
Seusai makan, Febian mengajak Ara kembali ke apartemen untuk beristirahat. Selama dalam perjalanan, Ara terus saja diam hingga membuat Febian heran. Bahkan, wanita itu terus saja menatap keluar jendela dan saat Febian berdeham keras, Ara tidak terusik sama sekali.
Citt!
Febian menahan tubuh Ara dengan lengannya supaya tidak terbentur dashboard mobil. Jantung Ara berdebar sangat kencang karena mobil itu berhenti secara tiba-tiba. Ara menoleh, menatap Febian yang juga sedang menatapnya penuh arti.
"Kenapa berhenti mendadak?" tanya Ara.
"Kenapa kamu melamun? Adakah yang mengusik pikiranmu?" Febian justru bertanya balik. Ara kembali menatap ke luar jendela.
"Tidak ada." Ara berbohong. Satu tangan Febian mencengkeram setir kemudi dengan kuat.
"Baiklah. Sepertinya kamu tidak menganggapku sebagai suami." Febian menginjak pedal gas perlahan, Ara berbalik dan menahan lengan suaminya.
"Aku akan bicara di rumah. Fokuslah menyetir." Ara menatap Febian dengan sangat lekat. Febian menghela napas panjang terlebih dahulu lalu melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
Setibanya di apartemen, Febian langsung mengajak Ara masuk karena dia sudah tidak sabar ingin mengetahui hal apa yang membuat istrinya menjadi begitu gelisah. Mereka berdua tidur telentang dan Ara menjadikan tangan Febian sebagai bantalan. Ara menatap langit-langit kamar saat pikirannya kembali terusik karena pertemuannya dengan Imelda —istri Hendra—.
"Katakanlah. Aku sudah tidak sabar." Febian begitu terburu, Ara melingkarkan tangan di perut suaminya sebelum memulai bercerita.
"Aku barusan bertemu Imel." Suara Ara terdengar berat. Febian bisa menebak Imel adalah wanita yang tadi terus mengamati.
"Siapa dia?" tanya Febian penasaran. Tangannya mengusap rambut Ara dengan perlahan.
"Sahabat yang menikah dengan mantan kekasihku." Febian menghentikan gerakan tangannya saat mendengar embusan napas kasar terdengar dari istrinya.
"Apa wanita berambut pirang tadi?" Ara mendongak, menatap suaminya dengan alis yang terlihat mengetat.
"Bagaimana mereka bisa berada di sini?"
"Aku lupa kalau Mas Hendra tinggal di Bandung. Yang kutahu Bandung itu luas, tapi kenapa aku harus bertemu dengan wanita itu lagi." Ara mendes*h kasar.
__ADS_1
"Kamu masih mencintainya?" tanya Febian penuh selidik. Bukannya menjawab, Ara justru tergelak keras.
"Kamu jangan becanda, Mas! Aku tidak mungkin masih mencintai seseorang yang pernah mengkhianatiku. Bukankah pengkhianat lebih cocok dengan penggoda?" Ara kembali tergelak, dan Febian tersenyum lebar saat mendengarnya.
"Syukurlah kalau kamu sudah tidak lagi mencintainya. Aku akan menaruh beberapa pengawal di belakangmu." Ucapan Febian membuat bibir Ara bungkam seketika.
"Mas, aku tidak mau ada pengawal! Aku ingin tetap menjadi wanita biasa." Ara menolak tegas.
"Aku tidak mau kamu kenapa-napa. Entah mengapa aku merasa khawatir. Biar mereka menjagamu dari jauh." Febian memberi penawaran. Mau tidak mau, Ara hanya menyetujui karena baginya percuma menolak. Perintah Febian pasti sudah tidak bisa diganggu gugat.
Melihat istrinya yang menurut, Febian pun mendaratkan banyak ciuman dengan gemas hampir di seluruh wajahnya istrinya. Kemudian, dia mencium lembut bibir istrinya dengan sangat lama. Ara pun membalas dan mulai terbuai dengan permainan lidah suaminya.
Ara tak kuasa menahan desah*n saat Febian menciptakan sebuah tanda kepemilikan di lehernya. Bahkan tangan lelaki itu mulai merem*s kedua bukit kenyal yang sudah semakin membesar karena setiap hari mendapat hisap*n dan pijatan.
Namun, di saat sedang asyik melakukan pemanasan, ponsel Ara tiba-tiba berdering hingga menghentikan kegiatan mereka berdua. Awalnya, mereka tidak memedulikan, tetapi bunyinya terus saja berdering. Febian mengeram kesal lalu mengambil ponsel milik istrinya. Kekesalannya semakin menjadi saat melihat nama sepupunya tertera di layar. Dengan gerakan kilat, Febian segera mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Ra, tadi aku bertemu Hendra di parkiran mall."
Belum juga Febian bertanya, ucapan Ara tadi sudah membuat lelaki itu terdiam seketika. Tangannya semakin memegang ponsel dengan erat.