Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
300


__ADS_3

Bandung


Dua bulan lebih usia kehamilan Ara, tetapi wanita itu masih saja mual dan muntah tiap pagi, bahkan sudah dua kali dia harus dirawat di rumah sakit karena kekurangan cairan. Febian selalu merasa cemas dan khawatir dengan istrinya. Hampir setiap hari pula dia berkonsultasi dengan Queen lewat pesan chat, dan sesekali atau panggilan telepon.


"Mas, kamu tidak ke kantor?" tanya Ara saat melihat suaminya masih duduk tenang di atas tempat tidur.


"Nanti saja. Aku hanya ada rapat penting jam sepuluh. Kamu masih sangat mual?" tanya Febian lembut. Ara menggeleng lemah.


"Aku hanya mual saat bangun tidur aja. Mas, aku ingin sesuatu." Ara berkata dengan ragu. Febian turun dari tempat tidur dan mendekati istrinya yang saat ini sedang duduk di depan meja rias.


"Kamu ingin apa, hm? Katakan saja. Aku tidak mau anak kita ileran." Febian melingkarkan tangan di perut istrinya yang tampak sedikit menonjol. Tak lupa menaruh kepala di ceruk leher istrinya.


"Aku ingin ke kantormu," ucap Ara. Febian terdiam sesaat. "Mas, aku bosan terus-menerus di rumah. Aku ingin sekali-kali bermain ke kantormu dan bertemu Leona." Suara Ara terdengar sangat manja, membuat Febian menjadi begitu gemas.


"Baiklah. Ayo kita bersiap-siap." Wajah Ara langsung begitu sumringah saat Febian langsung menyanggupi permintaannya. Dengan penuh semangat, wanita itu berganti pakaian juga berdandan cantik. Febian yang melihat itu hanya menarik kedua sudut bibir membentuk senyuman.


Setelah keduanya siap, sebelum berangkat ke kantor mereka berpamitan dulu kepada ayah Ara. Kemudian, Febian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan, Ara terus saja mengoceh dan menunjuk beberapa pedagang yang berjualan di pinggir jalan.


"Mas, aku mau itu!" ucap Ara setengah berteriak. Febian yang terkejut pun langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. Selang beberapa detik, terdengar bunyi klakson dari arah belakang. Setelah kesadaran kembali, Febian menepikan mobilnya, sedangkan Ara menunduk dalam karena takut suaminya akan marah padanya.


Tanpa berbicara, Febian keluar dan melihat bemper mobil bagian belakang yang sedikit rusak karena tertabrak. Pengemudi mobil yang barusan di belakang pun ikut turun.


"Bisakah kamu tidak berhenti mendadak!" bentak orang itu. Febian menghela napas panjang.

__ADS_1


"Maaf, Tuan." Febian menangkup tangan di depan dada.


"Lihatlah, mobilku lecet!" bentak orang itu lagi. Febian mengumpat dalam hati. Dirinya memang salah karena sudah berhenti mendadak, tetapi kerusakan mobilnya jauh lebih parah daripada mobil orang itu.


"Tunggu sebentar." Febian mengeluarkan selembar cek dan menuliskan angka sepuluh juta di sana. Kemudian, dia menyerahkan uang tersebut kepada orang itu.


"Ini sebagai ganti rugi. Maaf, saya terburu-buru."


"Apa ini cek asli?" tanya orang itu tidak percaya. setelah melihat angka yang tertera di sana.


"Asli. Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa mencari saya lagi. Ini kartu nama saya." Febian menyerahkan kartu nama miliknya. Setelah membaca kartu nama itu, orang tersebut begitu terkejut karena Febian adalah pemilik perusahaan Alexander. Namun, Febian hanya menunjukkan senyum manis dan segera berpamitan pergi.


"Kenapa kamu menangis?" Febian merasa heran saat masuk ke mobil lagi, Ara sedang menghapus air mata dengan cepat. Ara tidak menjawab, hanya menggeleng lemah.


"Maafkan aku, Mas. Aku sudah membuat kita celaka," ucap Ara lirih. Febian menghirup napas dalam-dalam.


"Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Ini bukan masalah yang serius. Hanya saja, jangan kamu ulangi, ya." Febian berbicara selembut mungkin supaya tidak menyinggung perasaan istrinya. Ara pun mengangguk mengiyakan.


"Sekarang katakan padaku, kamu mau apa tadi?" tanya Febian. Ara menunjuk sebuah gerobak bubur ayam yang berada di seberang jalan.


"Tunggu sini, biar aku belikan untukmu." Febian hendak kembali turun, tetapi Ara segera menahan lengan lelaki itu.


"Mas, aku ikut." Ara merengek.

__ADS_1


"Sayang, kamu tunggu sini saja, ya. Biar aku belikan sebentar untukmu." Febian berusaha merayu.


"Mas, aku ingin kamu sendiri yang membuatkan bubur itu untukku." Ara kembali merengek.


"Tapi, Sayang. Aku tidak bisa." Wajah Febian tampak begitu memelas.


"Mas, aku ingin melihat kamu membuat sendiri, tapi kamu tidak mau. Lebih baik sekarang kita berangkat ke kantor saja." Ara melipat tangan di depan dada, pandangannya menghadap ke luar jendela. Febian mendengkus kasar saat melihat bibir istrinya yang maju lima centi.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di bibir Ara hingga membuat tubuh wanita itu sedikit terjengkit. Ara menoleh dan menatap Febian yang saat ini sedang tersenyum lebar ke arahnya. Ya, walaupun Ara tahu kalau suaminya sedikit tersenyum paksa.


"Kamu tunggu sini saja, dan aku akan membuatkan bubur itu untukmu." Febian berbicara pelan.


"Aku ikut denganmu, Mas." Ara masih tetap bersikukuh. Febian pun akhirnya hanya bisa mengiyakan. Namun, saat Febian mengajak turun, Ara kembali menahan. Dalam hati Febian merasa sangat kesal, tetapi dia mencoba tetap bersikap biasa saja.


"Apa lagi, Sayang?" tanya Febian berusaha meredam kekesalannya.


"Aku ingin kamu memakai ini."


Febian merasa tidak enak hati saat melihat Ara sedang merogoh tasnya. Benar saja, sebuah bando telinga kelinci berwarna pink tampak dalam genggaman wanita itu. Mata Febian membola sempurna.


"Sayang, kamu yang benar saja!" pekik Febian tidak terima. Ara menatap Febian dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan hampir mengalir deras kalau Ara tidak segera menghapusnya.

__ADS_1


"Astaga! Baiklah!" Febian menggaruk rambutnya kasar. Wajahnya tampak frustrasi, tetapi wajah Ara justru terlihat begitu bahagia.


__ADS_2