Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
141


__ADS_3

Nadira berjalan keluar dari Kediaman Saputra menggunakan motor yang terparkir di garasi. Namun, ketika sampai di pintu gerbang, satpam yang menjaga gerbang itu menghentikan laju motor Nadira.


"Nyonya Muda mau ke mana?" tanya Pak Satpam yang bernama Anton.


"Saya mau beli sesuatu di depan, Pak." Nadira berusaha terlihat tenang agar satpam itu tidak curiga padanya.


"Sudah izin tuan muda? Saya ingatnya tuan muda sedang keluar ," kata Pak Anton.


"Saya sudah telepon tadi, Pak. suami saya memberi izin, kalau Pak Anton tidak percaya, silakan tanya aja." Nadira benar-benar pintar bersandiwara. Dengan terpaksa Pak Anton membuka pintu gerbang itu untuk Nyonya mudanya.


Nadira menghela napas lega, lalu melajukan motornya meninggalkan kediaman Saputra. Tujuannya saat ini adalah makam kedua orang tuanya karena sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi mereka.


Hampir dua puluh menit perjalanan, motor yang dikendarai Nadira berhenti di depan sebuah pemakaman. Dengan langkah lebar, Nadira segera menuju ke tempat istirahat terakhir kedua orang tuanya.


Nadira menatap beberapa makam yang terletak dalam satu area khusus keluarga Alexander. Selain makam kedua orang tuanya, di sana juga ada makam kakek buyutnya. Nadira duduk di antar dua makam dengan tulisan Davin dan Aluna di batu nisannya.


Tangannya mengusap batu nisan itu dengan gerakan perlahan hingga tanpa sadar air matanya menetes. Jujur, Nadira sangat merindukan kedua orang tuanya. Apalagi dalam keadaan dirinya sakit seperti ini, rasa rindu untuk kedua orang tuanya semakin begitu terasa.


"Daddy dan mommy, apa kabar?" tanya Nadira dengan suara bergetar menahan tangis. "Tidakkah kalian merindukan Nadira? Daddy ... mommy ... Nadira kangen kalian, hiks!"


Nadira menutupi wajahnya, saat air mata semakin mengalir deras membasahi wajahnya. Bahkan wajah Nadira yang masih sedikit pucat, kini semakin terlihat memucat.


***


Nathan baru saja memarkirkan mobilnya, dia bergegas turun dengan membawa satu bungkus rujak untuk istrinya. Walau dia tahu kalau istrinya belum mengandung, tapi sebisa mungkin dia akan menuruti semua keinginan istrinya.


Nathan memasuki ruang tamu, sembari memanggil nama Nadira berkali-kali. Namun, tidak ada satu pun sahutan dari sana.


Langkah Nathan beralih menuju ke kamar, di sana pun dia mencari keberadaan Nadira, tapi hasilnya sama. Nadira tidak ada. Perasaan Nathan mendadak cemas dan gelisah.


Nathan kembali keluar kamar dan berjalan cepat mencari istrinya. Namun, ketika lelaki tersebut hendak menginjak anak tangga, langkahnya terhenti saat mendengar suara Cacha yang memanggilnya.

__ADS_1


"Cha, kamu tahu di mana Nadira?" tanya Nathan, raut wajah khawatir terpancar jelas dari sorot mata lelaki itu.


Cacha menggeleng lemah. "Belum lama sih dia dari kamar aku, terus dia pamitan mau balik ke kamar," papar Cacha.


"Di kamar tidak ada, Cha!" timpal Natha sedikit ketus.


"Di dapur?" tanya Cacaha lagi. Perasaannya mendadak tidak enak.


"Tidak ada!" tegas Nathan. Lelaki itu berjalan cepat menuruni tangga dan Cacha pun mengekor di belakangnya.


Ketika sampai di teras rumah, Pak Anton berlari tergopoh-gopoh saat Nathan memanggilnya dengan berteriak.


"Pak Anton, apa Bapak lihat istri saya keluar rumah?" tanya Nathan penuh penekanan.


"Belum lama pergi keluar, waktu saya tanya katanya beliau sudah izin sama Anda, Tuan." Pak Anton menjawab gugup, sepertinya dia telah melakukan sebuah kesalahan.


"Kalau saya memberi izin mana mungkin saya pergi sendiri, Pak! Istri saya sedang sakit, mana mungkin saya mengizinkannya pergi!" bentak Nathan tanpa sadar, Pak Anton menunduk dalam, sedangkan Cacha mulai merasa sangat khawatir.


"Apa istri saya bilang mau ke mana?" tanya Nathan lagi. Dia mengambil ponsel di saku untuk menghubungi nomor Nadira.


"Dia pergi dengan siapa?" tanya Nathan lagi, dengan sangat menuntut jawaban. Pak Anton terlihat ragu untuk menjawab, tapi kalau tidak dijawab yang ada tuan mudanya akan semakin marah padanya.


"Menggunakan motor, Tuan."


"Apa!" Suara Nathan semakin menggelegar, membuat tubuh Anton semakin meringsut takut. Nathan bergegas menuju ke mobil untuk mencari keberadaan istrinya.


"Kak Nathan! Aku ikut!" Cacha menghentikan gerakan Nathan yang hendak masuk ke mobil.


"Ayo, Cha!"


Kakak adik itu pun segera masuk ke mobil, dan Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, barangkali dia berpapasan dengan istrinya. Tujuan Nathan saat ini adalah Mansion Alexander.

__ADS_1


Kaki Nathan melangkah tegas memasuki ruang tamu di Mansion Alexander. Arum yang sedang membersikhan ruangan itu, begitu terkejut melihat kedatangan tuan mudanya.


"Di mana nyonya muda, Tuan?" tanya Arum, karena dirinya hanya melihat Nathan bersama Cacha.


"Nyonya muda belum pulang?" tanya Nathan balik.


Arum menggeleng cepat, "Belum, Tuan. Sejak kalian ke Lombok, Nyonya muda sama sekali belum menginjakkan kaki di sini." Jawaban Arum membuat Nathan dan Cacha terpaku.


Nathan berusaha menghubungi sang bunda yang sedang berada di rumah sakit, barangkali istrinya itu sedang menjenguk keponakannya. Namun, yang dia dapatkan justru kemarahan sang bunda. Bahkan Johan memarahi Nathan habis-habisan.


"Kamu ke mana, Nad!" Nathan mengusap wajahnya kasar. Dia tampak begitu frustasi, khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya.


Arum dan Cacha yang melihatnya menjadi tidak tega. Rasa bersalah dan menyesal benar-benar memenuhi seluruh relung hati Cacha. Gadis itu yakin kalau kepergian Nadira, karena ucapannya yang keterlaluan tadi.


"Kak, maafkan aku." Cacha bicara dengan sangat lirih, tapi masih dapat diterima dengan baik oleh telinga Nathan.


"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Nathan penuh selidik.


"Aku udah sangat salah sampai membuat Nadira pergi dari rumah, Kak." Cacha masih menjawab pelan. Jermarinya saling meremas, dia tahu setelah ini, dirinya harus bersiap menerima kemarahan kakaknya.


"Aku bilang sama Nadira kalau aku iri sama dia, karena semua orang memberi perhatian padanya, sampai tak acuh padaku. Nadira bilang dia akan pergi jauh. Maafkan aku, Kak." Cacha terisak, antara cemas dan takut.


"Kamu bilang seperti itu?" Nathan berusaha menahan amarahnya. Namun, ketika kepala Cacha mengangguk mengiyakan, tanpa sadar Nathan melempar vas bunga di meja hingga berantakan di atas lantai.


"Maafkan aku, Kak."


"Kamu keterlaluan, Cha! Kamu sangat keterlaluan! Memang apa salah Nadira sampai kamu menyakiti hatinya? Perhatian siapa yang dia rebut darimu? Rendra?" Emosi Nathan telah sampai pada puncaknya.


"Aku cemburu karena ayah bunda juga Kak Nathan sangat sayang pada Nadira." Dengan mengumpulkan keberaniannya, Cacha menjawab pertanyaan Nathan.


"Memang kita juga tidak perhatian padamu? Memang kita selama ini tidak peduli padamu? Kenapa kamu harus iri dengan Nadira? Jangan pernah lupa, Cha. Tanpa keluarga Alexander, kita bukanlah apa-apa!"

__ADS_1


"Kak—"


"Cha, kamu sudah membuat kakak kecewa. Kakak yakin, kalau ayah bunda tahu, mereka bukan hanya kecewa, tapi terluka karena putri kesayangannya sudah bersikap seperti itu kepada orang yang jelas-jelas sudah membantu kita selama ini."


__ADS_2