Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
116


__ADS_3

Cacha dan Rendra sedang duduk berdua di sebuah restoran dekat taman. Hati mereka merasa lega karena tidak akan ada pengganggu. Setelah Mike berpamitan akan kembali ke Jakarta karena ada hal penting, dengan segera Cacha langsung mengiyakan. Setidaknya dia bisa sedikit bebas walau Mike sudah pasti menyuruh anak buahnya untuk diam-diam mengawasi.


"Makan lagi, Cha." Rendra menaruh sepotong daging ke piring Cacha.


"Enggak usah, Mas. Aku udah kenyang banget," tolak Cacha.


"Heh, itu harus dihabisin loh. Jangan membuang makanan," kata Rendra dengan senyum meledek. Dengan gemas, Cacha memukul lengan lelaki itu sampai mengaduh kesakitan.


"Astaga, belum jadi istri aja udah main kasar gini. Kalau kita beneran nikah, yang ada aku menua sebelum waktunya," seloroh Rendra, membuat Cacha semakin merasa gemas.


"Siapa yang mau menikah denganmu?" tanya Cacha ketus. Namun, pipi gadis itu terlihat merah merona.


"Memangnya kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Rendra menggoda. Dia memajukan wajahnya, hingga jarak wajah mereka tidak lebih dari lima centi.


Cacha terdiam, menatap mata Rendra yang juga sedang menatapnya. Jantung Cacha rasanya berdebar sangat kencang. Bahkan, wajahnya terlihat begitu gugup apalagi saat melihat senyum Rendra yang seolah memikat hatinya.

__ADS_1


"Jangan genit!" Cacha memundurkan wajah Rendra dengan telapak tangannya. Kemudian, dia berpaling karena tidak mau Rendra melihat wajahnya yang sudah tersipu.


"Genit sama kamu 'kan enggak ada larangannya, Cha," timpal Rendra santai. Dia kembali memasukkan nasi ke dalam mulut.


"Awas aja, kalau kamu buat aku kesal terus. Aku enggak akan segan-segan menarik pelatukku, Mas." Cacha berbicara sedikit mengancam. Padahal gadis itu hanya bercanda, tapi tubuh Rendra sedikit meringsut.


"Jangan bikin takut deh, Cha." Wajah Rendra terlihat sebal, sedangkan Cacha justru tertawa saat melihatnya.


"Mas, kamu tahu enggak kalau perasaanku sedang tidak enak," kata Cacha, wajahnya berubah begitu sendu. Rendra pun secara refleks menghentikan kunyahannya.


"Entahlah. Aku merasa akan ada sesuatu aja. Apalagi Mike yang pergi ada urusan penting secara mendadak," sahut Cacha. Dia menghela napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan.


"Mungkin itu hanya perasaanmu, Cha. Atau mungkin karena kamu merindukan Mike," celetuk Rendra. Sebuah pukulan kembali mendarat di lengan lelaki itu. "Kamu sangat kejam, Cha." Rendra mengusap bekas pukulan tangan Cacha.


"Kamu sih, kalau ngomong ngawur banget. Emang aku ini siapa sampai kangen sama Mike segala. Dua puluh empat jam dikawal, bikin aku enggak bebas!" timpal Cacha dengan ketus.

__ADS_1


"Jangan-jangan Mike sedang kencan," kata Rendra tenang.


"Kencan sama siapa? Punya pacar atau dekat dengan wanita aja, aku enggak pernah lihat." Cacha memotong daging menjadi lebih kecil, lalu memasukkan ke dalam mulut.


"Emang umur Mike berapa, sih? Kok belum nikah." Rendra terlihat begitu penasaran.


"Pokoknya kalau sama aku jaraknya lebih dari lima belas tahun."


"What!" Pekikan suara Rendra terdengar begitu melengking, sampai membuat telinga Cacha berdengung.


"Aku kira paling tiga puluh tahun," kata Rendra masih belum percaya. Cacha terkekeh melihat Rendra yang sedang melongo. Memang tidak ada yang menyangka kalau usia Mike hampir menyentuh kepala empat, karena wajah Mike tergolong wajah baby face.


"Tapi kok belum nikah ya?" Rendra bertanya sedikit bergumam. Cacha mengendikkan bahu tanda tidak tahu.


Ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba pandangan mata Rendra teralihkan ke arah sudut taman. Tanpa membuka suara, Rendra beranjak bangkit saat menyadari siapa wanita yang sedang didekati oleh dua orang pria bertubuh kekar.

__ADS_1


Cacha hanya menatap gerak-gerik Rendra tanpa bertanya. Dia pun mengedarkan pandangan ke arah yang dituju Rendra. Dengan bermalasan, Cacha ikut bangkit dan berjalan menyusul lelaki tersebut.


__ADS_2