Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
264


__ADS_3

Febian hendak meninggalkan tempat acara begitu saja, tetapi Alvino segera menahan dan meminta adiknya itu untuk tetap berada di ruangan sampai acaranya benar-benar selesai. Sementara Erlando dan Jasmin menjaga jarak yang cukup jauh dari mereka. Setelah acara ini selesai, Jasmin berencana akan menetap di luar kota.


"Bi, makanlah." Nadira menatap Febian yang terlihat muram sedari tadi.


"Perutku sudah kenyang." Febian menjawab malas. Kalau bukan karena paksaan kedua kakaknya, sudah pasti Febian akan pergi jauh dari ruangan yang membuat hatinya memanas.


"Bi, kamu belum makan sama sekali dan kamu bilang sudah kenyang?" Nadira hendak mengambilkan makanan, tetapi suara piring terjatuh berhasil mengagetkan mereka.


Febian bergegas bangun dan mendekati Ara. Sementara Diska yang baru saja menjauh, merasa begitu ketakutan. Dia memang sengaja menabrak Ara karena geram dengan gadis itu yang begitu dekat dengan Leona maupun Febian.


"Biar dibersihkan pelayan!" Suara tegas Febian menghentikan gerakan Ara yang sedang memunguti pecahan piring. Namun, tanpa peduli pada perintah Febian, gadis itu kembali meneruskan kegiatannya.


Sorot mata Febian menajam kepada salah seorang pelayan yang baru saja mendekati mereka. Dengan sedikit membentak Febian menyuruh pelayan tersebut lalu dia menarik tangan Ara dan mengajaknya pergi dari sana. Ara begitu kewalahan saat menyeimbangi langkah Febian karena dirinya menggunakan kebaya yang sedikit menghalangi langkah lebarnya.


"Astaga!" pekik Ara saat heel sepatunya patah bahkan kaki gadis itu sampai terkilir. Febian seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah Ara yang sedikit meringis.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Febian khawatir. Dia mengamati kaki Ara dengan lekat.


"Ba-baik, Tuan." Ara menarik kaki dengan perlahan saat Febian menyentuhnya.


"Kamu yakin?" tanya Febian memastikan. Ara hanya mengangguk sembari menggigit bibir untuk menahan rasa sakit di kaki itu.


"Aaaa!" Ara berteriak saat Febian tiba-tiba membopong tubuhnya ala bridal style. Ingin sekali berpegangan, tetapi Ara tidak berani melakukannya.


"Kalau kamu tidak mau berpegangan, jangan salahkan aku kalau jatuh." Febian berbicara dengan santai sembari melangkah menuju ke mobil. Dengan ragu-ragu Ara melingkarkan tangan di leher Febian.

__ADS_1


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya Ara saat Febian menurunkan tubuhnya di kursi penumpang samping kemudi. Febian tidak menjawab, hanya menutup pintu tersebut lalu masuk dari sebelah dan duduk di balik setir kemudi.


"Tuan, bagaimana kalau Leona mencari saya?" Ara terlihat begitu bingung karena dirinya tidak membawa ponsel.


"Dia sedang sibuk dengan para tamu, aku yakin dia tidak akan pernah mencarimu." Febian menjawab santai dan tetap melajukan mobil itu menuju ke sebuah bendungan buatan yang tampak begitu indah.


"Wah, cantik sekali." Wajah Ara berbinar bahagia saat melihat indahnya pemandangan di sana. Febian turun lalu membuka pintu mobil untuk Ara.


"Lihat kakimu." Febian berjongkok di samping pintu mobil yang sudah terbuka lebar. Ara terlihat ragu, tetapi dengan sedikit memaksa Febian menarik kaki Ara dan memangku di pahanya. Febian mengamati kaki Ara yang mulai terlihat sedikit membengkak.


"Bagaimana bisa kamu terjatuh?" Febian ngedumel sembari memijat kaki itu dengan perlahan.


"Anda menarik kaki saya dengan paksa, Tuan. Bukankah Anda lihat sendiri bagaimana ribetnya saya memakai kebaya seperti ini." Ara balik mengomel, tetapi wajahnya langsung terliha gugup saat Febian menatap ke arahnya. Dia menutup mulut karena merasa telah keceplosan. Di saat Febian kembali menunduk, di saat itu pula Ara mengusap dada untuk menetralkan debaran jantungnya.


"Apa masih sakit?" tanya Febian setelah cukup lama memijat kaki Ara.


"Coba kamu jalan, apakah masih sangat sakit atau tidak?" suruh Febian. Ara pun melangkah dengan perlahan. Dia berpura-pura biasa saja padahal kakinya masih terasa cukup nyeri.


"Lihatlah, Tuan." Ara melangkah dengan sedikit cepat untuk membuktikan kalau kakinya baik-baik saja. Namun, dia hampir saja terjatuh kalau saja Febian tidak menopang tubuh gadis itu.


Mereka berdua saling berpandangan, bahkan tangan Febian masih melingkar di pinggang Ara untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Febian seolah terpikat, pada bola mata coklat milik Ara yang terlihat begitu meneduhkan.


"Ma-maaf, Tuan." Ara berusaha melepaskan pelukan tanpa sengaja tersebut. Febian pun terlihat begitu gugup dan salah tingkah. "Tuan, lebih baik saya kembali ke tempat acara."


Ara hendak melangkah pergi, tetapi Febian segera menahan lengan gadis itu. "Jangan pergi, aku butuh teman bicara."

__ADS_1


Ara menatap tangan Febian berada di lengannya, lalu dia beralih menatap Febian yang terlihat begitu memohon. Dengan terpaksa, Ara pun mengangguk dan mereka duduk di tepi bendungan, menatap air yang tampak begitu tenang.


"Apakah kamu mau mendengarkan semua keluh kesahku?" pinta Febian. Dia ingin sekali mengatakan semua yang terasa mengganjal hatinya, dan entah mengapa dia merasa begitu nyaman saat berada di samping Ara.


"Katakan saja, Tuan. Saya akan menjadi pendengar yang baik." Ara menoleh ke arah Febian dan tersenyum simpul. Lelaki itu terpaku, menatap senyuman yang mampu membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


"Tuan!"


Febian tergagap saat Ara melambaikan tangan tepat di depan wajahnya. Dia merasa grogi saat ketahuan sudah mengamati wajah gadis itu dengan seksama.


"Em, apa kamu pernah berpacaran atau menjalin hubungan dengan lawan jenis? Kamu boleh tidak menjawab." Febian merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua lengan sebagai bantal.


"Pernah sekali saya menjalin hubungan dengan seseorang, tapi kita tidak berjodoh." Suara Ara terdengar begitu berat. Febian menatap punggung gadis yang saat ini sedang duduk di sampingnya.


"Kenapa kamu putus dengannya?" tanya Febian penasaran.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menjawabnya." Ara menolak dengan lembut.


"Tidak apa. Aku tahu pasti hal itu sangat menyakitkan. Aku juga sedang merasa patah hati, bahkan patah-sepatahnya," ucap Febian.


Ara sedikit memutar tubuhnya dan menatap Febian yang saat ini sedang menatap ke atas. Gadis itu bisa melihat raut sendu memenuhi seluruh wajah Febian.


"Rasanya aku tidak sanggup, ibarat untuk berdiri saja aku tidak akan pernah mampu. Tapi aku coba bertahan. Kenapa Tuhan mengirimkan seseorang di dekat kita jika kita akhirnya harus kehilangannya. Mengapa Tuhan membuat kita jatuh cinta kalau pada akhirnya kita akan terluka."


"Semua adalah proses supaya kita bisa menjadi manusia yang lebih dewasa, Tuan. Semakin bertambah umur seseorang, semakin dituntut pula untuk bisa berpikir dan bersikap dewasa," sahut Ara.

__ADS_1


"Dan ternyata menjadi dewasa itu sangat menyakitkan!" timpal Febian. Ara tersenyum saat mendengar suara Febian yang pernah dengan emosi.


"Tuan, apa yang membuat hati Anda terluka adalah Nona Jasmin?"


__ADS_2