Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
149


__ADS_3

Baik Johan maupun Mila hanya menatap putrinya yang masih saja terdiam. Bahkan gadis itu masih saja meletakkan sendoknya. Sebenarnya, mereka tahu kalau anak gadisnya sudah memiliki perasaan dengan Mike, tetapi mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putrinya.


"Kenapa kamu sedih begitu, Cha? Kamu sakit mendengar Mike menikah?" tanya Mila menyelidik. Cacha menggeleng lemah. "Terus kenapa wajahmu jelek gitu?" tanyanya lagi.


"Cacha cuman sedih aja. Mereka semua udah mau pada nikah semua. Lah, Cacha? Jangankan calon suami, baru menjalin hubungan aja udah di sakitin berkali-kali," keluh Cacha.


"Percayalah, Cha. Jodohmu sudah dekat. Suatu saat pasti akan ada lelaki yang melamarmu dan menyayangimu dengan tulus."


"Entahlah, sekarang Cacha mau fokus sama karir Cacha saja dulu. Masalah jodoh, masa bodoh!" Cacha rasanya sudah menyerah dan merasa trauma untuk kembali mengenal cinta.


"Lebih baik sekarang kamu makan saja," suruh Johan. Cacha mengiyakan lalu kembali menyentuh makanannya.


"Mas," panggil Mila saat mereka sedang menikmati makanan. Johan tidak menjawab, hanya menoleh ke arah Mila yang sedang menutup mulutnya. "Aku kok, mual."


Kunyahan Johan terhenti seketika, Cacha pun melakukan hal yang sama. Johan menelisik wajah istrinya yang memang tampak sedikit pucat.


"Kamu mual?" tanya Johan memastikan. Mila mengangguk, tangan wanita paruh baya itu memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit yang mendera kepalanya.


"Mungkin kamu masuk angin?" tanya Johan khawatir.


"Bisa jadi, Yah." Cacha menimpali.


"Enggak kayaknya deh, Mas. Astaga aku mual sekali." Mila kembali menutupi mulutnya. "Kayaknya aku hamil deh, Mas."


"Apa! Kamu jangan bercanda, Mil!" Suara Johan terdengar meninggi.


"Kenapa kamu sewot gitu, Mas! Kalau aku hamil, kamu enggak mau tanggung jawab 'kan? Kamu tega sama aku! Tiap malam kamu genjot, masa iya sekarang kamu mau lari dari kenyataan eh dari tanggung jawab," celoteh wanita paruh baya itu.


"Bunda, bercandamu enggak lucu!" Cacha pun mulai kesal, karena yang dia tahu, bundanya adalah orang yang selalu berlebihan.


"Bunda enggak bercanda, Cha." Mila terlihat begitu serius, membuat Johan merasa lemas seketika.


"Mil, kamu yakin kalau sedang hamil?" Suara Johan terdengar lemah.


"Kalau enggak mau tanggung jawab, ya udah, Mas!" seru Mila dengan wajah yang penuh amarah.

__ADS_1


"Bukan begitu, aku pasti akan tanggung jawab, Mil. Kamu istriku, mana mungkin aku tidak bertanggung jawab atas kehamilanmu. Tadi aku hanya kaget saja. Kita ini sudah waktunya memiliki cucu, bukan anak." Johan mencoba menormalkan suaranya.


"Tapi kalau kenyataannya aku hamil lagi, kita harus bersyukur 'kan, Mas?" tanya Mila.


"Pasti, bagaimanapun juga, anak adalah rezeki. Ya, walau dengan berat hati, aku akan tetap menerima." Johan pasrah. Kalau memang dirinya yang harusnya memiliki cucu, tetapi malah mendapatkan putra, ya sudah! Semua sudah jalan takdirnya.


"Bunda! Masa iya Cacha mau punya adik lagi? Cacha enggak mau!" seru Cacha.


"Ya, kalau sudah terlanjur gimana, Cha? Masa iya, bunda harus gugurin nih orok!" ketus Mila. Cacha pun terdiam, dengan wajah yang begitu masam.


"Lebih baik kita ke dokter, Mil. Atau biar aku telepon Queen untuk memeriksamu," kata Johan meraih ponsel dan hendak menghubungi anak menantunya, tetapi Mila justru menahannya.


"Jangan, Mas. Queen lagi kerja, jangan ganggu dia!" cegah Mila, Johan menatap Mila dengan lekat.


"Kalau begitu ke rumah sakit saja." Johan hendak beranjak bangun, tapi Mila langsung menahannya.


"Enggak mau. Aku udah sehat." Mila kembali duduk tegak, dan meminum jus mangga di depannya.


"Tapi, Mil kalau kamu beneran hamil gimana? Kita harus memeriksanya." Johan terlihat begitu memelas.


"Tentu saja!"


"Kalau kita punya anak lagi, kamu tidak keberatan 'kan?"


"Tidaklah, Mil. Bagaimanapun juga, itu anakku, darah dagingku!"


"Terus kalau ternyata aku tidak hamil, gimana?"


"Aku bersyukur, Mil. Ingat! Kita sudah waktunya memiliki cucu bukan anak lagi!"


"Terus, kamu lebih bahagia mana? Aku hamil lagi atau tidak?" Mila menatap Johan dengan sangat lekat, sedangkan lelaki itu terlihat bimbang. Dirinya terlalu takut untuk menjawab pertanyaan istrinya.


"Mas?" Mila menyadarkan Johan dari diamnya.


"Em, aku bahagia apa pun kenyataannya," sahut Johan lirih.

__ADS_1


"Pilih salah satu!" Mila mendesak.


"Aku lebih bahagia kalau kamu tidak hamil!" Johan bicara dengan tegas, tetapi begitu gugup.


"Ya sudah. Kalau begitu aku tidak akan hamil biar kamu bahagia. Lagi pula, aku enggak mungkin hamil lagi." Mila bicara dengan sangat santai, sedangkan Johan dan Cacha terlihat bingung.


"Maksud kamu?" tanya Johan penuh penekanan. Perasaan lelaki itu mendadak tidak enak, apalagi saat melihat Mila yang terlihat begitu tenang dengan kunyahannya.


"Bunda tidak hamil, 'kan?" Cacha bertanya dengan semringah.


"Tidaklah, Cha. Bunda ini sudah menopouse jadi mana mungkin bisa hamil. Bunda hanya ingin menguji cinta ayahmu saja," sahut Mila dengan tenang.


Mendengar jawaban sang bunda, Cacha tergelak sangat keras. Sementara bola mata Johan terlihat melebar sempurna, dan tangannya terkepal erat sehingga buku kuku-kukunya terlihat memutih.


"Mil—"


"Jangan marah dulu, Mas! Aku mau minum dulu, daripada nanti aku tersedak!" Mila meletakkan telunjuknya di bibir suaminya, lalu dia minum dengan gaya anggunnya. Johan pun seperti mati kutu, dan hanya bungkam melihat istrinya.


"Padahal, kalau bunda hamil lagi, bunda pengen anaknya cowok terus bunda kasih nama Gilang," tutur Mila. Bibir wanita itu tersenyum saat melihat Johan tidak lagi marah padanya.


"Nama yang bagus, Bun." Cacha mengacungkan dua ibu jari tangannya. Mila menepuk dada, merasa bangga.


"Pasti, dong! Bunda gitu, loh!? Biar mudah diingat. Gilang sipaku gilang, gilang si anak rama."


"Bunda!"


"Mila!"


Pekik Cacha dan Johan bersamaan, sedangkan Mila hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya. Dengan raut wajah seolah tak berdosa.


Othor khilaf gini kalian suka enggak?


Yah, kok sekarang sepi, kan othor jadi sedih 😢


Eh, hampir 20 bab, Othor enggak balas komen kalian, nunggu enggak nih? Tunggu ya, nanti pas udah sempet Othor balesin satu2

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah setia sampai sejauh ini.


__ADS_2