Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
137


__ADS_3

Nathan tergagap saat membuka mata, karena rasa lelah membuat lelaki itu benar-benar tertidur lelap. Nathan berbalik untuk melihat istrinya, tapi tidak ada keberadaan istrinya sama sekali.


Dengan bergegas, Nathan turun dari tempat tidur dan berjalan menyusuri seluruh penjuru kamar. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan sang istri, bahkan kamar mandi pun terasa senyap, tidak ada suara gemericik air yang terdengar.


Namun, Nathan tetap saja memasuki kamar mandi itu. Lelaki itu terkejut saat melihat Nadira sedang berendam di bathup dengan mata terpejam. Nathan melangkah lebar mendekati Nadira, perasaan khawatir melingkupi hatinya saat melihat wajah Nadira yang tampak begitu pucat.


"Beb, bangun!" Nathan menepuk pipi Nadira dengan perlahan, tapi tidak ada respon sedikit pun. Nathan pun bersiap membopong tubuh Nadira, tak lupa dia mengambil handuk terlebih dahulu.


"Astaga, cobaan apa ini, Ya Tuhan," gumam Nathan saat mengangkat tubuh Nadira, dan tidak ada sehelai benang pun yang menempel di kulit istrinya.


Setelah memakaikan handuk, Nathan segera membopong tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur. Nathan benar-benar merasa sangat khawatir.


Dengan segera, Nathan menarik selimut dan menutupi tubuh Nadira sampai sebatas leher. Kemudian, dia berjalan ke luar kamar. Tujuannya saat ini adalah kamar milik Rayhan.


"Kak Queen!" Nathan menggedor pintu kamar itu dengan keras. Membangunkan si pemilik kamar yang baru saja hendak terlelap.


Pintu kamar terbuka, Queen yang masih memakai jubah mandi terlihat menyembul dari balik pintu. "Apaan sih, Nat?" tanya Queen kesal.


"Ayo, Kak. Kita ke kamar, Nadira pingsan."


"Apa! Nadira pingsan? Bentar, aku ganti baju dulu." Queen hendak masuk, tapi Nathan langsung menahannya.


"Kelamaan, Kak. Ini darurat!" cegah Nathan. Dia menarik tangan Queen dengan paksa.


"Kamu yang benar saja, Nat! Aku ganti baju enggak ada lima menit." Queen melepas cekalan Nathan dengan sekuat tenaga.


"Ada apa, Sayang?" Rayhan berdiri di belakang istrinya.


"Hubby, kamu antar adikmu ke kamar, aku mau ganti baju dulu. Katanya Nadira pingsan, aku akan segera.menyusul." Queen mendorong tubuh Rayhan agar keluar, setelah itu Queen menutup pintu kamar dengan rapat, dan bergegas berganti pakaian.


"Jangan pakai lama, Kak. Pakai daster aja!" teriak Nathan dengan keras.

__ADS_1


"Sudah! Diamlah Kaleng Rombeng! Sekarang kita kembali ke kamarmu saja!" Rayhan menarik piyam Nathan di bagian leher. Dengan sebal, Nathan menepis tangan kakaknya itu.


"Kak Rayhan pikir aku anak kucing!" cebik lelaki somplak itu. Dia berjalan dengan gagah menuju ke kamar, sedangkan Rayhan hanya menggeleng sembari mengusap dada melihat tingkah adiknya.


***


Di kamar Nathan, begitu ramai karena Johan dan Mila ikut terbangun dan sekarang berada di kamar putranya, melihat Queen yang sedang memeriksa Nadira yang baru saja sadar. Wajah Nadira masih tampak begitu pucat karena terlalu lama berendam di dalam air.


"Bagaimana, Kak?" tanya Nathan tak sabar, saat Queen baru saja melepas stetoskopnya.


"Tidak apa, beruntung tidak sampai terkena hypotermia. Jangan lupa terus beri dia kehangatan," jelas Queen. Mereka pun akhirnya bernapas lega.


"Ini Paracetamol buat berjaga-jaga kalau tiba-tiba dia demam." Queen meletakkan obat itu di atas nakas. "Kamu masih pusing, Nad?" tanya Queen dengan lembut.


Nadira menggeleng lemah, "Aku mau tidur, Kak." Nadira menarik selimut sampai menutup hampir seluruh badannya.


"Baiklah, istirahatlah, Nad." Mila mencium puncak kepala Nadira sebelum pergi dari sana bersama Johan. Queen dan Rayhan pun melakukan hal yang sama.


Ketika pintu kamar sudah tertutup rapat, suasana di kamar mendadak begitu hening. Baik Nathan dan Nadira sama-sama tidak ada yang membuka suara.


"Kak Nathan masih marah denganku?" tanya Nadira setelah menunggu lama, tapi hanya keheningan yang menemani mereka. Tidak mendapat jawaban dari suaminya, membuat Nadira tersadar kalau Nathan pasti masih sangat marah dengannya.


Helaan napas kasar terdengar dari mulut Nadira. Mendengar itu, Nathan semakin merapatkan tubuhnya.


"Kak—"


"Bisakah kamu tidak membuatku sangat khawatir? Duniaku seakan runtuh melihatmu terpejam seperti tadi," sela Nathan. Bibir Nadira tertutup rapat mendengar ucapan Nathan, tapi dalam hati dia merasa begitu bahagia mendengar gombalan dari suaminya.


"Jangan terlalu berlebihan!" decih Nadira.


"Ya, aku berlebihan dalam mencintaimu!" balas Nathan, semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Kalau kamu terus saja mengeratkan pelukan ini, yang ada aku akan mati karena sesak napas!" ucap Nadira, secara refleks Nathan melepaskan pelukannya.


"Jangan mati, Beb. Aku tidak mau jadi duda tampan."


"Aku mau tidur, Kak. Ngantuk." Nadira menguap, Nathan pun kembali memeluk Nadira, tapi tidak seerat tadi.


"Tidurlah. Aku mencintaimu, Beb." Nathan mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya sebelum mereka benar-benar tertidur lelap.


***


Prang!


Sebuah vas bunga pecah berantakan setelah menyentuh lantai keramik di rumah Rendra. Lelaki paruh baya dengan rahang mengeras, menatap penuh amarah kepada sang putra semata wayangnya yang sudah membuatnya malu.


"Mas, tahan emosi kamu!" Nirmala berusaha menenangkan suaminya.


"Putra kesayanganmu ini sudah membuat aku benar-benar malu dan tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Tuan Johan, kamu pikir itu tidak keterlaluan!" Suara Bastian terdengar menggelegar.


"Maafkan Rendra, Yah." Suara Rendra terdengar penuh sesal.


"Kamu pikir, kata maafmu bisa membuat hal tadi terlupakan begitu saja? Harusnya kamu tahu, kalau Tuan Johan itu sangat teliti dan memiliki banyak mata-mata. Ayah kecewa sama kamu, Ren. Kenapa kamu menjadi laki-laki yang sangat plin-plan!" hardik Bastian. Kemarahan lelaki itu benar-benar tidak main-main.


Baru kali ini Rendra melihat kemarahan ayahnya yang begitu memuncak. Itu artinya, dirinya telah membuat ayahnya begitu kecewa.


"Mas, sudah. Kendalikan dirimu." Nirmala mengusap dada bidang suaminya untuk mengurangi emosi yang sedang menguasai suaminya.


"Jelaskan pada ayah kenapa kamu bisa sampai seperti itu. Kamu meminta ayah melamar Cacha untukmu, tapi kamu malah beradu bibir dengan Anisa yang jelas-jelas sudah kamu tolak." Bastian mendudukkan tubuhnya di sofa. Dia memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang menderanya.


"Rendra juga tidak sadar saat mencium Anisa, Yah. Semua terjadi begitu saja," jelas Rendra.


"Kamu mencintai Anisa?" tanya Bastian penuh selidik. Rendra tidak menjawab, dan hanya menunduk dalam.

__ADS_1


"Ren, jawablah." Kali ini, Nirmala yang membuka suara, tapi Rendra masih saja bungkam karena dia masih begitu ragu. Jujur, hatinya masih sangat mencintai Nadira sampai sekarang.


"Baiklah, karena kamu tidak mau menjawab, maka persiapkan dirimu, minggu depan kamu akan menikah dengan Anisa."


__ADS_2