Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
150


__ADS_3

Di kamar dengan nuansa biru tosca, Nadira merebahkan tubuh di kasur dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Wanita itu sedang merajuk. Setelah menaruh Baby Jun di kamar, dengan bergegas dia kembali ke kamar. Sebagai tanda kalau wanita itu sedang marah.


Cukup lama bergelung dengan selimut, tetapi tidak ada sedikit pun tanda-tanda suaminya datang, meski untuk sekedar meminta maaf apalagi merayu.


Hati Nadira semakin merasa kesal, dengan memukul-mukul kasur, serta mengumpati suaminya sebagai suami yang tidak peka. Saking asyiknya memukul, wanita tersebut tidak menyadari kalau Nathan sudah masuk kamar dengan perlahan. Bahkan, lelaki itu membuka pintu dengan gerakan slowmotion, dan berjalan mengendap-endap seperti maling.


Bibir lelaki itu tersenyum simpul saat melihat istrinya terbenam dalam selimut seperti kepompong, padahal cuaca sedang terik-teriknya. Dengan jahil, lelaki itu mematikan AC lalu duduk dengan santai di sofa tunggal yang berada tidak jauh dengan tempat tidur.


Sementara Nadira mulai terlihat menggeliat, saat hawa panas mulai menyeruak. Bahkan keringat mulai keluar dari dahi, dan juga membasahi lehernya.


Dengan cepat, Nadira membuka selimut itu lalu menghirup napas dalam dengan tangan mengibas-ibas di depan wajah untuk mengurangi rasa gerah di tubuhnya.


"Astaga, rasanya seperti terpanggang!" umpatnya. Dia belum menyadari keberadaan Nathan yang sedang menatapnya sedari tadi.


"Kak Nathan emang beneran nyebelin! Udah bikin jengkel, enggak mau minta maaf atau nyusul pula! Dasar lelaki enggak peka!" omelnya, sambil terus mengibasi wajahnya.


Nadira berbalik, tetapi tubuhnya langsung menegang saat melihat sosok manusia sedang duduk di sofa dengan senyum seringai di sudut bibir. Napas Nadira seolah tercekat di tenggorokan, dengan susah payah dia menelan salivanya.


"Kenapa kamu diam, Beb?" tanya Nathan dengan senyum meledek.

__ADS_1


"Sejak kapan Kak Nathan di situ?" Nadira bertanya balik. Dia berusaha menormalkan suaranya dan kembali berpura-pura marah.


"Sejak kamu mengumpatiku sebagai suami tertampan di seluruh dunia, dan tidak ada tandingannya," jawab Nathan berseloroh, setelahnya lelaki itu tergelak dengan sangat keras.


"Kapan aku bicara seperti itu? Jangan ngaco!" Nadira mengembuskan napas kasar.


Nathan tidak menyahut, hanya berjalan mendekati istrinya dengan gerakan perlahan. Melihat senyum licik di bibir suaminya, Nadira semakin merasa susah payah menelan salivanya.


Merasa perasaannya tidak enak, Nadira segera beranjak bangun dan hendak turun dari tempat tidur. Namun, Nathan dengan cepat naik ke atas tempat tidur, memeluk tubuh istrinya dan kembali merebahkan di atas kasur.


"Kak Nathan, lepasin!" teriak Nadira, tetapi Nathan justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku bukan kakakmu! Sekali lagi kamu memanggil kakak maka aku akan menelanjangimu dan tidak akan membiarkan keluar kamar selama seminggu, dan kita akan ...." Nathan menghentikan ucapannya. Dia memajukan wajahnya dekat dengan wajah Nadira yang hanya diam dengan raut sedikit masam.


"Akan bermain sodok-sodokan setiap waktu!" bisik Nathan dengan senyum miring. Nadira mendecakkan lidahnya, sangat kesal.


"Bisakah kamu tidak berpikir atau berbicara mesum sekali saja?" Nadira bersungut-sungut. Dengan gemas, Nathan mendaratkan ciuman di pipi sang istri.


"Maafkan aku, Beb." Nathan bicara dengan lembut, bibir lelaki itu mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Sudahlah, Kak. Aku cuman kesal aja. Kamu masih menyimpan foto Jasmin, sedangkan nomor Mas Rendra di ponselku, kamu blokir."


Nathan terdiam, dia tidak menyangka kalau istrinya tahu apa yang sudah dia lakukan.


"Kapan aku melakukannya?" tanya Nathan berpura-pura tidak tahu apa pun.


"Jangan bohong, Mas! Cacha bilang padaku kalau Mas Rendra menghubungi dia, dan mengatakan kalau nomornya sudah ku blokir," papar Nadira dengan bibir mengerucut.


"Kapan itu manusia menghubungi Cacha? Ternyata dia masih punya keberanian juga!" cibir Nathan dengan senyum meledek.


"Jangan kaya gitu. Mas Rendra tuh hubungi Cacha karena mau minta maaf dan minggu depan dia bakal nikah sama Anisa."


"Apa!" sergah Nathan. Nadira merasa sebal karena suara Nathan membuat telinganya berdenging.


"Kamu serius, Beb?" tanya Nathan memastikan. Nadira mengangguk dengan cepat.


"Seriuslah. Sepertinya minggu depan aku bakal datang deh, Mas. Tidak enak kalau aku tidak hadir di pernikahan Mas Rendra. Bagaimanapun juga, Mas Rendra selama ini sudah sangat baik sama aku." Nadira bicara dengan ragu. Dia takut suaminya akan marah atau tidak memberinya izin untuk datang ke pernikahan Rendra.


"Aku akan mengantar kamu ke pesta pernikahan mantan kekasihmu itu, tapi dengan satu syarat." Nathan tersenyum licik, sedangkan Nadira memutar bola matanya malas saat melihat senyum suaminya.

__ADS_1


"Aku belum pernah pacaran sama Mas Rendra! Syarat apalagi sih, Mas?" tanya Nadira dengan sedikit ketus.


"Selama satu minggu ke depan, kita akan melakukan anu, sehari tiga kali," cetus Nathan. Kedua bola mata Nadira melebar sempurna.


__ADS_2