Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
185


__ADS_3

Sembari berjalan keluar kamar, Nathan berusaha menghubungi Zack. Namun, tidak ada panggilannya yang diangkat sama sekali. Lelaki itu pun menggeram kesal. Ke mana dirinya harus mencari cilok sepagi ini? Di saat orang tidur sedang nyenyak-nyenyaknya.


"Demi Nathan junior." Nathan berusaha menyemangati dirinya sendiri. Dia membuka pintu garasi lalu masuk ke salah satu mobil di sana. Melihat majikannya hendak pergi, dua anak buah yang bertugas menjaga mansion pun berjalan mendekat.


"Anda mau ke mana, Tuan?" tanya salah satu di antara mereka.


"Aku mau nyari cilok isi tempe," sahut Nathan. Dua orang tersebut terperangah mendengar jawaban Nathan. "Kalian tau di mana penjualnya?" imbuhnya.


"Setahu saya tidak ada penjual cilok jam segini, jangankan isi tempe, cilok biasa saja tidak ada penjualnya," sahut mereka sopan. Nathan yang sudah memegang setir kemudi hanya menghela napas panjangnya.


"Tapi aku harus tetap mencarinya, supaya anakku enggak ileran," ucap Nathan lesu. Rasanya dia begitu enggan, tetapi dia tetap harus menuruti istrinya.


"Kalian tau di mana rumah penjual cilok?" Nathan beralih bersandar pada jok yang dia duduki.


"Saya tahu, Tuan. Kebetulan rumahnya di samping paman saya." Mendengar jawaban anak buahnya, Nathan tersenyum semringah.


"Antar aku ke sana. Berapa pun biayanya aku akan membayarnya." Nathan berbicara dengan antusias. Salah satu anak buah itu mengangguk mengiyakan, lalu menyuruh Nathan berpindah ke sebelah karena dia yang akan mengambil alih setir kemudi.


Mobil itu pun keluar dari mansion Alexander, menuju ke rumah penjual cilok. Selama dalam perjalanan, Nathan berusaha menahan kantuk, sedangkan anak buah itu fokus pada kemudinya.


Beberapa menit perjalanan, mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang masih gelap. Nathan merasa tidak enak hati, dia yakin saat ini sang pemilik rumah sedang tidur nyenyak. Dia ingin sekali mengurungkan niatnya, tetapi ketika teringat apa pun yang diinginkan ibu ngidam harus dituruti, Nathan pun akhirnya turun dari mobil.

__ADS_1


Dengan langkah lesu, lelaki itu berjalan di belakang anak buahnya, mendekati rumah tersebut. Namun, di saat tangan anak buahnya hampir mengetuk pintu, ponsel Nathan terdengar berdering. Lelaki itu merogoh ponsel dari saku celana dan memberi kode pada anak buahnya untuk berhenti dulu.


"Hallo, Beb." Nathan menjawab cepat panggilan dari istrinya.


"Kamu di mana?" Suara dari seberang telepon terdengar begitu ketus.


"Aku lagi di depan rumah penjual cilok. Mau minta bikinin pesanan kamu." Nathan berusaha menetralkan suaranya.


"Kamu yang benar saja, Mas! Jangan ganggu tidur orang lain!" Nathan menjauhkan ponselnya saat mendengar seruan Nadira yang begitu memekakkan telinga.


"Beb, ini 'kan demi bayi kita. Aku enggak mau kalau keturunanku ileran nantinya," timpal Nathan.


"Tapi, Beb ...."


"Pulanglah, aku sudah tidak sabar ingin mencoba resep ini bersamamu."


Belum juga menjawab, panggilan itu sudah terputus begitu saja. Nathan menatap layar ponselnya yang masih menyala dengan geram.


"Ayo kita pulang, istriku minta bikin sendiri." Nathan berbalik diikuti sang anak buah. Bibir lelaki itu sedari tadi terus saja menggerutu kesal. Begitu pintu mobil sudah terbuka, Nathan segera menghempaskan tubuhnya diiringi helaan napas kasar.


"Kita yakin pulang ke Mansion, Tuan?" tanya anak buah Nathan.

__ADS_1


"Ya, bangunkan aku kalau sudah sampai mansion." Nathan menguap, lalu memejamkan mata untuk mengobati rasa kantuk yang tidak tertahan. Anak buah itu hanya mengangguk lalu mengemudikan mobil tersebut.


Namun, baru saja memejamkan mata, ponsel Nathan kembali berdering, membuat mata lelaki itu kembali terbuka. Dia segera mengambil ponsel, dan mendesah kasar saat melihat nama istrinya tertera di layar. Perasaan Nathan kembali tidak enak.


"Hallo, Beb. Ada apa lagi? Kamu jadi beli saja ciloknya?" tanya Nathan, dia memberi kode pada anak buahnya untuk memelankan laju kendaraannya.


"Tidak! Aku ingin membuat cilok bersamamu, tapi ternyata tidak ada stok tempe di rumah. Maukah kamu mampir ke pasar membeli tempe?" pinta Nadira ragu.


"Adakah pasar yang buka jam segini?" tanya Nathan pada anak buahnya.


"Ada, Tuan. Di pasar tradisional buka dari jam satu pagi," sahutnya sopan.


"Baiklah, Beb. Aku carikan untukmu. Tunggu sebentar ya," ucap Nathan lembut meski dalam hati dia menggerutu.


"Makasih, Mas. Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Beb. Muach! Muach!" Nathan kali ini begitu bersemangat. Dia lalu mematikan panggilan tersebut.


"Ibu ngidam itu memang aneh 'kah?" tanya Nathan, sembari memasukkan ponselnya kembali ke saku.


"Dari yang saya dengar memang begitu, Tuan. Anda sebagai calon papi harus selalu sabar." Anak buah Nathan tersebut melajukan mobilnya menuju ke pasar tradisional yang berjarak cukup jauh dari sana. Nathan tidak lagi berbicara, hanya memejamkan mata diiringi helaan napas panjang.

__ADS_1


__ADS_2