Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
254


__ADS_3

Mansion Alexander tampak seperti taman kanak-kanak. Sedari tadi suasana terasa begitu riuh dan sibuk untuk mempersiapkan diri berangkat liburan. Johan yang sedari tadi duduk di sofa, hanya memijat pelipis saat melihat Mila mengatur cucu mereka bahkan mengabsen bocah-bocah kecil itu satu persatu.


"Ingat! Tidak boleh ada yang pergi jauh sendirian. Kalau mau pergi, ajak yang lainnya." Mila memberi instruksi.


"Baik, Oma Cantik." Bocah kecil itu menjawab bersamaan. Mila mengacungkan jempol, sedangkan yang lain hanya terkekeh melihat nenek somplak satu itu.


Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat bersama. Johan sengaja membeli sebuah bus besar yang dalamnya sudah dimodifikasi agar mereka bisa berada dalam satu kendaraan dan merasa nyaman selama perjalanan. Suasana di dalam sana tidak pernah sepi. Celotehan dari anak-anak mampu membuat perjalanan terasa begitu mengasyikan.


"Mama, kenapa papa tidak ikut?" tanya Patricia —putri Cacha—.


"Papa masih sibuk, Sayang." Cacha menjawab lembut. Namun, Patricia terlihat begitu kecewa. Cacha mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh sayang. Sebenarnya Mike hendak ikut, tetapi tiba-tiba saja perusahaan mengalami masalah dan terpaksa membatalkan ikut liburan itu.


"Patrick! Kenapa kamu cemberut seperti itu!" Patricia yang sedang cemberut langsung menoleh ke arah Kenzo, dan tatapan gadis itu berubah kesal.


"Namaku Patricia bukan Patrick!" elaknya dengan tangan berkacak pinggang.


"Sama saja. Kamu lebih cocok dipanggil Patrick!" Kenzo masih saja menggoda gadis itu. Dia tergelak keras, tetapi hanya sesaat. Tawa Kenzo mereda saat melihat Patricia sudah memasang kuda-kuda.


Dari mereka semua, hanya Patricia yang sudah diajari ilmu beladiri bahkan gadis yang baru berusia empat tahun lebih itu sudah mulai belajar ilmu menembak dan memanah. Saat Patricia mendekat, Kenzo segera berlari dan memeluk Ana dengan erat.


"Mom, lihatlah Patricia hendak memukulku!" adu Kenzo.


"Patricia, jangan begitu, Sayang. Kenzo ini saudaramu." Mila berusaha meredam emosi cucunya. Dia memangku gadis kecil itu dan duduk bersebelahan dengan Ana. Kenzo menjulurkan lidah saat Patricia mendelik ke arahnya.


"Papa mamamu mengajari beladiri untuk menjaga dirimu sendiri, jangan disalah gunakan." Johan memberi nasihat.

__ADS_1


"Opa, aku membela diri dari anak nakal seperti Kenzo!" sahut Patricia, kembali menatap tajam ke arah Kenzo.


"Sudahlah, kenapa kalian kalau bertemu selalu saja bertengkar. Padahal hanya berkumpul saat liburan. Kalau setiap hari kalian bertemu, mungkin kepala Oma bisa pecah!" omel Mila.


"Tidak apa, Oma. Asal jangan hati Oma yang pecah. Karena patah hati itu sakit," seloroh Jinny diiringi gelakan tawa.


"Jinny! Darimana kamu tahu soal patah hati seperti itu?" tanya Alvino dengan sorot mata tajam.


"Maaf, Dad. Kata papi ...."


"Nathan!" pekik Alvino memotong ucapan Jinny.


"Kenapa teriak-teriak sih, Al! Aku belum budek!" sahut Nathan kesal.


"Kamu mengajari Jinny apa?" tanya Alvino penuh penekanan, tetapi Nathan tetap saja duduk bersandar dengan sangat santai.


"Jangan bilang apa pun pada daddymu, ini hanya rahasia kita," bisik Nathan. Jinny mengangguk sembari mengacungkan ibu jarinya. Melihat itu, justru membuat Alvino menjadi sangat curiga.


"Jinny kamu yakin tidak akan bilang sama daddy?" tanya Alvino dengan senyum licik.


"Dad ...."


"Baiklah, daddy tidak akan mengizinkanmu ikut kelas balap!" ucap Alvino tegas yang membuat Jinny segera berlari dan duduk di pangkuan sang papa.


"Baiklah, kali ini Jinny jadi teman daddy. Kata papi cinta itu indah. Jinny boleh menjalin hubungan dengan banyak cowok, tapi hati Jinny cukup untuk satu orang, dan ingat selalu menjaga batasan," papar Jinny.

__ADS_1


"Jonathan Saputra! Jinny masih kecil kenapa kamu mengajari dia hal-hal seperti itu! Dasar Kaleng Rombeng!" umpat Alvino tak mampu lagi menahan amarahnya.


"Aku hanya memberi nasihat untuk Jinny karena kulihat dia selama ini berteman dengan banyak cowok." Nathan membela diri.


"Bukan berarti kamu beri tahu dia hal seperti itu! Dia masih sangat kecil!" Alvino menendang tulang kaki Nathan saking kesalnya.


"Kamu jahat sekali, Al! Kupecat kau jadi kakak ipar!"


"Aku enggak takut! Kalau kita sudah bukan ipar, kunikahkan Nadira dengan lelaki yang lebih baik!" timpal Alvino tak kalah seru.


Nathan mendekati Alvino dan memegang lengan lelaki itu dengan erat. "Jangan gitu ya, Al. Kita ini sahabat baik. Nadira itu hanya untukku dan tidak ada yang lain lagi."


"Lepasin!" Alvino berusaha menyingkirkan tangan Nathan yang justru semakin melingkar erat.


"Tidak akan!"


"Lepasin, Nat!"


"Tidak!"


"Jonathan Saputra!"


"Aku tidak akan melepaskan!"


"Kaleng Rombeng!"

__ADS_1


"Janji dulu kamu tidak akan menikahkan Nadira dengan lelaki lain." Nathan memasang wajah memelas.


"Mom, kenapa mereka seperti kekasih yang sedang bertengkar?" Pertanyaan Junno berhasil membuat Nathan segera menurunkan tangannya dan kembali duduk di samping Nadira dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Alvino berdeham sembari menepuk bekas tangan Nathan dengan perlahan.


__ADS_2