Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
248


__ADS_3

Singapura


Alvino dan Febian yang baru saja sampai di bandara segera menuju ke kediaman Adhiwinata. Selama dalam perjalanan, Febian tampak begitu gugup, terlihat jelas dari lelaki itu yang terus saja menggigit kuku tangannya. Hampir dua puluh menit menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah yang sangat megah. Kehadiran mereka begitu disambut baik oleh keluarga Dharma.


"Sungguh kehormatan yang luar biasa, seorang Tuan Muda Alexander datang ke sini," ucap Dharma sedikit berbasa-basi.


"Maaf, Tuan. Saya baru saja sampai karena kemarin terlalu sibuk juga dalam suasana berkabung." Alvino berbicara dengan sopan.


"Ah iya, saya turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Richard dan Nona Elie. Kemarin saat saya melayat, katanya kalian baru saja pulang." Bibir Dharma tersenyum simpul.


Obrolan mereka terhenti sesaat ketika seorang pelayan masuk dan menyuguhkan kopi panas. Setelah kepergian pelayan itu, Dharma tidak lupa menyuruh tamunya untuk menikmati minumannya.


"Tuan, apakah Jasmin di rumah?" tanya Alvino karena sedari tadi melihat adiknya terus saja menatap ke arah tangga.


"Ya, sepertinya dia masih tidur. Sejak kepulangannya minggu lalu, dia jadi lebih sering mengurung diri di kamar." Dharma menjelaskan, tetapi sorot mata lelaki itu terlihat sedikit tidak bersahabat.


"Tuan, ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Terkait hubungan Bi dengan Jasmin," ucap Alvino, sedangkan Febian semakin tampak begitu gugup.


"Jasmin bilang hubungan kalian sudah berakhir, benarkah?" Tatapan mata Dharma mengarah penuh kepada Febian.

__ADS_1


"Hanya berhenti sejenak, Om. Saya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Jasmin." Febian menjawab dengan berusaha mengumpulkan keberaniannya.


"Bi, om minta maaf, tapi Jasmin bilang dia akan belajar menerima Damian." Perkataan Dharma mampu membuat tubuh Febian menegang. Dia tidak menyangka kalau Jasmin sudah berbicara sampai sejauh itu.


"Om, bolehkah aku bertemu Jasmin?" pinta Febian dengan suara tertahan.


"Sebentar, om panggilkan dulu." Dharma beranjak bangun dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Jasmin yang berada di lantai dua, sedangkan Alvino dan Febian masih duduk tenang di ruang tamu.


***


Dharma membuka pintu kamar Jasmin dengan perlahan karena takut mengganggu putrinya yang saat sedang berisitirahat. Namun, semua salah karena ternyata Jasmin sedang duduk gelisah di tepi tempat tidur. Raut wajah Jasmin tampak begitu gugup saat melihat sang papa yang sedang berjalan mendekat.


"Papa kira kamu sedang tidur, Jas." Dharma mendudukkan tubuhnya di samping putrinya.


"Kenapa kamu tidak menemui mereka? Kasihan mereka sudah jauh-jauh datang ke sini, Jas." Jasmin menggeleng lemah saat menanggapi pertanyaan sang papa.


"Jas, bolehkah papa meminta ketegasan padamu? Sekarang kamu pilih siapa? Bi atau Damian?" tanya Dharma begitu menuntut jawaban, tetapi Jasmin mendadak bungkam.


Jasmin masih sangat mencintai Febian, tetapi dia begitu terluka dengan Febian yang hampir saja merusaknya. Rasanya seperti trauma.

__ADS_1


"Jas, kalau kamu tidak mau menjalin hubungan dengan Bi, biar papa suruh mereka pulang." Suara Dharma begitu tegas, tetapi Jasmin tetap saja diam. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Dharma memilih ke luar dari kamar putrinya.


Alvino dan Febian yang masih menunggu di bawah, merasa harap-harap cemas saat melihat Dharma turun sendiri tanpa Jasmin. Bahkan lelaki paruh baya itu menampilkan raut wajah yang tampak bingung.


"Bagaimana, Om?" tanya Febian tidak sabar.


"Jasmin tidak menjawab. Bi, lebih baik kamu temui sendiri di kamar dan bicarakan kelanjutan hubungan kalian dengan baik-baik." Dharma berbicara lembut, Febian pun beranjak bangun dan bergegas menuju ke kamar Jasmin.


Dia begitu gugup saat sudah berada di depan pintu kamar Jasmin. Dengan perlahan dia mengetuk pintu itu. Tidak sahutan sama sekali padahal Febian sudah berkali-kali mengetuknya.


"Jas, aku mohon. Ada hal yang harus kita bicarakan saat ini juga." Suara Febian mulai melirih. Namun, pintu itu sama sekali tidak terbuka. Febian berbalik dan hendak pergi dari sana, tetapi mendengar suara pintu dibuka, Febian pun mengurungkan langkahnya.


Ketika Febian membalikkan tubuhnya, di saat itu pula dia melihat wajah kekasih yang sangat dicintai dan dirindukan. Seminggu lebih Febian tidak melihat wajah Jasmin, dan sekarang dia melihat raut sendu memenuhi seluruh wajah gadis itu.


"Ada perlu apa?" tanya Jasmin ketus.


"Ayo kita masuk, Jas. Aku ingin berbicara serius denganmu." Febian menjawab dengan antusias.


"Tidak mau. Aku takut kamu akan kembali melecehkanku!" Febian mencelos mendengar ucapan Jasmin.

__ADS_1


"Jas, aku minta maaf. Aku benar-benar ingin berbicara serius denganmu dan aku tidak mau ada orang lain yang mendengarnya." Febian begitu memohon.


"Kalau begitu ikutlah denganku." Jasmin berjalan menjauhi kamar, sedangkan Febian mengekor di belakang gadis itu.


__ADS_2