
Setelah memastikan Zack melakukan tugasnya dengan baik. Nathan segera menyuruh wanita yang dia bayar untuk berpura-pura, supaya pergi. Zack segera mendekati Nathan saat tidak lagi melihat wanita tadi.
"Sudah, Zack?" tanya Nathan. Dia mengusap lengan kemeja yang barusan bersentuhan dengan wanita bayaran tadi.
"Sudah, Tuan." Zack menyerahkan ponsel kepada Nathan yang langsung diraih lelaki itu. "Tuan, apa Anda tidak takut kalau nona muda marah dan itu akan berakibat tidak baik dengan hubungan kalian?" Zack merasa begitu waswas, tetapi Nathan justru tersenyum simpul.
"Justru aku ingin istriku marah, Zack. Biar kejutan ini semakin berhasil." Nathan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Bibir Nathan tersenyum saat melihat tiga panggilan tidak terjawab dari istrinya.
Nathan kembali menghubungi Nadira, tetapi panggilan itu tidak terhubung. Nathan yakin kalau saat ini, istri dan seluruh anggota keluarganya sedang berada di pesawat.
Nathan bangkit berdiri, lalu melangkah keluar restoran disusul Zack yang mengekor di belakang. Mereka masuk ke dalam mobil mewah milik Nathan yang sekarang sudah melaju menuju mansion Alexander.
Selama dalam perjalanan, Nathan duduk bersandar dengan salah satu tangan sebagai tumpuannya. Lelaki itu mencari berbagai ide supaya kejutan untuk istrinya terlaksana dengan sempurna.
Mobil yang dikendarai Zack berhenti di depan pintu utama Mansion Alexander. Nathan segera turun dan bergegas masuk. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sesaat karena pesawat yang akan ia tumpangi, baru akan lepas landas tiga jam lagi.
Namun, baru saja memasuki mansion, lelaki itu sudah disambut dengan tangisan Baby Jin yang begitu keras. Bahkan, Alvino maupun Rania terlihat begitu kewalahan mendiamkan bayi gembul itu.
"Baby Jin kenapa?" tanya Nathan saat sudah berada di dekat mereka.
"Kamu belum berangkat?" Alvino bertanya balik dengan kening mengerut.
"Belum. Aku baru berangkat nanti, tiga jam lagi." Nathan mengambil alih Baby Jin dari gendongan Rania, lalu menimang-nimang dengan perlahan. Tangisan bayi mungil itu langsung meredam begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Alvino lagi.
"Aku mau buat kejutan untuk Nadira." Nathan masih terus menimang Baby Jin hingga perlahan-lahan bayi itu terlelap.
"Kejutan?" Kali ini kedua alis Alvino terlihat mengetat, berusaha mengingat-ingat. Namun, sesaat kemudian lelaki itu menepuk kening dengan cukup kencang. "Astaga! Aku lupa kalau besok Nadira ulang tahun."
"Dasar kakak durhaka!" umpat Nathan dengan santai. Alvino mendelik, tetapi Nathan tetap terlihat begitu santai.
"Sudah, Mas. Jangan berantem lagi. Kalian itu kalau ketemu kenapa selalu berantem, sih." Rania berusaha melerai mereka.
"Tuan, Baby Jin mau ditidurkan di mana?" tanya Nathan saat bayi itu benar-benar sudah tertidur lelap.
"Di kamar saja, Kak. Makasih banyak ya." Rania mengajak Nathan masuk ke kamar untuk menidurkan putrinya. Sungguh mengherankan. Sekeras apa pun Baby Jin menangis, tetapi kalau sudah berada dalam gendongan Nathan, bayi itu akan langsung tertidur lelap.
***
Pesawat yang dtumpangi Nadira dan semua anggota keluarga Saputra juga Kenan dan Ana sedang mengudara. Nadira menatap ke bawah, melihat pemandangan darat yang tampak begitu kecil.
Sesekali, wanita itu mengembuskan napas panjang saat teringat akan suaminya yang saat ini masih di Jakarta.
Foto Nathan dan wanita lain benar-benar mengusik pikirannya. Mungkinkah saat ini suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain? Bahkan lelaki itu sampai menunda keberangkatan ke Bali.
Melihat wajah Nadira yang tampak sendu, Cacha hanya mengusap bahu Nadira dengan lembut. Seolah meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Nadira menarik kedua sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyuman, meski terpaksa.
__ADS_1
"Cha, menurutmu apa Kak Nathan selingkuh di belakangku?" tanya Nadira ragu.
"Tidak!" elak Cacha dengan tegas, "setahuku Kak Nathan bukan seorang pemain wanita. Bahkan sejak aku tahu Kak Nathan mencintaimu, aku tidak pernah melihat dia dekat dengan wanita mana pun. Hanya Jasmin saja."
"Aku juga tidak yakin, tapi melihat foto itu benar-benar Kak Nathan, jujur pikiranku ke mana-mana, Cha." Nadira kembali menghela napas panjangnya.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Kalau Kak Nathan memang selingkuh maka akan kupotong burungnya!" Cacha tergelak keras. Rayhan dan Queen yang duduk di sampingnya, sampai menoleh dan menatap heran.
"Jangan gitu sih, Cha!" Nadira memukul lengan Cacha dengan gemas, sedangkan Cacha melipat bibir menahan tawa.
Mereka pun kembali terdiam. Nadira berusaha memejamkan mata dan berusaha terlelap agar pikiran buruk tentang suaminya, tidak mengusiknya.
๐ฆ๐ฆ๐ฆ
Terima kasih atas doa kalian semua gaes, semoga dikabulkan ๐
Maaf banget ya gaes, Othor belum bisa fokus karena pikiran Othor lagi buyar
Daripada nanti ceritanya terasa datar, Othor Slow Update dulu ya
Nanti kalau sudah balik moodnya. Akan othor usahakan banyak up
Terima kasih atas kesetiaan kalian gaess
__ADS_1