Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
207


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Mike membelah jalanan aspal menuju ke JS Group. Cacha duduk tenang di samping suaminya. Sedari tadi wanita itu terus saja memakan camilan yang sengaja dibawa dari rumah. Mike sesekali mengusap puncak kepala Cacha dengan gemas.


"Sejak kapan kamu suka camilan?" tanya Mike.


"Ini enak, Mike." Cacha menunjukkan sebungkus snack yang tinggal setengah. "Maukah kamu membelikan lagi di minimarket depan?"


"Tidak! Kamu sudah terlalu banyak makan micin itu," tolak Mike tegas. Bibir Cacha mengerucut, dengan wajah kesal.


"Ini bukan micin." Cacha membantah, tetapi Mike memilih diam dan tidak menanggapi lagi. Dia kembali fokus pada kemudinya.


"Mike, apa kamu jatuh cinta dengan Nona Fey, ku lihat dia cantik, ya ... walaupun sedikit tua." Cacha menutup mulutnya yang sedang tertawa. Mike pun ikut terkekeh.


"Tidak sedikit, dia memang sudah tua. Lebih tua sedikit dari aku," ucap Mike santai.


"Apa? Yang benar saja, ternyata dugaanku salah. Ku kira dia baru tiga puluh tahun, ternyata awet muda juga," gerutu Cacha.


"Kenapa kamu begitu plin-plan. Tadi bilang sedikit tua, sekarang bilang awet muda. Sudah jangan bahas dia, aku takut istriku akan cemburu." Mike berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Untuk apa cemburu dengan wanita ganjen gitu. Lihat saja berani macam-macam maka aku tidak akan segan-segan menarik pelatukku dan DOR!"

__ADS_1


Mike mengerem mendadak hingga tubuh mereka terhuyung ke belakang. Cacha memegang keningnya yang hampir saja menyentuh dashboard mobil.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mike khawatir. Dia mengamati seluruh wajah istrinya, takut ada yang terluka.


"Kenapa kamu ngerem mendadak Mike, itu bahaya!" omel Cacha. Dia menoleh ke belakang dan melihat beberapa mobil berhenti dengan klakson berbunyi. Mike pun kembali melajukan mobilnya.


"Maafkan aku. Aku tadi terkejut karena suaramu." Mike masih berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Kalau begitu aku yang minta maaf, Mike." Cacha menimpali. Mike mengusap rambut Cacha dengan lembut.


"Tidak apa, ini bukan salah kamu," ucap Mike. Cacha beralih merangkul lengan Mike.


"Aku mencintaimu."


Aku juga mencintaimu, Mike.


"Jangan hanya bilang cinta dalam hati." Cacha mendongak mendengar ucapan Mike. Darimana suaminya tahu kalau dia membatin, mungkinkah Mike bisa membaca kata hatinya. "Jangan heran gitu, kamu itu delapan puluh persen menuruni sifat Ayah Johan."


"Darimana kamu menyimpulkan seperti itu?" Cacha begitu penasaran.

__ADS_1


"Karena kamu tidak suka bicara asal dan mesum seperti Bunda Mila," sahut Mike diiringi tawa.


"Kamu pintar sekali Mike. Yang titisan Bunda Mila kan Kak Nathan. Ah, aku jadi merindukan dia. Pasti sekarang dia sedang kewalahan menghadapi Nadira yang sedang ngidam." Cacha tersenyum saat teringat cerita Nadira yang mengatakan dia selalu ngidam tempe bahkan Nathan rela mencarikan cilok jam dua dini hari.


"Nanti kalau kamu ngidam, aku juga pasti akan menjadi suami siaga untukmu," ucap Johan yakin.


"Kamu yakin? Apa pun yang kuminta akan kamu turuti?" tanya Cacha antusias. Mike tidak menjawab, hanya mengangguk dengan cepat. "Kalau aku ngidam pengen lihat kamu pakai baju badut, kamu mau menuruti?" pinta Cacha dengan menunjukkan puppy eyes.


"Tentu saja. Itu hanya permintaan sepele."


"Kalau begitu pakailah baju badut, Mike." Kali ini Mike menepikan mobilnya lalu menatap Cacha dengan lekat.


"Kenapa berhenti lagi?" tanya Cacha heran.


"Apa sudah ada tanda-tanda kamu hamil?" Mike bertanya dengan tak sabar.


"Belum, Mike. Aku kemarin datang bulan tapi cuma sehari. Kayaknya karena aku terlalu stress jauh darimu. Maafkan aku belum bisa hamil, Mike." Cacha menunduk dalam. Raut wajahnya tampak begitu sedih.


"Hey, kenapa kamu jadi sedih gitu. Ingat, kita baru akan dua bulan menikah, waktu kita masih sangat panjang. Lihatlah Tuan Rayhan dan Kenan, mereka bahkan butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan keturunan. Maaf, aku sudah menyinggung perasaanmu." Mike menarik tubuh Cacha masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Mike. Lebih baik kita sekarang ke kantor. Keburu terlambat bisa-bisa pulang nanti ayah marah-marah," ucap Cacha. Mike pun melepas pelukannya dan tak lupa mencium puncak kepala istrinya sebelum melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2