
Cacha menepuk bibirnya saat mendengar suara derap kaki yang semakin terdengar jelas di indera pendengarannya. Tangan Cacha saling meremas, dengan bibir terlipat. Wajah gadis itu terlihat gugup, sedangkan Nadira justru terlihat begitu tenang.
"Kamu manggil Nadira apa tadi?" tanya Johan yang kini sudah berdiri di antara dua nona muda itu.
"Yah, Cacha cuma bercanda." Cacha menoleh ke arah Johan, dengan menunjukkan dua jari tanda damai serta bibir yang tersenyum lebar. Nadira menutupi tawanya.
"Kamu ini kurang ajar sekali, manggil Nadira seperti itu!" omel Johan, tangannya bersidekap dengan sorot mata yang menajam.
"Iya tuh, Yah! Marahin aja tuh anak gadis. Manggil seenak jidat sendiri!" sela Nathan berada tidak jauh dari meja dapur. Niatnya ingin mencari istrinya, tetapi dia malah melihat adiknya sedang dimarahi sang ayah.
"Apaan sih, Kak? Enggak usah ikut campur, deh!" cebik Cacha kesal.
"Kenapa? Dasar! Cacha Maricha Hehey, si Anak Kambing—"
"Jonathan Saputra!" Lengkingan suara Johan menggelegar di dapur itu. Nathan segera menutup mulutnya, sedangkan Cacha menjulurkan lidah meledek sang kakak.
"Kalian berdua anak siapa sih?!"
"Anak Ayah lah!" sahut Nathan dan Cacha bersamaan.
"Terus kenapa kalian seperti itu, keturunan siapa?"
__ADS_1
"Keturunan bunda!" Kakak adik itu kembali menjawab kompak.
"Pantes!" Johan memijat pelipisnya karena pusing dengan kedua anaknya. Akhirnya, lelaki itu memilih pergi dari dapur tanpa mengucap sepatah kata pun.
Setelah bayangan sang ayah menghilang dari balik pintu, Nathan segera mendekati Nadira dan merangkul pundak istrinya dengan mesra. Tak lupa, sebuah kecupan mendarat di pipi kanan wanita itu.
"Jangan mulai bikin panas!" seru Cacha. Bibirnya mengerucut dan hembusan napas kasar terdengar dari gadis itu.
"Sayang, kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang. Aku sampai kelimpungan mencarimu." Nathan kembali mencium pipi Nadira, tidak peduli pada Cacha yang makin terlihat kesal.
"Aku jadi lupa tujuanku kesini. Aku mau minta dibikinin jus jambu. Tubuhku rasanya lemas sekali. Capek, tulangku pun rasanya mau patah," keluh Nadira. Tangannya memijat tengkuk untuk sedikit mengurangi rasa lelah karena percintaan semalam dengan suaminya.
"Wajar, Sayang. Semalam kamu kan mendominasi permainan. Tapi enak 'kan bermain WOT, lebih kerasa sampai dalam," ucap Nathan tanpa malu. Arum yang sudah paham pun hanya menggeleng tidak percaya.
"Makanya nikah, jadi kamu tahu apa tuh WOT, DS. Biar sama bunda nanti diajari gaya-gaya, Anjing Kawin, Kodok Terbang—"
"Kak Nathan menyebalkan! Dasar titisan bunda Mila si Ratu Mesum!"
"Ayah kenapa balik?" tanya Nathan dengan santai.
Cacha yang barusan mengumpati Nathan, langsung kembali menutup mulut dengan wajah gugup. Dia benar-benar takut kalau sang ayah kembali lagi ke dapur. Namun, sesaat kemudian tawa Nathan menggelegar di dapur, membuat Cacha menjadi curiga.
__ADS_1
Dia berbalik, tetapi tidak ada seorang pun yang berada di belakangnya. Cacha menggeram kesal karena ternyata dirinya kembali dibohongi.
"Kak Nathan!" Cacha memukul meja karena marah, tetapi sesaat kemudian dia meniup tangannya yang terasa panas.
"Makanya, jangan sok-sok'an gitu. Main pistol pinter, giliran mukul meja bentar aja udah mau nangis," ledek Nathan.
"Kak Nathan dari dulu selalu aja ngeselin!" Cacha pergi dari dapur dengan kaki menghentak lantai, persis seperti anak kecil yang marah saat tidak dibelikan mainan.
Nathan dan Nadira yang tertawa melihat tingkah Cacha. Setelah Cacha tidak terlihat lagi, Nathan mengajak istrinya untuk kembali ke kamar. Tak lupa dia meminta Arum untuk membuatkan jus jambu untuk istrinya.
Sesampainya di kamar, pengantin yang sudah tidak baru lagi, merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur dengan saling berpelukan. Dengan gemas, Nathan menghujami wajah istrinya dengan penuh sayang.
"Beb, bulan depan kamu ulang tahun. Kamu mau minta kado apa?" tanya Nathan. Lelaki itu merapatkan tubuhnya untuk mengusir rasa dingin yang masih terasa menembus pori-pori kulit mereka.
"Aku tidak perlu kado, yang terpenting kamu selalu ada untuk aku saja. Itu sudah cukup." Nadira bicara dengan lembut, tangannya mengusap tangan Nathan yang melingkar di perutnya.
"Semoga saja dia segera hadir di antara kita." Dengan gerakan lembut, Nathan mengusap perut Nadira, dengan merapalkan berbagai doa dalam hati.
"Dingin, Beb?" tanya Nathan saat merasakan gerakan Nadira yang akan meringkuk. Nadira hanya menggeleng lemah sebagai jawaban. Tanpa banyak bicara, Nathan mencium belakang telinga Nadira sehingga membuat tubuh wanita itu terasa meremang. Tangan Nathan pun perlahan naik, mencari bukit kembar dan memainkan cocho chip-nya.
Merasakan sentuhan Nathan yang begitu lembut, Nadira pun tak kuasa lagi menahan desah*nnya. Melihat istrinya yang mulai terbuai, Nathan membalik tubuh istrinya lalu ******* bibir sang istri yang sudah menjadi candu untuknya.
__ADS_1
Namun, saat Nathan mulai menurunkan ciumannya dan hendak menjelajah leher sang istri, terdengar suara pintu kamar digedor diiringi suara tangisan bayi. Nathan pun segera menghentikan gerakannya. Mereka berdua terdiam sesaat untuk memastikan siapa yang menggedor pintu dengan keras seperti ada kebakaran.