
Percintaan panas itu telah selesai, Mike dan Cacha tidur saling berpelukan dengan tubuh yang masih telanjang. Cacha membenamkan wajah di dada bidang Mike yang memiliki banyak bulu tipis. Sementara Mike mengusap rambut istrinya dengan sangat lembut.
"Neng, besok aku harus kembali ke Singapura, kamu di sini janji harus jaga diri baik-baik, ya." Mike mencium puncak kepala Cacha dengan penuh sayang. Wajah Cacha yang barusan sumringah pun kini terlihat sendu. Dia masih belum rela jika harus berpisah dari suaminya, tetapi dia masih ingin tinggal di Indonesia apalagi Queen sebentar lagi akan melahirkan.
"Aku belum rela jauh dari kamu, Mas." Cacha mengeratkan pelukannya seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal pergi jauh.
"Minggu depan aku akan pulang lagi. Kamu sangat penting untukku, tetapi pekerjaanku juga tidak bisa ditinggal, Neng. Maafkan aku." Suara Mike terdengar parau. Cacha mendongak dan menatap suaminya dengan lekat.
"Kamu harus janji jaga diri baik-baik di sana." Cacha mengarahkan kelingkingnya, Mike tersenyum sebelum akhirnya menautkan kelingking mereka.
Mereka berdua pun berusaha untuk tertidur lelap karena rasa lelah. Namun, baru saja mata mereka terpejam, terdengar suara getar ponsel yang beradu dengan nakas. Mike segera melihat siapa yang menghubungi dirinya selarut ini. Kening Mike mengerut bahkan perasaan lelaki itu merasa tidak nyaman saat melihat nama Frans, tertera di layar.
"Hallo, Frans. Ada apa?" tanya Mike tidak sabar.
"Tuan Muda. Nyonya Elie drop dan saat ini sedang di ruang ICU."
Mike terdiam sesaat, berusaha untuk mencerna. Ketika Frans memanggilnya berkali-kali, barulah kesadaran lelaki itu kembali.
__ADS_1
"Sejak kapan, Frans? Kenapa kamu baru bilang?" Suara Mike sedikit meninggi dan mengejutkan Cacha yang baru saja terlelap. Menyadari itu, Mike segera memeluk erat tubuh istrinya dan taklupa meminta maaf pada wanita itu.
"Aku akan pulang besok pagi buta, Frans." Mike berusaha menormalkan suaranya.
"Tuan, biar saya jemput dengan jet pribadi, keadaannya sangat mendesak, Tuan. Saya takut terjadi apa-apa, apalagi Tuan Richard juga ikut lemah karena melihat keadaan Nyonya Elie."
"Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang." Mike mematikan panggilan itu begitu saja.
"Ada apa, Mas?" tanya Cacha heran.
"Neng, aku akan pulang sekarang juga. Nenek masuk rumah sakit karena drop," sahut Mike. Dia melepas pelukannya di tubuh istrinya dan segera turun dari tempat tidur untuk bersiap-siap.
"Kamu di sini saja, Neng. Aku tidak mau kamu kelelahan." Mike menahan tangan Cacha.
"Tidak mau, Mas. Aku akan ikut denganmu." Cacha bersikukuh.
"Baiklah, tapi jangan mandi. Ini sudah malam." Cacha mengangguk mengiyakan. Dia hanya mencuci muka lalu memakai pakaian tebal.
__ADS_1
Setelah mereka berdua siap, Mike dan Cacha segera berpamitan dan mengatakan semuanya. Anggota keluarga mereka hanya mendoakan semoga semua tetap baik-baik saja. Selama dalam perjalanan, Mike hanya diam saja karena dia merasa begitu gelisah juga pikirannya sangat tidak tenang.
***
Mike melangkah dengan sedikit tergesa, tetapi tak lupa tetap menggandeng tangan Cacha. Mereka langsung menuju ke ruang ICU. Namun, sesampainya di sana tubuh Mike menegang saat mendengar tangisan sang kakek yang tertahan.
"Nenek." Mike berjalan cepat menuju ke brankar bahkan melepaskan genggaman tangannya begitu saja. Cacha hanya terdiam dan tak kuasa menahan air matanya.
"Mike, nenekmu ...." Richard memukul dada karena napasnya terasa begitu sesak. Mike pun segera memegang kedua bahu kakeknya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Mike, Elie ... sudah meninggal. Dia meninggalkan aku begitu saja." Richard menangis tergugu disela rasa sakit yang begitu menghujam jantungnya. Mike pun berusaha keras menahan air matanya, tetapi cairan bening itu tetap jatuh juga membasahi wajahnya.
Frans yang baru saja datang juga tak kalah khawatirnya dan segera memanggil dokter untuk memeriksa Richard. Namun, kalah cepat. Richard sudah tidak sadarkan diri terlebih dahulu. Mike pun segera membopong tubuh Richard dan menidurkan di brankar sebelah yang kebetulan kosong.
"Bisakah kalian lebih cepat!" hardik Mike saat seorang dokter baru saja masuk. Rasa cemas yang melingkupi hati Mike membuat emosi lelaki itu naik secara tiba-tiba. Mike begitu tidak sabar saat dokter tadi sedang memeriksa Richard. Sementara Cacha sudah berdiri di samping jenazah Elie, dia tak kuasa menahan air matanya.
"Maaf, Tuan. Tuan Richard baru saja meninggal dunia beberapa detik yang lalu."
__ADS_1
Ucapan dokter itu seolah meruntuhkan dunia Mike seketika. Bak tersambar petir, Mike tidak percaya kalau dia harus kehilangan kakek-neneknya dalam satu waktu yang bersamaan.
"Ini tidak mungkin!" Mike menjambak rambutnya kasar, Frans juga tak kuasa menahan air mata, sedangkan Cacha sudah terduduk di kursi. Wanita itu juga masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi.