Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
283


__ADS_3

Ara terdiam, menunggu Hendra membuka suara. Sementara kedua anak buah Febian menatap tajam ke arah lelaki itu. Namun, Hendra berusaha memberanikan diri untuk tetap berbicara.


"Ra, maafkan aku. Aku sangat menyesal karena sudah melukai wanita sebaik kamu. Aku benar-benar menyesal—"


"Jangan terlalu berbasa-basi! Nona muda harus segera berisitirahat!" sergah salah satu pengawal.


"Ra, aku masih mencintaimu. Maukah kamu kembali padaku?" pinta Hendra memelas. Tangan pengawal Febian terkepal erat bahkan rahang mereka terlihat mengetat.


"Jangan membuat lelucon yang sangat tidak lucu, Mas!" Ara berbalik dan menatap penuh benci ke arah Hendra.


"Aku serius, Ra. Aku sudah bercerai dengan Imel karena dia mengkhianatiku," ucap Hendra lirih. Namun, Ara justru tergelak keras hingga mengalihkan perhatian banyak orang.


"Bukankah kalian berdua ini sangat cocok? Yang satu pengkhianat, yang satu wanita penggoda." Ara tersenyum sinis, "bagaimana rasanya dikhianati, Mas?"


Hendra terdiam mendengar pertanyaan Ara yang begitu sarkas. Dia tidak tahu lagi harus menjawab yang bagaimana. Ara semakin tersenyum sinis saat melihat raut wajah mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Lebih baik sekarang kamu pergi jauh dari kehidupanku dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Suara Ara meninggi.


"Ra, aku mohon maafkan aku dan kembalilah padaku," pinta Hendra memelas, bahkan lelaki itu sampai bersimpuh di hadapan Ara. Namun, wanita itu tidak merasa kasihan sama sekali, dan justru berbalik pergi meninggalkan Hendra begitu saja.


"Apa kamu tidak mau kembali denganku karena sudah menikah dengan orang kaya? Aku yakin kamu melakukan sesuatu supaya bisa menikahi pria itu." Hendra merasa sakit hati. Namun, tubuhnya terhuyung ke belakang tatkala sebuah pukulan keras mendarat lagi di wajahnya.


"Jaga mulut sialanmu! Tuan Muda menikahi Nona Ara karena cinta. Sekali lagi aku melihatmu mendekati Nona Ara, maka kamu akan mendapat balasan yang lebih dari ini!" seru salah seorang pengawal.


Ara tidak peduli dan memilih pergi dari sana begitu saja. Dia tidak mau perasaannya mendadak tidak nyaman setelah melihat lelaki itu. Bibir Ara tersenyum tipis saat teringat ucapan Hendra yang mengatakan Imel berkhianat. Hatinya merasa sangat puas karena rasa sakit hatinya seolah terbalaskan.


Sementara itu, Febian yang baru selesai rapat merasa geram setelah mendengar informasi dari pengawal yang menjaga Ara. Dia hendak pergi menuju tempat di mana Hendra ditahan.


"Mau ke mana, sih, Kak?" tanya Leona heran.


"Aku akan menemui mantan kekasih Ara yang sudah berani mendekat," ucap Febian, giginya terlihat saling bergemerutuk.

__ADS_1


"Hendra?" tanya Leona dengan alis mengerut.


"Aku benci saat mendengar namanya. Aku pergi dulu." Febian berjalan sembari membenarkan jasnya yang sedikit berantakan.


"Aku ikut!" Leona berjalan di belakang karena dia juga ingin sekali mengumpati lelaki yang sudah pernah menyakiti Ara.


***


"Lepaskan aku!" Hendra berusaha melepaskan tali yang mengikat di tubuhnya. Namun, kedua pengawal Febian tidak ada yang peduli meskipun Hendra sedari tadi mengucapkan banyak sumpah serapah.


"Lepaskan bangs*t!"


Plak!


sebuah tamparan mendarat di mulut Hendra dengan kencang hingga membuat kepala lelaki itu menoleh ke samping. Darah segar kembali keluar dari sudut bibirnya. Di saat suasana sedang memanas, Febian masuk bersama Leona. Kedua mata Hendra melebar sempurna bahkan seolah hampir lepas dari tempatnya.

__ADS_1


"Leona?" gumam Hendra tak percaya.


__ADS_2