Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
52


__ADS_3

Benar seperti dugaan Johan, ketika mereka sengaja melewati jalan tikus dan tidak ada satu pun kendaraan lewat sana, terdengar suara tembakan dan mobil yang dikendarai Alvino seketika oleng. Cacha dengan sigap memegang pistolnya, membuat Johan tersenyum puas.


"Tunjukkan kalau kamu memang keturunan Johan Saputra, Cha! Jangan sampai kamu mempermalukan Ayah," ucap Johan. Dia mengambil ponsel di saku lalu menghubungi Mike.


"Mike, datang ke jalan tikus sebelum ke Mansion Alexander dan bawa mobil. Sepertinya mobil Tuan Alvino butuh perbaikan," perintah Johan. Dia lalu mematikan panggilan itu ketika melihat tiga orang bertubuh kekar berjalan mendekati mobil.


"Dugaanku memang tidak pernah salah!" kata Johan membanggakan diri. Johan bisa melihat logo kepala singa di baju yang dikenakan pria-pria itu.


Pintu mobil diketuk dengan sangat keras. Mila semakin terlihat ketakutan. "Mil, tenangkan dirimu jangan sampai kita terlihat lemah di depan mereka." Johan kembali mendaratkan ciuman di puncak istrinya.


"Keluarlah, Cha!" perintah Johan.


"Jangan! Tetap di dalam, Cha. Bunda gak mau kamu kenapa-napa! Mas, Cacha itu anak perempuan kita satu-satunya!" tolak Mila tegas.


"Aku tahu, Mil. Walau dia perempuan jangan ragukan kemampuan putri kita. Percayalah aku sudah melatihnya dengan sangat baik," timpal Johan meyakinkan. Mila menghembuskan napas kasar, tapi kemudian dia mengiyakan.


Cacha keluar dari mobil dan menatap mereka bertiga dengan sorot mata yang sangat tajam. "Kenapa kalian menghalangi jalanku?!" bentak Cacha.


"Wah, aku tidak menyangka ada anak manis yang keluar," ucap salah satu di antara mereka.


Cacha berdiri di depan mobil dengan tangan terlipat di dada untuk menyembunyikan pistol di tangannya. "Wah, pemberani juga ini anak ingusan!" cibir yang lainnya.

__ADS_1


"Matamu buta! Aku bukan lagi anak ingusan, tapi aku ini gadis cantik!" timpal Cacha tak terima. Mereka semua tergelak keras. Johan, Mila dan Alvino hanya melihat dari dalam mobil, sedangkan Mike baru saja tiba dan segera berdiri di belakang Cacha bersama lima orang anak buahnya.


"Kamu bawa pasukan ternyata. Padahal kita tidak akan melakukan apa pun. Tapi ... lihat gadis cantik ini, sepertinya kita harus berkenalan," katanya dengan tawa meledek.


"Tidak sudi aku berkenalan dengan manusia rendahan seperti kalian!" hina Cacha. Amarah ketiga pria itu terlihat jelas, mereka tidak terima dengan hinaan yang terlontar dari gadis di depannya.


Salah satu dari mereka maju dan hendak menampar Cacha, tapi sebelum tamparan itu mendarat, Cacha sudah mengarahkan pistol dan menarik pelatuknya hingga peluru itu mengenai lengan lelaki tersebut.


"Agh! Brengsek!" erang lelaki itu sambil memegang lengan yang sudah mengeluarkan darah. Dua lainnya segera mengeluarkan pistol mereka, tapi Cacha dengan gesit kembali menarik pelatuknya dan mengarahkan ke lengan dua lelaki itu dan tepat sasaran. Mereka berdua ikut mengerang kesakitan dan pistol mereka terjatuh.


Melihat mereka bertiga sudah terjatuh, anak buah Mike segera memegangi mereka dan menyimpan pistol yang tergeletak di atas jalan. Cacha tersenyum puas. Dia mencium pistolnya dengan binar bahagia. Namun, tidak dengan Mike, tatapannya ke arah semak-semak menajam. Dia pun mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke semak-semak.


DOR!


Mike dan Cacha masih bergeming pada posisinya, mereka saling berpandangan. Baik jantung Cacha maupun Mike saling berdegup kencang. Cacha terdiam menatap lekat wajah lelaki itu.


Ternyata Mike tampan juga. Batin Cacha.


"Mike! Cacha!" panggil Johan menyadarkan mereka. Mike segera bangkit dan membantu Cacha bangun. Wajah Mike terlihat begitu gugup.


"Maafkan saya, Tuan." Mike menunduk takut melihat raut wajah Johan yang terlihat begitu datar.

__ADS_1


"Terima kasih, Mike. Kamu sudah menolong Cacha," ucap Johan. Dia menatap Cacha yang sekarang dipeluk Mila.


"Sama-sama, Tuan. Sudah tugas saya," sahut Mike sopan.


Johan menatap empat lelaki di depannya. Tiga terkena luka tembak di lengan dan satu di bahu kanan. Senyum Johan mengembang sempurna.


"Bawa mereka dan obati. Aku tidak mau mereka mati dengan cepat. Mereka semua harus membayar kematian Tuan Davin dan Nyonya Aluna!" ucap Johan tegas dengan tangan terkepal erat. Wajah lelaki paruh baya itu sudah merah padam karena amarah. Anak buah Johan hanya mengiyakan lalu membawa mereka pergi.


"Sekarang kita ke Mansion Alexander. Jangan sampai Nona Muda terluka!" Mereka masuk ke mobil Mike. Dengan kecepatan tinggi, Mike melajukan mobilnya menuju ke Mansion Alexander. Sementara Nathan dan Rendra juga hampir sampai di Mansion Alexander.


***


Di kamar tamu Mansion Alexander, Nadira masih tertidur lelap. Felisa yang melihatnya tersenyum lebar, dia berjalan mendekati Nadira dengan senyum seringai.


"Hahaha! Katakan selamat tinggal untuk dunia dan selamat menyusul kedua orang tua Anda, Nona Muda Alexander!" seru Felisa diiringi gelak tawa yang menggelegar.


______________________________________


Selamat pagi gaes


3 bab sudah mendarat dengan sempurna. Jangan lupa dukungan kalian ☺

__ADS_1


Yang mau gabung Grup Whatsapp Othor, hayukk colek Othor 😅


Semoga hari kalian menyenangkan 😍


__ADS_2