau minta jatah lagi, Mas!" Nadira bicara ketus.


"Enggak, Beb. Aku mau tidur. Tubuhku udah capek banget. Tidurlah!" perintah Nathan. Dia merapat pada tubuh istrinya, lalu memejamkan mata.


Nadira pun terdiam dan merasakan betapa nyaman pelukan dari suaminya. Tidak sampai lima menit, terdengar dengkuran halus dari Nathan. Lelaki itu benar-benar tertidur karena kelelahan.


Setelah cukup lama, Nadira menurunkan tangan Nathan yang melingkar di perutnya dengan perlahan agar tidak membangunkan lelaki tersebut. Setelahnya Nadira berjalan keluar kamar. Tujuannya saat ini adalah kamar Cacha.


Ketika sudah sampai di kamar Cacha, Nadira segera mengetuk pintu kamar itu. Setelah mendengar sahutan dari dalam, Nadira membuka pintu itu dan berjalan masuk ke dalam kamar.


"Cha," panggil Nadira.


"Kamu sudah pulang, Nad?" tanya Cacha dengan binar bahagia. Melihat Cacha yang hendak duduk, Nadira segera membantunya.


"Sudah, aku baru aja sampai. Gimana lukamu? Masih sakit banget?" Nadira mengamati bahu Cacha dengan lekat.


"Udah mendingan sih," sahut Cacha dengan antusias. "Bagaimana bulan madumu, Nad?" tanyanya.


Nadira menghela napas panjang sebelum menjawab, sedangkan Cacha menunggu dengan tak sabar. "Ya seperti itulah, Cha. Hampir seminggu aku dikurung di kamar, bahkan enggak keluar sama sekali. Sampai aku bener-bener bosen," adu Nadira.


"Tapi enak 'kan? Aku yakin kamu pasti ketagihan." Cacha menggoda, membuat pipi Nadira merona merah saat teringat dirinya yang sedang beradu di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun.


"Enggak usah dibayangin! Entar pengen!" Cacha menepuk pipi Nadira pelan untuk menyadarkannya.


"Apaan sih, Cha! Kalau pengen tinggal colek aja Kak Nathan," Seloroh Nadira. Dia menutup tawanya yang mengeras.


"Yee, kamu mah gitu. Mentang-mentang udah punya suami," cebik Cacha, "Eh, Nad. Buka syal mu dong, ngapain sih di kamar, panas gini pakai baju musim dingin," perintah Cacha, tetapi Nadira hanya diam saja.


"Ogah, ah! Aku malu habis digigit serangga, Cha! " tolak Nadira. Dia malu kalau sampai Cacha melihat stempel Nathan yang hampir memenuhi seluruh lehernya.

__ADS_1


"Ayolah, atau aku buka paksa, nih!" ancam Cacha. Nadira memegang syal yang dipakai dengan kencang, tapi masih kalah tenaga dengan Cacha yang menggunakan tangan kiri.


Ketika syal itu sudah terlepas. Bola mata Cacha melebar sempurna. "Astaga! Ganasnya tuh serangga!" pekik Cacha yang membuat wajah Nadira semakin memerah.


__ADS_2