
Setelah kepergiaan mereka, Nathan yang sedari tadi di kamar tamu, segera keluar dan berpamitan dengan mereka yang masih berkumpul di ruang tamu Mansion Alexander . Dia diam-diam akan ikut mereka ke Bali. Bahkan Nathan sudah memesan tiket pesawat yang sama dengan Nadira.
"Nat, kamu yakin akan berangkat?" tanya Mila. Suaranya terdengar berat. Entah mengapa perasaanya mendadak tidak enak.
"Iya, Bun. Nathan akan memberi kejutan untuk Nadira di sana." Nathan mencium pipi Mila bergantian.
"Hati-hatilah." Nathan mengangguk mengiyakan. "Siapa yang akan mengantarmu?" tanya Mila.
"Nathan berangkat sendiri, tapi anak buah Mike udah ada yang nungguin di sana." Nathan beralih menyalami Johan. Lalu berpamitan dengan mereka semua.
"Aku berangkat, Bun." Nathan memeluk tubuh Mila dengan sangat erat. Entah mengapa Mila merasa pelukan itu terasa berbeda. Dia merasa sangat merindukan pelukan itu.
Nathan segera masuk ke mobil dan melajukannya. Dia melihat jam di pergelangan tangan dan waktunya sudah sangat mepet. Nathan semakin menambah laju kecepatannya karena dia takut terlambat. Nathan terlihat begitu fokus dengan kemudinya. Bahkan dia menyetel musik untuk menemani perjalanannya.
Dia tidak tahu kalau dari arah depan ada mobil yang membunyikan klakson berkali-kali. Ketika hampir dekat, Nathan segera membanting setir kemudi ke kiri untuk menghindar dari mobil yang hilang kendali. Namun sayang, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.
Brak!
"Argh!" Nathan mengerang saat mobilnya menghantam pembatas jalan dan setelah itu dia tak lagi sadarkan diri.
***
__ADS_1
Suasana di mobil terasa begitu hening. Mike fokus pada kemudinya, sedangkan Nadira dan Cacha masih menyelami pikiran masing-masing. Rendra menoleh ke belakang, lalu menghela napas panjang saat melihat dua gadis cantik itu hanya diam saja.
"El, kamu yakin akan di Bali selama sebulan?" tanya Rendra. Nadira tidak langsung menjawab, dia menoleh sekilas ke arah Rendra, lalu kembali menatap keluar jendela.
"Tidak ada yang menahanku tetap tinggal, Kak." Suara Nadira terdengar penuh kecewa.
"Kalau begitu aku akan menahanmu, El. Aku tidak mau kamu pergi kalau dengan berat hati seperti ini," sahut Rendra.
"Sudahlah, Mas. Lanjut aja. Itung-itung kita lagi liburan." Cacha bicara dengan sangat ketus.
"Yee, kamu mah maunya liburan mulu, Cha," timpal Rendra, tangannya hendak menonyor kepala Cacha, tapi Mike langsung menahannya.
"Makanya jangan berani-berani! Mau ku tembak?" tanya Cacha menggoda dengan alis naik turun.
"Belum juga kamu narik pelatuk, dia udah duluan nyekik aku sampai mati." Rendra menunjuk Mike dengan dagunya. Dua gadis itu pun tertawa lebar, sedangkan Mike hanya fokus menyetir.
Sepuluh menit berlalu, mobil yang dikendarai Mike akhirnya sampai di Bandara. Mereka berempat pun segera turun. Namun, baru saja turun dari mobil, ponsel Cacha yang berada di dalam tas terdengar berdering.
Cacha segera mengangkat panggilan itu saat melihat nama sang bunda tertera di layar. "Hallo, Bun. Cacha baru saja sampai Bandara."
"Cha, Nathan kecelakaan."
__ADS_1
"Apa! Kak Nathan kecelakaan?" Cacha menutup mulutnya, belum sepenuhnya percaya. Nadira yang berdiri di samping Cacha langsung terdiam begitu saja.
"Iya dan sekarang belum sadarkan diri."
"Cacha pulang sekarang, Bun." Cacha segera mematikan panggilan itu. "Nad, kamu berangkat sama Mas Rendra saja ya, aku harus pulang."
"Cha." Nadira memegang lengan Cacha. Raut wajahnya tampak begitu sendu. "Ada apa?" tanya Nadira memastikan.
"Kak Nathan kecelakaan dan sekarang belum sadarkan diri." Cacha menghela napas panjang. "Berangkatlah dengan Mas Rendra. Nanti aku pasti akan selalu memberi kabar padamu."
Nadira hanya terdiam di posisinya, dia merasa begitu bimbang saat ini. Rendra pun hanya menatap kedua gadis itu bergantian.
"Mas Rendra, aku nitip Nadira ya. Jangan sampai lecet sedikit pun. Kabari aku kalau sudah sampai sana. Aku pulang dulu. Ayo, Mike!" Cacha masuk ke mobil dengan terburu. Mike pun mengangguk setuju dan duduk dibalik setir kemudi.
Namun, saat Cacha hendak menutup pintu mobil, Nadira dengan cepat menahannya.
"Cha, aku ikut pulang." Wajah Nadira terlihat begitu memohon.
"Kamu yakin?" tanya Cacha memastikan. Nadira langsung mengangguk cepat.
"Baiklah. Ayo." Rendra dan Nadira pun masuk ke dalam mobil dan Mike segera melajukan mobil itu kembali dan langsung menuju ke rumah sakit.
__ADS_1