
Mila yang sedang duduk santai dengan Johan merasa heran saat melihat Nathan masuk dengan wajah yang tampak begitu lesu, tidak terlihat bersemangat sama sekali. Lelaki itu bahkan menghempaskan tubuh secara kasar di atas sofa.
"Kamu kenapa, Nat?" tanya Mila. Alisnya terlihat saling bertautan.
"Aku mau tidur sini." Nathan menjawab lesu.
"Bagaimana dengan Nadira?" tanya Johan penasaran.
"Justru Nadira yang ngusir Nathan." Rasanya Nathan begitu malas untuk membahas ini.
"Kenapa? Kamu melakukan kesalahan?" tanya Johan menuntut.
"Aku bilang dia semok berlebihan eh dia ngambek. Lihatlah, aku dibawain sabun buat temen main."
Johan dan Mila termangu sesaat sebelum akhirnya tergelak keras saat melihat kantong plastik berisi sabun cair. Bahkan, Mila tertawa sampai perutnya terasa kram. Nathan semakin merasa kesal dan menaruh kantong plastik itu sembarang lalu berlalu pergi begitu saja.
"Nat, kamu mau ke mana?" teriak Mila menghentikan langkah Nathan sesaat.
"Tidurlah, Bun. Nathan capek," sahut Nathan malas.
"Sabunnya enggak kamu bawa?" tanya Mila balik.
"Buat ayah aja, kali aja butuh pelumas." Nathan menjawab asal lalu berlari pergi dari sana. Sesaat kemudian, terdengar teriakan Mila yang melengking sampai ke tangga. Nathan pun tertawa keras dan membayangkan wajah kesal ibunya saat ini.
***
Nadira hanya berguling di tempat tidur. Hampir dua jam mencoba untuk terlelap, tetapi hanya matanya saja yang terpejam, sedangkan otaknya terus menerus kepikiran Nathan. Rasanya dia begitu menyesal sudah menyuruh suaminya untuk pulang ke rumahnya. Nadira turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke dapur karena merasa perutnya sangat lapar.
__ADS_1
Sebelum turun ke lantai bawah, Nadira terlebih dahulu melihat Bobby yang sudah tertidur lelap. Wajah Bobby sangat mirip dengan Nathan, dan itu semakin membuat Nadira merindukan suaminya. Bahkan tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi.
Nadira memilih turun ke dapur karena tidak mau terlalu larut dalam kesedihan. Dia membuat segelas susu hangat. Biasanya, Nathan yang membuatkan susu untuknya. Sedang berusaha menikmati susu hangat itu, tiba-tiba Nadira dikejutkan dengan kehadiran Alvino yang sudah berdiri di dekatnya saat ini. Kening Alvino mengerut saat melihat wajah adiknya yang tampak lesu.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Alvino.
"Tidak papa." Nadira menjawab singkat karena tidak ingin kakaknya tahu kalau dia sudah mengusir Nathan.
"Kok sendirian? Kaleng Rombeng mana?" tanya Alvino penuh penekanan, tetapi Nadira justru bungkam.
"Jangan bilang suamimu tidur." Wajah Alvino terlihat penuh emosi. Dia hendak pergi untuk mencari Nathan, tetapi Nadira segera menahannya.
"Mas Nathan tidak di rumah." Jawaban Nadira membuat Alvino terdiam di tempatnya. Dia menatap wajah Nadira dengan penuh tanya.
"Di mana?" tanya Alvino pada akhirnya.
"Aku mengusirnya," sahut Nadira. Bola mata Alvino membola sempurna.
"Karena dia ngatain aku ini semok kelebihan," jawab Nadira. Alvino terdiam sesaat sebelum akhirnya dia tergelak keras.
"Dasar laki-laki bodoh. Kenapa mesti jujur di depan ibu hamil." Alvino mengumpat lirih. Nadira menatap kakaknya dengan tajam.
"Kak Al bilang apa?" tanya Nadira kesal. Alvino menelan salivanya dengan susah payah.
"Aku cuma mau bilang biar aku telepon Nathan dan aku suruh dia pulang sekarang. Aku tahu kamu galau karena jauh dari suami somplakmu itu 'kan?" tukas Alvino. Nadira hanya diam karena yang dikatakan kakaknya memang benar. Dia pun membiarkan Alvino menghubungi Nathan. Namun, sampai beberapa kali panggilan itu tidak ada yang diangkat sama sekali.
"Hallo, Al." Terdengar suara Nathan saat Alvino hampir mematikan panggilan itu. Nadira merasa begitu gugup saat mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu di mana?" tanya Alvino pura-pura.
"Di rumah ayah." Suara Nathan terdengar malas.
"Kenapa kamu tidak di mansion?" tanya Alvino lagi.
"Nadira ngusir aku, tapi aku bentar lagi mau balik ke mansion. Takut dia tidak bisa tidur kalau tidak aku kelonin."
Nadira dan Alvino terdiam mendengar jawaban Nathan. Bahkan Nadira menangis haru karena ternyata suaminya sangat memikirkan dirinya.
"Al! Oe! Kok diem, sih. Kamu jangan bilang dia ya, aku takut diusir lagi terus dibawain sabun lagi."
"Sabun? buat apa?" Alvino menatap Nadira penuh selidik.
"Buat solo karir! Puas lo!"
Nathan mematikan panggilan itu sebelum mendengar tawa Alvino yang pasti akan membuatnya semakin merasa kesal. Benar saja, Alvino terbahak saat panggilan itu sudah terputus.
"Jangan ketawa, sih, Kak." Nadira menghentakkan kaki karena kesal.
"Ternyata kamu pintar juga. Memang adik yang bisa diandalkan." Alvino menepuk pundak Nadira dengan bangga lalu berlalu pergi ke kamar meninggalkan Nadira sendirian.
"Kenapa, Kak Al bahagia banget kalau lihat Mas Nathan tersiksa. Memang mereka bukan pasangan sejoli." Nadira memilih menghabiskan susu hangatnya dan bersiap untuk menyambut suaminya.
Masih mau lanjut?
Thor, kenapa elu berisik banget sih! π π
__ADS_1
lanjat-lanjut Mulu.
diem elu Thor! Gue lagi main ππ