Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
240


__ADS_3

Setelah mendengar kabar kematian Richard dan Elie, keluarga Saputra segera terbang ke Singapura bersama Alvino juga Febian yang baru saja sampai di mansion. Sementara Rayhan dan Nathan tetap di mansion Alexander karena mereka harus menjaga yang lain juga bersiap siaga dengan detik-detik kelahiran buah hati Rayhan dan Queen.


Prosesi pemakaman dihadiri banyak sekali pelayat. Selain karena Richard dan Elie merupakan pengusaha ternama, tetapi kebaikan hati mereka yang membuat banyak orang begitu segan kepadanya. Mike begitu sibuk menemui para pelayat yang sebagian rekan kerja Anderson Group. Bahkan dia sampai melupakan istrinya, tetapi Cacha berusaha untuk memaklumi.


"Makan dulu, Cha." Mila membawa sepiring nasi dan hendak menyuapi Cacha, tetapi langsung ditolak dengan gelengan cepat. "Kamu harus makan, Cha. Ingat, ada janin yang harus kamu jaga dengan baik."


"Cacha sedang tidak berselera, Bun." Cacha menjawab lesu. Bukannya dia tidak berselera, tetapi dia sangat ingin sekali makan nasi goreng buatan Mike. Namun, dia tidak mungkin memintanya di saat suaminya sedang berkabung saat ini.


"Atau kamu mau makan sesuatu? Biar bunda buatkan. Bunda tahu kamu sedang bersedih, tapi kamu jangan sampai melupakan kesehatan janinmu. Bukankah butuh waktu lama untuk mendapatkannya kembali?" Mila berusaha menasehati.


"Bun, Cacha pengen nasi goreng buatan Mike, tapi dia sedang sibuk dan Cacha tidak mau mengganggunya." Cacha terisak, dan dengan segera dia menghapus air matanya.


"Biar bunda bilang sama Mike." Mila hendak beranjak bangun, tetapi menahan lengan sang bunda dengan cepat.


"Jangan, Bun. Kasihan dia, apalagi masih banyak pelayat yang datang." Cacha mencegah, Mila menatap putrinya dengan lekat.


"Bagaimana kalau bunda yang buatin? Ya, meski tidak seenak buatan Mike." Mila memberi tawaran. Cacha awalnya terdiam, tetapi kemudian dia mengangguk cepat dan ikut ke dapur bersama Mila.


Cacha sebenarnya merasa sangat sedih karena Mike begitu tidak peduli padanya. Bahkan lelaki itu tidak bertanya apakah dirinya sudah makan atau belum meski hanya sekali. Namun, Cacha berusaha memaklumi dan dia tidak mau bertingkah kekanak-kanakan. Dia menyibukkan diri dengan membantu Mila menyiapkan bahan-bahan nasi goreng.


"Bun, maaf ya Cacha jadi merepotkan Bunda." Cacha mengusap air mata yang hendak mengalir. Mila yang sedang mengiris bakso segera menghentikan kegiatannya dan menangkup kedua pipi putrinya yang saat ini mulai terlihat berisi.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu sama sekali tidak merepotkan bunda, justru bunda sangat bahagia kalau kamu masih membutuhkan bunda seperti ini." Mata Mila pun berkaca-kaca. Entahlah, dia merasakan sebuah perasaan yang susah dijelaskan.


"Makasih banyak, Bun." Cacha memeluk Mila dengan sangat erat dan menangis di sana. Mila pun mengusap air mata yang hendak membasahi wajah cantiknya. Jujur, dia sangat merindukan putra-putrinya yang kini telah dewasa, dan dirinya merasa begitu tidak rela.


"Sudah jangan menangis." Mila melepas pelukan itu lalu mengusap air mata Cacha menggunakan ibu jarinya.


"Sayang, kita makan nasi goreng buatan oma dulu, ya. Papa masih sibuk. Nanti kalau papa sudah tidak sibuk, kita minta nasi goreng yang banyak banget sampai kamu puas."


Cacha berbicara sembari mengusap perutnya dengan sangat lembut. Mila pun kembali tak kuasa menahan air mata. Dia tidak menyangka kalau putrinya akan menjadi wanita yang begitu dewasa. Frans yang hendak mengambil minum, segera kembali ke ruang tamu saat mendengar apa yang dia dengar barusan.

__ADS_1


Mike bergegas bangun dan melangkah lebar menuju ke dapur setelah mendengar cerita Frans. Dia merasa sangat bersalah karena sudah menelantarkan istrinya. Sesampainya di dapur, Mike segera mendekati dua wanita yang sudah kembali sibuk membuat nasi goreng.


"Bunda sedang apa?" tanya Mike mengejutkan mereka berdua.


"Loh, kok kamu di sini, Mike?" tanya Mila balik. Cacha kembali berbalik dan mengiris bawang dengan cepat karena dia tidak mau Mike tahu kalau dirinya baru saja menangis.


"Mike lapar, Bun. Sini biar Mike yang saja yang bikin nasi goreng. Bunda temani ayah saja." Mike sedikit mengusir, Mila yang melihat kode dari Mike segera berpamitan pergi dari sana.


Suasana di dapur terasa sepi karena Cacha masih belum berani menatap suaminya. Dia masih saja sibuk dengan irisan bawang yang mulai membuat matanya terasa begitu panas.


"Neng, kamu marah dengan aku?" tanya Mike.


"Tidak. Kenapa aku harus marah denganmu?" Cacha bertanya balik dengan suara yang begitu parau.


Mike segera memeluk Cacha dari belakang yang membuat tubuh wanita itu menegang. Dengan perlahan, Mike mengambil alih pisau dari tangan Cacha lalu meletakkan secara sembarang. Kemudian, dia membalik tubuh Cacha hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.


Cacha memalingkan wajah karena dia tidak ingin Mike melihat wajahnya yang sudah penuh jejak air mata. Namun, Mikel justru menangkup kedua pipi Cacha dan menghadapkan padanya.


"Kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak salah, Mas." Cacha berusaha tersenyum simpul.


"Kalau aku tidak salah, mana mungkin kamu menangis seperti ini." Mike berbicara dengan lembut sembari menarik tubuh Cacha masuk dalam pelukannya.


"Aku menangis karena mengiris bawang."


"Aku tahu pasti kapan saat kamu sedang berbohong dan berbicara jujur, Neng," sela Mike yang membuat Cacha langsung terdiam begitu saja. "Aku akan membuatkan nasi goreng untukmu."


Cacha melepas pelukan itu dan menatap Mike dengan tatapan tidak percaya. Mike hanya tersenyum saat melihat raut wajah istrinya.


"Mike, bukankah masih banyak tamu yang harus kamu temui?" tanya Cacha.


Mike mengangkat tubuh Cacha dan mendudukkan di meja samping kompor. "Ada Frans yang akan menemui. Aku juga lapar."

__ADS_1


"Tapi, Mike ...." Cacha terdiam saat melihat Mike yang justru berdiri setengah jongkok dan mencium perutnya dengan penuh sayang.


"Sayang, maafkan papa yang terlalu sibuk. Sekarang papa akan menebus semuanya dan akan membuatkan sepuluh piring nasi goreng untukmu."


"Yang ada aku mabok nasi goreng, Mas." Cacha memukul lengan Mike dengan gemas. Lelaki itu justru terkekeh dan segera bersiap untuk membuat nasi goreng, sementara Cacha hanya duduk mengamati.


Ayah benar-benar tidak salah menjodohkan aku dengan lelaki hebat sepertimu, Mike. Kata cinta saja tidak cukup untuk membalas semuanya.


💦💦💦


Lama sekali aku tidak menyapa kalian. Bagaimana kabar kalian gaes? Kangen Othor enggak? wkwkkw


Oh iya, kisah ini bakal terus berlanjut ya, belum 300 episode 😂


Sebenarnya ada dua pilihan nih,


pertama, Othor bakal masukin kisah Febian dan Jasmin yang saat ini hilang tertelan bumi


kedua, Kita akan terbang ke beberapa tahun kemudian untuk menceritakan kisah anak-anak mereka.


Gimana gaes? kalian setuju enggak?


silakan tinggalkan komentar.


pemilik Akun ini silakan hubungi Othor ya bisa via DM IG : @tathabeo atau FB : Rita Anggraeni(Tatha)


Buat yang lain, sabar ya.


Insya Allah kalian bakal kebagian, jangan lupa terus beri dukungan☺️


__ADS_1


__ADS_2