Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
51


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, semua sudah bersiap untuk pergi. Hanya Nadira yang masih terlelap tidur setelah makan siang. Tidak semua tahu kalau Cacha memberi obat tidur dosis rendah di makanan Nadira tadi.


Rendra awalnya bingung, tapi saat Cacha bercerita dan memintanya untuk diam, lelaki itu begitu terkejut. "Cha! Kalian yang benar saja! Lebih baik aku di sini menjaga El!" tolak Rendra tegas.


"Mas, bisakah kamu memelankan suaramu? Banyak cicak menempel dinding di sekitar kita!" cebik Cacha. Rendra langsung menutupi mulutnya.


"Cha, kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Rendra cemas. Cacha mendekatkan wajahnya tepat di depan Rendra hingga lelaki itu begitu gugup. Mereka sama-sama terkunci dalam tatapan yang mampu mendebarkan hati.


"Jangan dekat-dekat!" Rendra menepuk kening Cacha dengan kencang hingga gadis itu terhuyung ke belakang.


"Sakit tau!" Cacha mengusap keningnya dengan bibir mengerucut, membuat Rendra menjadi begitu gemas.


"lebay banget sih! Ke mana-mana bawa pistol, kena ton ....." Cacha dengan cepat membekap mulut Rendra. Lelaki itu berusaha keras melepaskan tangan Cacha.


"Kamu bisa diem enggak, sih! Mulut kok kaya kaleng rombeng!" seru Cacha. Begitu tangan Cacha terlepas, Rendra meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Ketika Rendra hendak bicara lagi, Cacha sudah mendelik ke arahnya, memberi tanda lelaki itu untuk diam. Cacha pun mengajak Rendra bergabung dengan yang lainnya.


"Di mana Kak Nathan?" tanya Cacha saat tidak melihat keberadaan kakaknya.

__ADS_1


"Masih di kamar, kita tunggu sebentar lagi," sahut Johan. Mereka hanya mengangguk mengiyakan.


Sementara itu di kamar tamu lantai bawah, Nathan menatap lekat wajah istrinya yang masih tertidur lelap. Dia mengusap puncak kepala istrinya dengan sangat lembut, lalu mendaratkan banyak kecupan di sana.


"Maafkan aku mengizinkan mereka menjadikanmu umpan," ucap Nathan dengan suara berat. Dia menghela napas panjang. Sebenarnya dia sangat tidak rela, tapi hanya ini jalan satu-satunya yang bisa mereka tempuh untuk mengungkap semuanya.


"Aku janji, setelah mereka tertangkap, aku akan memperlakukanmu dengan sangat manis. Berjanjilah untuk baik-baik saja dan aku akan berusaha keras untuk tidak membuatmu terluka sedikit pun!" kata Nathan tegas. Dia kembali mendaratkan ciuman bukan hanya di kening, tapi di seluruh wajah istrinya. Beruntung obat tidur masih bereaksi. Jadi, Nathan bisa puas menciumi istrinya.


Sebelum pergi dari sana, Nathan tak lupa memasang CCTV berbentuk kancing di piyama yang dikenakan Nadira. Kemudian, dia mengecup kening Nadira sekali lagi, sebelum meninggalkannya. Dengan langkah berat Nathan berjalan keluar ruangan, dia menatap wajah istrinya yang masih terlelap dan menghembuskan napas kasar sebelum menutup pintu kamar itu.


"Nadira masih tidur, Nat?" tanya Mila saat Nathan sudah bergabung dengan mereka.


"Felisa!" panggil Alvino setengah berteriak. Felisa berlari tergopoh-gopoh mendekati majikannya.


"Iya, Tuan." Felisa berusaha mengatur napasnya yang tersengal.


"Kamu harus jaga Nadira dengan baik. Nanti kalau dia bertanya, bilang saja kita sedang istirahat di kamar masing-masing," titah Alvino. Felisa mengangguk hormat.


Setelah itu, mereka semua berangkat dengan menggunakan dua mobil. Meninggalkan Nadira bersama Felisa dan beberapa pelayan. Ketika dua mobil itu sudah menghilang dari area Mansion Alexander, bibir Felisa menyeringai tipis. Dia mengambil ponsel, lalu menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Hallo, Kak. Mereka sudah pergi dari Mansion!" kata Felisa diiringi tawa.


"Bagus sekali. Sekarang kamu matikan seluruh CCTV di Mansion Alexander. Agar kita tidak meninggalkan jejak. Sebentar lagi Kakak akan ke sana," sahut lelaki di seberang.


Felisa mengiyakan lalu mematikan panggilan itu. Sebelum menuju ke kamar tamu, dia terlebih dahulu menuju ke kamar pelayan memastikan mereka semua sudah tertidur karena obat tidur dosis sedang. Bibir Felisa tersenyum lebar saat melihat mereka sudah terlelap dalam satu kamar dengan posisi saling terikat.


Felisa kembali menutup pintu itu, lalu menuju ke ruangan kerja Davin untuk mematikan seluruh CCTV di mansion itu. Johan yang berada di dalam mobil, tersenyum sinis saat melihat seluruh tampilan CCTV itu berubah menjadi layar hitam.


"Benar dugaanku. Mereka akan mematikan CCTV di mansion," ucap Johan. Dia mengalihkan tampilan layar yang kini memperlihatkan tampilan CCTV yang dia pasang secara sembunyi di beberapa tempat.


"Uncle, apa kita berbalik sekarang?" tanya Alvino yang sedang mengendalikan kemudi.


"Sebentar lagi saja, Tuan Muda. Masih ada satu yang sedang dalam perjalanan ke mansion," jawab Johan. Alvino hanya mengiyakan.


"Cha, pastikan pistolmu selalu berada di tempatnya. Kita akan melewati jalan tikus dan sepertinya kita akan mendapat sambutan di sana," perintah Johan.


"Baik, Ayah." Cacha memegang pistol yang berada di balik jaket yang dia kenakan. Mila memeluk tubuh suaminya dengan erat. Melihat wajah istrinya yang begitu khawatir, Johan segera mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya agar tenang. Alvino menghubungi Riko, anak buah Ronal untuk berjaga di Mansion Sandijaya karena Ana dan Rania berada di sana.


"Mas," panggil Mila lirih.

__ADS_1


"Percayalah semua akan baik-baik saja." Johan mengeratkan tubuhnya di pelukan sang istri.


__ADS_2