Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
49


__ADS_3

Nathan menekan jari-jarinya yang masih menempel di wajah Nadira, hingga gadis itu sedikit meringis kesakitan. Tatapan mata Nathan terlihat menajam, tapi Nadira tidak terlihat takut sama sekali.


"Bukankah sudah pernah saya katakan kalau sampai mati pun saya tidak akan pernah melepaskan atau menceraikan Anda, Nona Muda!" tegas Nathan. Dia menurunkan tangannya dari wajah Nadira.


"Kak, berkali-kali sudah kukatakan kalau hubungan ini adalah sebuah kesalahan. Aku tidak tahu kenapa kita harus bertemu lagi dan terjebak dalam sebuah pernikahan serumit ini," ucap Nadira dengan parau.


"Anda yang terlalu rumit, Nona. Jangan pernah meminta saya untuk menceraikan Anda karena saya tidak akan pernah mengabulkannya!" Nathan berhenti bicara, dia sedang berusaha keras mengontrol perasaan yang begitu bergemuruh.


"Kak Nathan dan Nona Jasmin saling mencintai. Seharusnya kalian menikah bukan? Tapi karena daddy meminta Kak Nathan menikahiku, maka rencana pernikahan kalian dibatalkan." Nadira menyeka airmata yang masih saja mengalir.


"Ketika seseorang mengambil keputusan, pasti ada satu alasan dibaliknya, Nona!"


"Apa alasannya?!" sela Nadira, tetapi Nathan hanya membisu. "Kak, aku mohon ceraikan aku dan kita akan hidup bahagia. Aku sudah mencintai orang lain, Kak!" Nadira memalingkan wajahnya, dia tidak ingin Nathan tahu kalau dirinya sedang berbohong saat ini.


Tangan Nathan terlihat mengepal erat dengan rahang yang mengeras. Mendengar Nadira sudah mencintai orang lain, tentu saja membuat hati Nathan terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Meski Anda sudah mencintai dan menikahi orang lain. Saya tidak akan pernah menceraikan Anda. Lebih baik saya dimadu daripada harus bercerai!" Ucapan Nathan tetap begitu tegas. "Tidurlah, Nona Muda. Sepertinya hari ini Anda sudah terlalu lelah."


Nadira tidak menyahut, dia hanya menatap gerak-gerik Nathan yang turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Ketika Nathan sudah menghilang dari balik pintu. Nadira menutupi wajahnya dan terisak keras. Beban di hatinya rasanya begitu berat, hingga dia seolah tak mampu menumpu nya.


Nadira ingin sekali buang air kecil. Dia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur dan menatap kaki yang masih terbalut perban. Tangan Nadira menarik kursi roda yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya. Memegang kedua sisi kursi roda itu, lalu bangkit berdiri dan hendak duduk di atas sana.


Namun, Nadira lupa menguci kursi roda itu hingga saat dia berdiri, kursi roda itu justru bergerak dan Nadira jatuh di atas lantai. "Mommy," rintih Nadira. Kakinya terasa berdenyut sakit. Nadira beralih duduk bersandar tepi tempat tidur dan menangis terisak.


"Mommy daddy kenapa enggak ajak Nadira ikut dengan kalian?" Nadira kembali terisak. Dia tidak peduli dengan rasa sakit di pusat tubuhnya karena menahan kencing. "Mommy daddy. Nadira sakit!"


"Anda mau ke mana?" tanya Nathan. Dia menatap kursi roda yang sudah terbalik. Nadira menggeleng lemah, tapi satu tangannya berada di pusat tubuh karena rasa sakit semakin terasa.


Nadira tidak mungkin meminta Nathan mengantar ke kamar mandi. Walau status mereka suami istri, tapi hubungan mereka tidaklah dekat. Bahkan berciuman saja mereka belum pernah.


Nathan tidak membuka suara, dia membopong Nadira ala bridal style menuju ke kamar mandi. Nadira meronta, tapi Nathan tidak peduli.

__ADS_1


"Kalau Anda terus saja usil seperti ini, jangan salahkan saya kalau Anda terjatuh, Nona Muda!" ucap Nathan datar. Dia menurunkan Nadira dan membantunya duduk di atas closet.


"Ngapain Kak Nathan masih di sini?" tanya Nadira ketus.


"Tentu saja menunggu Anda. Memang apalagi?" tanya balik Nathan tak kalah ketus.


"Tunggu di luar jangan di sini!" cebik Nadira. Dia berusaha mengusir Nathan dari tempatnya.


"Memang kenapa? Jangan lupa kalau saya ini suami Anda, Nona Muda!" Nathan tersenyum miring.


"Kak ...." Nadira menatap memelas ke arah Nathan hingga akhirnya lelaki itu pun mengalah.


"Baiklah, kalau Anda butuh bantuan saya menunggu di depan, Nona Muda." Melihat Nathan berjalan keluar kamar mandi, Nadira mengepalkan tangannya dan memukul udara karena kesal.


"Nona Muda! Nona Muda! Rasanya pengen tak jejelin tuh mulut pakai sambel!" umpat Nadira.

__ADS_1


"Saya masih bisa mendengar Anda dengan baik dan tahu Anda sedang mengumpat, Nona!" Nathan menyahut dari luar kamar mandi, membuat Nadira terdiam seketika.


__ADS_2