Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
27


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja, Nad?" panggil Cacha mengagetkan Nadira.


"I-iya." Nadira tergagap membuat Cacha menjadi curiga.


"Kamu yakin?" tanya Cacha memastikan. Nadira mengangguk lemah. "Kalau ada apa-apa jangan lupa katakan dengan jujur, Nad." Nadira kembali menanggapi dengan anggukan.


"Iya, Cha. Aku pasti akan bilang." Nadira tersenyum simpul agar Cacha tidak curiga kepadanya.


"Kalau begitu ayo kita makan, keburu makanannya dingin," ajak Cacha menggandeng tangan Nadira menuju ke ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, Arum sudah menunggu di samping meja. Setelah memastikan kedua nona muda itu sudah duduk dengan baik, Arum segera berpamitan agar tidak mengganggu makan malam mereka.


"Kenapa cuma dua sendok, Nad?" tanya Cacha heran saat melihat nasi di piring Nadira.


"Aku belum terlalu lapar, Cha. Aku cuma ingin menemani kamu makan," sahut Nadira. Dia hanya mengambil satu telur dan sambal saja. Cacha hanya bisa terdiam, karena dia tahu bagaimana keras kepalanya Nadira.


Mereka pun makan diselingi obrolan dan candaan. Jika sedang seperti ini, Nadira merasa begitu bebas seolah tidak ada sedikit pun beban hidupnya. Setelah selesai makan, Nadira mengikuti Cacha tidur di kamar tamu, karena sahabatnya itu begitu memaksa.


Mereka rebahan di bawah satu selimut, banyak celotehan yang keluar dari mulut mereka. Kadang pula diselingi candaan hingga tawa mereka begitu menggelegar.

__ADS_1


Hampir jam sepuluh malam, tapi Nathan belum juga pulang, sedangkan Cacha sudah terlelap tidur. Perut Nadira berbunyi. Gadis itu sangat lapar. Sebenarnya, tadi bukannya tidak lapar, tapi dia sengaja menunggu suaminya untuk makan bersama. Namun, sampai selarut ini, belum ada sedikit pun tanda kepulangan Nathan. Hati Nadira mencelos saat membayangkan saat ini suaminya sedang berdua bersama Jasmin di apartemen.


Nadira beranjak bangun tanpa membangunkan Cacha. Tujuannya saat ini adalah dapur, setidaknya dia bisa membuat mie instan untuk mengganjal perutnya. Padahal makanan tadi masih tersisa banyak, tapi Nadira sama sekali tidak berselera untuk memakannya.


Nadira membuka lemari gantung dan melihat ada beberapa mie instan aneka rasa. Tangan Nadira mengambil mie dengan rasa paling pedas. Dia merebus mie itu, tak lupa dengan sayur, telur dan juga sosis.


Namun, ketika Nadira hendak mengambil mangkok, terdengar suara benda jatuh dari arah belakangnya. Dia segera menoleh, tapi tidak ada siapa pun di sana. Nadira kembali meneruskan kegiatannya. Perasaannya mendadak tidak enak, dia merasa ada seseorang yang mengawasi gerak-geriknya. Nadira mematikan kompor padahal mie itu baru setengah matang.


Setelah menuang bumbu ke dalam mie berkuah itu, Nadira segera membawa mangkok itu menuju ke ruang makan yang tidak terlalu menyeramkan. Namun, baru berjalan tiga langkah, tiba-tiba lampu dapur padam seketika.


Nadira yang begitu terkejut, sontak menjatuhkan mangkoknya hingga kuah panas itu mengenai kakinya. "Ah panas." Nadira merintih kesakitan saat rasa panas menjalar di kedua kakinya.


"Cha! Tolong aku!" teriak Nadira lagi, tetapi suasana begitu senyap.


"Aku bilang jauhi Nathan." Tubuh Nadira menegang saat mendengar suara bisikan tepat di samping telinga, hingga membuat tubuhnya merinding.


"Kamu siapa!" teriak Nadira sambil berbalik dan meraba udara, tapi tetap tidak ada siapa pun.


Tubuh Nadira luruh ke lantai begitu saja. Dia menangis terisak di kegelapan. Duduk bersandar tembok sembari memeluk lututnya dengan erat.

__ADS_1


"Mommy ... daddy ... Nadira takut." Isakan Nadira terdengar mengeras. Tubuhnya sudah sangat gemetar saat ini. Bahkan wajahnya sudah penuh dengan airmata. Rasa sakit di kaki karena tersiram kuah panas saja, dia sudah tidak merasakannya.


"Aku mau ikut mommy dan daddy saja," ucap Nadira di sela isak tangisnya. Namun kemudian, tubuh Nadira menegang saat ada seseorang memeluknya dengan sangat erat. Nadira terdiam, karena dia sangat hafal dengan bau parfum maskulin ini.


"Tenanglah. Saya di sini, Nona Muda." Nadira mencium bau alkohol dari mulut Nathan. Ya, meskipun dirinya belum pernah mabuk-mabukan, tetapi dia pernah mencium bau itu ketika menghadiri pesta temannya di sebuah club malam.


"Kak Nathan, aku takut." Suara Nadira terdengar parau karena tangisnya. Pelukan Nathan di tubuh Nadira semakin terasa begitu erat.


"Tenanglah, Nona." Nadira pun akhirnya hanya diam. Dia merasa begitu nyaman berada di pelukan lelaki itu. Selang beberapa saat, lampu dapur menyala. Nathan melerai pelukannya dan melihat wajah Nadira yang penuh dengan airmata.


"Mang, semua sudah beres?" tanya Nathan. Nadira menoleh dan melihat semua penghuni rumah itu sudah berada di dapur, termasuk Cacha yang terlihat begitu khawatir.


"Sudah, Tuan," sahut Mang Ujang. Nadira terdiam saat mendengar suara Mang Ujang yang tidak begitu asing di pendengarannya.


"Nad, kenapa kamu tidak bilang kalau mau keluar kamar? Aku tidak mendengar teriakanmu kalau saja Mang Ujang tidak memanggilku. Untung saja Mang Ujang bisa dengan cepat membetulkan lampu dapur ini," omel Cacha panjang lebar. Dia berjalan mendekati Nadira. Mereka belum menyadari kalau kaki Nadira saat ini sudah sangat memerah.


"Aku tiba-tiba ingin makan mie. Bantu aku berdiri, Cha," pinta Nadira sambil mengulurkan tangannya. Dia tidak peduli pada Nathan yang berdiri di sampingnya.


"Astaga, Nad. Kenapa kakimu memerah?" Cacha berhasil mengejutkan semua orang. Termasuk Nathan yang langsung menatap kedua kaki istrinya yang sudah memerah. Dia juga melihat semangkok mie yang tumpah berada tidak jauh dari meja kompor.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Nathan segera membopong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar. Awalnya Nadira menolak, tapi Nathan mengancam akan menelanjangi saat itu juga. Membuat Nadira akhirnya menurut.


__ADS_2