Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
50


__ADS_3

Johan sudah bersiap untuk pergi ke sebuah restoran tempat dia berjanjian dengan kedua sahabatnya, Dharma dan Herman. Dia sengaja mengundang Herman dari Bandung untuk berterima kasih dengannya karena sudah membantu memajukan perusahaan JS Group.


Johan sudah berpakaian rapi memakai baju santai. Sebelum pergi, dia berpamitan dengan istrinya yang masih sibuk memasak bersama felisa dan beberapa pelayan di dapur mansion Alexander.


"Kamu tidak makan dulu, Mas?" tanya Mila. Johan menggeleng cepat.


"Tidak, aku makan nanti saja di restoran," sahut Johan. Dia mencium pipi Mila sebelum pergi.


"Tuan mau ke mana, Nyonya?" tanya Felisa saat Johan sudah tidak lagi terlihat.


"Mau bertemu sahabat kecilnya. Tuan Dharma dan Pak Herman," sahut Mila. Felisa mengangguk paham.


"Bukankah Tuan Dharma itu papa Nona Jasmin?" tanya Felisa lagi. Mila hanya menanggapi dengan anggukan. "Bukankah Tuan Herman di Bandung?"


Mila mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Felisa. "Kamu tahu Tuan Herman?" Mila menatap Felisa penuh selidik. Wajah gadis itu terlihat begitu gugup dan berusaha menghindari pandangan Mila.


"Bunda!" Teriakan Cacha berhasil mengalihkan perhatian mereka. Mila tersenyum tipis melihat Felisa menghembuskan napas lega.


"Apa si, Cha? Kamu pikir ini di hutan teriak-teriak gitu!" sahut Mila kesal. Cacha menunjukkan rentetan gigi putih dan tanda damai dengan kedua jarinya.


"Tadi ayah telepon kita suruh siap-siap." Cacha mengambil tempe goreng yang tergeletak di depannya.


"Bukannya kita mau berangkat besok pagi?" Mila melepas apron yang melekat di tubuhnya. Cacha tidak menjawab, karena masih sibuk dengan kunyahannya.

__ADS_1


"Tempenya asin banget, Bun." Cacha menenggak segelas air putih sampai tandas.


"Biarin, Ayah kamu suka tempe yang asin-asin. Bikin nagih," seloroh Mila diiringi gelak tawa. Cacha menautkan alis karena tidak paham ucapan Mila, sedangkan Felisa menutup mulut berusaha menahan tawa.


"Cuma ayah yang paham bahasa Bunda! Ayolah, Bun. Kita kembali ke kamar," ajak Cacha. Mila pun berjalan beriringan bersama putrinya.


"Eh aku lupa!" Cacha menepuk kening lalu berbalik dan melihat Felisa yang mulai membersihkan dapur itu. "Fel, tolong nanti malam kamu jagain Nadira ya. Kita ada urusan dan jangan bilang Nadira kalau kita pergi."


"Memang kalian mau ke mana, Nona?" tanya Felisa mencari tahu.


"Ya pokoknya ada urusan. Daripada Nadira ikut kasihan kakinya belum sembuh," terang Cacha.


"Baik, Nona." Felisa menjawab sopan.


***


Tiga orang lelaki paruh baya duduk berada dalam satu meja dengan beberapa aneka makanan terhidang di depannya. Mereka sibuk makan dengan diselingi obrolan ringan tentang keseruan masa kecil. Wajah ketiga lelaki itu tampak berbinar bahagia.


"Jo, putramu benar-benar hebat bisa mengelola perusahaan Saputra sampai sebesar sekarang," puji Herman. Johan tersenyum, tapi ekor matanya melirik Dharma diiringi seringai sangat tipis.


"Man, jangan heran kalau itu. Bukankah kamu tahu sendiri kalau Johan Saputra itu hebat, sudah pasti keturunannya pun sama hebatnya," sambung Dharma. Herman menepuk pundak Johan seolah merasa bangga dengan sahabatnya.


"Kamu juga hebat, Man. Aku berterima kasih kamu sudah bersedia membantuku mengelola JS Group, hingga kini sudah sangat maju." Johan memuji Herman yang disambut dengan senyuman lebar.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sudah menganggap JS Group itu seperti perusahaanku sendiri. Jadi sudah pasti aku mengelola perusahaan itu dengan semaksimal mungkin," ucap Herman tegas.


"Kalian berdua ini benar-benar jahat! Bisa-bisanya menutupi semua dariku," rajuk Dharma dengan memasang raut wajah kesal. Johan dan Herman sama-sama tergelak.


"Tapi sekarang kamu sudah tahu, Dhar." Herman memegangi perutnya yang terasa kram. Dharma tidak menyahut, dia hanya menyeruput teh panas dari gelas yang dipegang.


"Jo, katanya kamu mau pergi bersama seluruh keluarga Saputra dan Alexander nanti malam?" tanya Dharma.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Johan penuh selidik.


"Jangan lupa, Jo. Putri kesayanganku itu 'kan sekretaris pribadi putramu," sahut Dharma kembali menyesap teh hangatnya. "Sudah pasti aku tahu tentang kalian. Sepertinya aku harus menjewer putriku karena menyembunyikan soal JS Group."


Johan menatap tajam Dharma yang terlihat begitu gugup. "Jadi kamu jadikan Jasmin sebagai mata-mata?"


"Ti-tidak!" jawab Dharma cepat. "Aku hanya bertanya sedikit tentang kalian," imbuhnya.


"Kamu ini dari dulu memang tukang kepo, Dhar!" cibir Johan diiringi tawa renyah.


"Biarin kepo, daripada aku mati penasaran." Dharma mendengus kasar. Mereka pun kembali tergelak keras.


"Man, terima kasih ya kamu sudah bersedia jauh-jauh dari Bandung ngelayat ke sini." Johan menatap Herman dengan lekat.


"Tentu saja. Bukankah Tuan Davin itu orang yang sangat berarti bagimu," kata Herman

__ADS_1


"Mereka itu sudah menjadi separuh jiwaku." Suara Johan terdengar begitu berat. Jika membahas tentang Davin dan Aluna, akan menjadi luka tersendiri baginya. Kedua mata Johan mulai terlihat basah. Herman dan Dharma menepuk bahu sahabatnya untuk bersabar dan menerima semuanya dengan ikhlas. Bagaimanapun juga ini semua sudah takdir hidup yang sudah digariskan.


__ADS_2