
Selama dalam perjalanan menuju ke kantor, Nathan duduk bersandar dengan beberapa kali menghela napas berat. Zack yang melihat pun, hanya menatap heran dari kaca kecil depan mobil. Dia yakin kalau saat ini, atasannya tersebut sedang memiliki masalah dengan istrinya.
Mobil yang dikendarai Zack memasuki halaman gedung Saputra Group. Setelah mobil berhenti di parkiran, mereka segera turun karena jam kantor sudah masuk setengah jam lalu, sedangkan saat ini ada tamu yang sedari tadi menunggu.
Nathan bergegas masuk dan menemui tamu tersebut. Dirinya berkali-kali meminta maaf karena sudah terlambat datang. Beruntung, tamu tersebut tidak mempermasalahkan.
Baru saja Nathan mengantar tamunya pulang, ponsel di saku jasnya terasa bergetar. Nathan segera menarik keluar ponselnya dan melihat nama istrinya tertera di layar.
"Hallo, Beb."
"Mas, kamu sudah di kantor?"
"Sudah. Aku barusan bertemu klien. Ada apa? Kamu merindukanku?" tanya Nathan menggoda.
"Tidak!"
Mendengar jawaban cepat dari istrinya membuat senyum Nathan memudar seketika.
"Terus kamu mau apa?"
"Nanti siang kamu jadi pulang 'kan?" Nadira justru bertanya balik.
"Aku usahakan. Kamu mau sesuatu?"
"Aku pengen makan burger." Suara Nadira terdengar begitu manja, Nathan pun merasa gemas. Andai saat ini mereka sedang bersama, sudah pasti Nathan akan mendaratkan banyak ciuman di wajah istrinya.
__ADS_1
"Nanti aku belikan."
"Mas, tapi aku tidak mau burger isi daging. Maunya isi tempe dipenyet."
"Apa!"
Lengkingan suara Nathan mengejutkan Zack yang sedang sibuk menata kembali berkas-berkas yang berserakan di meja. Dia bergegas bangun dan berjalan mendekati atasannya saat manik matanya menatap wajah Nathan yang tampak memucat.
"Ada apa, Tuan?" tanya Zack setengah berbisik. Nathan menggeleng, dengan tangan melambai memberi kode kalau semua baik-baik saja.
"Beb, kamu yang benar saja. Mana ada burger isi tempe."
Zack melongo sesaat, tetapi kemudian dia menutupi tawanya. Nathan yang melihat itu hanya mendelik tajam kepada asisten pribadinya.
"Ya sudah, nanti aku carikan. Baiklah, aku matikan dulu. Aku mencintaimu, Beb."
Setelah panggilan itu terputus, Nathan menaruh ponsel tersebut secara sembarang di samping komputer. Dia mengusap wajah kasar diiringi helaan napas panjang. Rasanya dia benar-benar heran dengan keanehan istrinya.
Baru juga Zack hendak bertanya, terdengar pintu ruangan dibuka dari luar tanpa diketuk terlebih dahulu. Nathan mendengkus kasar saat melihat kakak iparnya, berjalan masuk dengan langkah santai.
"Ada apa kamu datang ke sini, Kakak Ipar?" tanya Nathan lesu.
"Kenapa wajahmu jelek begitu?" Bukannya menjawab, Alvino justru bertanya balik sembari menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Tidak apa." Nathan menjawab singkat. Dia duduk bersandar dan memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Jangan bohong, Nat," ucap Alvino, tetapi Nathan tidak lagi menjawab. "Nat, nanti malam jangan lupa datang ke rumah. Baby Jin sangat merindukanmu."
Nathan menghentikan pijatannya saat mendengar nama bayi Jinny disebut. Bayi lucu menggemaskan yang selalu menangis setiap ditinggal Nathan pulang. Baru tiga hari dirinya tidak bertemu bayi gembul tersebut, tapi rasanya dia sangat merindukannya.
"Baiklah, nanti sore aku ke sana." Nathan tampak begitu semringah. Namun, sesaat kemudian dia menatap Alvino dengan memelas.
"Kenapa kamu lemes gitu sih, Nat?" tanya Alvino heran. Alis lelaki itu saling bertautan melihat raut wajah Nathan yang berubah cepat.
"Kamu tahu, Al. Adikmu itu sangat aneh!" ucap Nathan. Lelaki itu langsung menunjukkan rentetan gigi putih saat melihat Alvino yang mendelik tajam padanya.
"Berani sekali kamu mengatai Nadira." Alvino tampak begitu kesal.
"Aku tidak mengatai, Al. Aku bicara sejujurnya. Tadi pagi jam satu, dia bikin nasi goreng tanpa kecap," papar Nathan. Alvino yang barusan tampak kesal pun, kini menatap heran.
"Terus pagi waktu aku mau berangkat ke kantor, dia nangis gegara mau pakaiin dasi, padahal aku udah dandan rapi."
"Terus?" sela Alvino.
"Ya aku lepas lagi, terus dia pasangin lagi." Nathan menjawab dengan raut kesal. Alvino yang mendengar pun, terkekeh melihat wajah Nathan.
"Kamu emang bucin, Nat," ucap Alvino.
"Penderitaanku belum selesai, Al. Barusan dia telepon minta burger tapi isinya tempe penyet bukan daging," ucap Nathan disusul gelakan tawa Alvino yang menggelegar memenuhi ruangan itu.
Lelaki itu rasanya sangat puas melihat wajah kesal sahabatnya, dia yakin kalau adiknya pasti sedang mengerjai suaminya yang sangat menyebalkan itu. Mendengar tawa Alvino, Nathan semakin terlihat begitu kesal.
__ADS_1
"Jangan-jangan Nona Muda Nadira, sedang hamil, Tuan." Ucapan Zack, seketika meredam tawa Alvino, sedangkan Nathan menatap asistennya tersebut dengan sangat dalam.