Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
48


__ADS_3

"Ya, aku juga tidak menyangka. Padahal dulu dia membantumu," balas Nathan.


"Tapi dia bukan tersangka utama, Nat. Ada dalang dibaliknya," timpal Alvino. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Kita harus menangkap mereka sekaligus. Setelah itu, aku akan meminta maaf pada Nadira," ucap Nathan yakin. Alvino beranjak bangun dari duduknya.


"Semoga saja Nadira masih mau memaafkanmu, Nat. Kalau saja aku tahu semua bukan caramu melindungi Nadira, maka aku sudah membiarkan Nadira menikah dengan Rendra." Alvino tersenyum miring. Sebenarnya, dia marah perempuan satu-satunya disakiti seperti itu, tapi Alvino berusaha mengerti.


Alvino berjalan keluar ruangan diikuti Nathan yang berjalan di belakangnya. Tujuan mereka saat ini adalah kamar Nadira. Alvino akan menjemput istrinya untuk segera beristirahat.


Ketika pintu kamar terbuka, Alvino dan Nathan melihat keempat wanita itu masih sibuk mengobrol. Cacha sedari tadi berceloteh, sedangkan Nadira hanya diam menyimak dan sesekali terlihat memaksa senyumnya.


Melihat Alvino dan Nathan berjalan mendekati kasur, Nadira segera beranjak bangun dan memasang raut wajah datar.


"Sayang, ayo kita istirahat. Kasihan baby JJ," ucap Alvino. Dia mencium perut buncit Rania dengan sangat lembut. "An, kamu menginap di sini saja. Kenan baru akan tiba di Indonesia besok pagi."


Mendengar ucapan Alvino, wajah Ana berbinar bahagia. "Kamu tidak berbohong kalau Kak Ken sedang pulang?" tanya Ana memastikan. Alvino mengangguk dengan kening yang mengerut.


"Wah, udah berani bohong. Awas aja ntar kalau Kak Ken sampai rumah aku unyel-unyel deh. Katanya dia masih sekitar satu minggu di sana," tutur Ana. Wajah Alvino langsung terlihat masam. Dia harus bersiap kena amarah Kenan, karena dia yakin sahabatnya itu akan memberi kejutan untuk istrinya.


"Dia sih bilangnya gitu tadi siang, entah kalau mundur lagi. Ya udah ayo, Sayang. Kita ke kamar," ajak Alvino berusaha mengalihkan perhatian. Rania pun bangkit berdiri dan berjalan bersama suaminya menuju ke kamar.


"Tunggu, Al! Jangan coba-coba menghindar!" teriak Ana, tapi Alvino seolah menulikan telinganya.


"Sudahlah, An. Lebih baik kita ke kamar. Aku sudah lelah." Cacha menarik tangan Ana dan berjalan cepat sebelum Nadira melarangnya.

__ADS_1


Setelah pintu kamar tertutup rapat, suasana di kamar itu menjadi begitu hening. Nadira duduk di atas kasur dengan raut wajah datar, sedangkan Nathan berdiri tidak jauh. Lelaki itu menatap lekat wajah istrinya.


"Nona Muda," panggil Nathan. Namun, Nadira tidak menyahut sama sekali.


"Pergilah. Jangan berada di kamarku," kata Nadira ketus.


"Jangan lupa, Nona. Kalau saya masih suami sah Anda!" tegas Nathan. Nadira menarik salah satu sudut bibirnya.


"Aku tidak mungkin lupa, Kak. Bahkan aku tidak lupa bagaimana Kak Nathan bersikap manis dengan Nona Jasmin. Oh astaga! Maaf aku lupa kalau Nona Jasmin sebentar lagi akan menjadi istrimu," sarkas Nadira. Kedua alis Nathan terlihat saling menaut.


"Maksud Anda apa?" tanya Nathan bingung.


"Jangan berlagak tidak tahu, Kak. Bukankah Kak Nathan sudah membelikan cincin pernikahan untuk Nona Jasmin dan melamarnya ketika acara peresmian?" tanya Nadira. Nathan menatap heran ke arah istrinya yang sedang mengusap airmata.


"Siapa yang bilang? Asal Anda tahu kalau saya tidak pernah melamar Jasmin!" ucap Nathan tegas. Nadira mendongak, menatap mata Nathan dengan lekat untuk mencari kesungguhan ucapan lelaki itu.


"Tentu saja. Anda boleh bertanya kepada siapa pun yang hadir."


Mungkinkah selama ini aku sudah salah paham? Batin Nadira. Melihat Nadira terdiam, Nathan yakin kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis itu.


"Tidurlah, Nona. Sepertinya Anda sudah terlalu lelah." Nathan naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Nadira. Dia tidak peduli meski Nadira mengusirnya. Karena dia tahu betapa rapuh istrinya saat ini.


Nadira yang sudah sangat lelah, akhirnya membiarkan Nathan tidur di sampingnya. Dia membelakangi suaminya dan menarik selimut sampai sebatas bahu. Tanpa sadar, airmata Nadira mengalir saat bayangan kedua orang tuanya datang menghampiri. Bahkan sampai saat ini, Nadira belum percaya kalau kedua orang tuanya telah tiada.


Mendengar isak tangis istrinya, Nathan bergeser mendekat dan menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Kak!" Nadira berusaha meronta, tapi dekapan Nathan justru semakin erat.


"Menangislah sepuasnya, Nona! Jangan pernah berusaha selalu terlihat baik-baik saja! Ada kalanya kita menangis untuk sekedar mengurangi beban hidup yang terasa berat." Setelah Nathan selesai bicara, Nadira terisak keras sambil memukul dada Nathan dengan kencang. Lelaki itu terdiam, membiarkan dadanya dijadikan samsak oleh istrinya meluapkan segala keluh kesah yang selama ini dipendam.


"Aku benci daddy dan mommy yang udah tega tinggalin aku! Aku benci mereka! Aku juga benci Kak Nathan yang selalu memanggilku Nona Muda!" Airmata Nadira masih terus mengalir, hati Nathan rasanya seperti diremas dengan sangat kuat.


"Kak," panggil Nadira lemah setelah gadis itu lelah menangis. Nathan melerai pelukannya. Dia menatap lekat wajah istrinya yang sudah penuh jejak airmata. Nathan menangkup kedua pipi Nadira, dan mengusap airmata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.


Sementara Nadira menatap Nathan dengan sayu. "Kak! Karena daddy dan mommy sudah pergi selamanya ...." Nadira menghela napas panjang. Nathan hanya diam mendengarkan, entah mengapa perasaannya mendadak tidak nyaman.


"Ayo kita bercerai!" ucap Nadira tegas.


_________________________________________


Sudah cukup segini? πŸ˜…


Ada yang kangen sama Othor enggak nih?


Aishhh, dukungan jangan lupa masih selalu ditunggu.


Othor mau iklan Nih.


Yang mau gabung di GC WA "Sahabat Othor Kalem"


Hayukkk colak-colek pasti roma irama πŸ˜…

__ADS_1


Thor, kan biasanya 3 bab. Tenang ... selanjutnya nyusul. πŸ˜‚



__ADS_2