Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
109


__ADS_3

Hampir tiga kali Nathan menghubungi nomor Mila, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang terjawab. Nathan beralih membuka toko online, dan memesan baju yang sekiranya pas untuk istrinya.


Setelah selesai memesan beberapa gaun, Nathan meletakkan kembali ponselnya. Ketika berbalik, bibir lelaki itu tersenyum saat melihat istrinya yang sudah tertidur. Nathan yakin kalau Nadira sangat kelelahan.


Nathan berjalan mendekat, lalu mendaratkan ciuman di kening Nadira. "Kamu cantik sekali." Nathan mendaratkan banyak ciuman, tapi Nadira tetap saja terlelap, menjelajah alam mimpi.


Setelah cukup lama, terdengar pintu kamar hotel itu diketuk dari luar. Nathan yang sudah berpakaian lengkap, membukakan pintu untuk pengantar pakaian yang barusan dipesannya.


Namun, ketika pintu itu terbuka, Nathan membulatkan mata saat melihat anak buahnya yang menyebalkan sedang berdiri di depannya dengan senyum seolah tak berdosa.


"Bagaimana kamu bisa berada di sini, Zack?" tanya Nathan dengan ketus.


"Tentu saja bisa, Tuan. Saya naik pesawat bersama Anda," sahut Zack dengan tenang.


"Kenapa aku tidak melihatmu?" Nathan mengerutkan kening karena heran.


"Selama perjalanan Anda terlalu fokus dengan malam pertama Anda yang gagal, Tuan. Sampai Anda tidak menyadari saya duduk di belakang Anda." Zack tersenyum meledek ke arah Nathan.


"Sudahlah! Sekarang ada keperluan apa kamu ke kamarku?" tanya Nathan masih dengan suara ketus.


"Tentu saja untuk mengantar pakaian ganti Nona Muda. Sekaligus memastikan Anda sudah berhasil jebol gawang," jawab Zack. Dia mengulurkan beberapa paper bag berisi pakaian kepada Nathan.


"Pergilah!" usir Nathan begitu saja.


"Baik, Tuan. Saya harus lapor dengan nyonya besar." Zack sedikit membungkuk hormat.

__ADS_1


"Nyonya besar? Kamu tidak takut kena amarah ibu negara ngatain dia nyonya besar? Aku bilang dia agak gemuk aja langsung ngomel sampai ubanan," timpal Nathan. Wajah Zack masih terlihat begitu tenang.


"Tentu saja tidak, karena yang besar bukan bentuk tubuhnya, tapi ...." Zack menghentikan ucapannya sesaat untuk menghirup napas dalam, sedangkan Nathan masih sabar menunggu kelanjutan ucapan Zack.


"Tapi apa?" tanya Nathan tak sabar melihat Zack yang membisu.


"Yang besar otak mesumnya seperti Anda! Saya permisi, Tuan." Zack bergegas pergi meninggalkan Nathan sebelum suara lelaki itu memecahkan gendang telinganya.


"Dasar jomlo penikmat sabun!" umpat Nathan. Dia kembali masuk dan menutup pintu dengan cukup kencang. Bahkan sampai Nadira terbangun dari tidurnya dan tubuhnya terlonjak.


"Maaf aku ketiduran, apa kamu marah denganku?" tanya Nadira gugup. Dia berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Maafkan aku sudah mengagetkanmu, Sayang." Nathan naik ke atas tempat tidur, lalu memeluk Nadira dengan erat. "Aku tidak marah, aku hanya kesal dengan Zack tadi."


"Zack?" Kening Nadira terlihat mengerut.


"Hallo, Bun," sapa Nathan.


"Hai anak bunda yang paling tampan. Kamu sudah berhasil?" tanya Mila.


"Tentu saja sudah. Terima kasih banyak, Bun."


"Sama-sama, Nat. Bunda seneng banget kalau akhirnya kamu menanam benih di rahim Nadira. Semoga lekas menjadi janin."


"Semoga saja. Apa Bunda tahu gaya apa yang bisa membuat Nadira cepat hamil? Au! Sakit, Sayang!" Nathan merintih saat Nadira memukul lengannya cukup kencang. Dia tersenyum saat melihat Nadira yang tampak begitu kesal.

__ADS_1


"Kalau kata orang si gaya DS bisa lebih cepat membuat hamil. Bunda barusan sedang praktek dengan ayah."


"Pantesan Nathan telepon enggak diangkat."


"Nanggung, Nat. Bunda bayangin kamu dan Nadira, eh malah jadi pengen sendiri."


Astaga, semoga aku diberi kesabaran seperti Ayah Johan. Batin Nadira. Menghembuskan napas kasar mendengar obrolan dua manusia berbeda gender tapi satu spesies.


"Kalau begitu, biar Nathan coba. Doakan kecebong Nathan berhasil sampai ke lembah terdalam, Bun."


"Tentu saja. Semoga berhasil, Nat. Bunda matikan dulu, ayah sudah selesai mandi."


"Baiklah, Nathan sayang Bunda." Panggilan itu pun terputus. Nathan kembali menaruh ponselnya, lalu menatap Nadira dengan sangat lekat.


"Aku laper, Mas. Bisa-bisa aku mati muda kalau kamu meminta lagi," cebik Nadira. Dia sangat paham apa maksud tatapan Nathan padanya.


"Ayo kita makan, Sayang. Setelah itu kita ehem-ehem. Aku tidak sabar ingin memiliki anak darimu." Nathan mengecup pipi Nadira penuh sayang.


"Mas, semua itu butuh proses. Kalau aku tidak cepat memberimu anak, aku takut kamu akan sangat kecewa," kata Nadira lirih.


"Kita akan terus mencobanya, Sayang. Jangan khawatir, walau kamu tidak segera hamil. Aku tidak akan menikah lagi untuk meminjam atau membayar rahim wanita lain." Nadira mendelik mendengar celetukan Nathan.


"Awas saja kalau kamu sam—"


"Simpan tenagamu untuk nanti, Sayang. Lebih baik kita makan, lalu praktek gaya DS."

__ADS_1


"Gaya DS itu apa?" tanya Nadira tidak tahu. Nathan tidak menjawab, dia beranjak bangun dan memberikan baju ganti untuk Nadira. "Mas! Gaya DS itu apa?" tanya Nadira lagi, kali ini pertanyaan itu sangat menuntut jawaban.


"Anjing kawin," sahut Nathan santai dan itu berhasil membuat Nadira melongo, tidak percaya.


__ADS_2