Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
288


__ADS_3

Cacha merebahkan tubuhnya secara kasar, sedangkan Mike yang melihat itu menjadi semakin khawatir. Mike harus benar-benar bersabar karena di kehamilan kedua ini, istrinya menjadi sangat manja dan sensitif. Mike ikut merebahkan tubuhnya di samping Cacha dan memeluk dari belakang dengan erat. Mike pun tak lupa menciumi puncak kepala Cacha berkali-kali.


"Kamu sayang padaku?" tanya Mike lembut.


"Tentu saja. Kalau tidak sayang, mana mungkin aku sekarang sedang hamil anak kedua kita," sahut Cacha sewot. Mike pun tersenyum saat mendengarnya.


"Ya, aku tahu itu. Terima kasih banyak, Neng." Mike mengusap perut Cacha dengan sangat lembut hingga membuat perasaan nyaman untuk Cacha dan amarah wanita itu seolah lenyap begitu saja.


"Neng, kita susah payah untuk bisa mendapatkan ini. Aku akan menjaga kalian dengan segenap jiwa raga dan tidak ingin kehilangan kalian," ucap Mike. Cacha pun merasa tidak enak hati.


"Bukankah kamu bilang ingin lahiran di Indonesia? Supaya bisa dekat dengan Nadira." Cacha mengangguk cepat.


"Aku ingin lahiran di dekat bunda. Kasihan bunda sudah setua itu kalau harus pontang-panting ke sana-sini," sahut Cacha lesu.


"Makanya, kita pulang nanti waktu kehamilanmu sudah masuk bulan ketujuh atau delapan." Mike masih berusaha berbicara lembut.


"Tapi, Mike, aku ingin lihat pesta pernikahan Febian." Cacha merengek, Mike pun menghela napas panjangnya.


"Kita bisa melihat lewat siaran langsung. Biar anak buahku yang merekamnya." Mike memberi penawaran, tetapi Cacha justru menyingkirkan tangan Mike.


"Baiklah. Kalau begitu aku bantu siapkan bajumu dan aku akan mengantarmu ke Indonesia besok pagi." Mike bangkit berdiri dan berjalan menuju ke lemari pakaian. Dia mengambil koper milik Cacha lalu memilih baju ganti istrinya.


Namun, gerakan Mike terhenti saat Cacha menahan tangannya yang sedang mengambilkan baju ganti. Mike menatap istrinya yang saat ini sedang menatap memelas padanya. Belum juga Mike bertanya, Cacha langsung memeluk suaminya dengan sangat erat. Mike awalnya hanya diam, tetapi sesaat kemudian dia membalas pelukan istrinya.


"Aku tidak jadi pergi," kata Cacha lirih.


"Kenapa?" tanya Mike berpura-pura.

__ADS_1


"Aku mau di sini saja. Pulang nanti waktu mau lahiran." Suara Cacha nyaris tidak terdengar.


"Kalau kamu mau pulang sekarang tidak apa. Aku takut kalau kamu tidak bisa tidur karena kepikiran pesta itu." Mike masih berpura-pura merayu. Cacha menggeleng dengan cepat.


"Aku tidak mau, Mas. Kasihan anak kita. Aku mau di rumah saja." Mike mencium kening Cacha dengan lama setelah mendengar ucapan wanita itu. Mike tahu, menghadapi seorang wanita bukanlah dengan amarah, tetapi dengan kelembutan dan wanita itu akan luluh dengan sendirinya.


"Tapi kamu janji akan menyuruh anak buahnya untuk merekam langsung?" Cacha menatap Mike penuh harap.


"Sudah pasti. Sekarang lebih baik kita istirahat. Kasihan bayi kita." Mike membopong Cacha dan menidurkannya di atas kasur. Mereka pun akhirnya tertidur lelap.


***


Nathan menghela napas panjang karena merasa jengah sedari tadi duduk menunggu Nadira yang memilih gaun. Padahal sudah hampir satu jam berlalu, tetapi tidak ada satu pun gaun yang dipilihnya.


"Beb, belum ada yang cocok juga?" tanya Nathan.


"Beb, lihatlah. Kamu ini bukan gemuk, tapi kamu sangat cantik." Nathan menghadapkan tubuh Nadira ke arah kaca. Memeluknya dari belakang dan menaruh kepala di ceruk leher istrinya.


"Kamu jangan berbohong, Mas." Nadira tidak percaya, meski bibirnya tersenyum bahagia.


"Aku jujur, Beb. Lihatlah pipimu yang seperti bakpao ini. Rasanya aku ingin sekali menggigitnya." Nathan mendaratkan ciuman di pipi Nadira berkali-kali.


"Tapi, Mas, aku merasa kalau aku sangat gemuk." Nadira menghela napas panjangnya.


"Tidak, Beb. Kamu ini bukan gemuk, tapi semok," celetuk Nathan.


"Apa itu semok?" tanya Nadira dengan alis yang saling bertautan.

__ADS_1


"Seksi montok, lebih tepatnya semok yang berlebihan." Nathan menggigit bibir karena merasa telah salah bicara, sedangkan Nadira sudah menatap tajam ke arah suaminya.


"Bukankah itu artinya aku gemuk?" sewot Nadira. Nathan terkekeh sesaat.


"Tidak apa, Beb. Justru rasanya empuk, dan kalau kita melakukan di lantai pun, tidak akan terasa sakit," ucap Nathan asal. Nadira dengan kasar menghempaskan tangan Nathan dan menatap suaminya dengan marah.


"Mas! Aku marah padamu!" Nadira berkacak pinggang.


"Maaf, Beb. Jangan marah, ya." Nathan berusaha meredam emosi istrinya.


"Mas, setelah ini kita mampir di minimarket." Nadira berjalan mencari gaun yang terlihat cocok.


"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Nathan ingin tahu.


"Ya, aku mau beli sabun." Nadira tidak menatap suaminya sama sekali.


"Sabun? Buat?"


"Temen kamu bermain selama dua minggu ke depan." Nadira berbicara dengan raut datar, sedangkan wajah Nathan langsung memelas begitu saja.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Selamat pagi Gaes,,,


hilal tamat udah di depan mata 😁😁


jangan lupa dukungan buat babang Nathan ye,

__ADS_1


selamat pagi dan selamat beraktivitas. 😊


__ADS_2