Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
82


__ADS_3

Matahari pagi sudah menampilkan pesona nya, memancarkan sinar yang membuat embun di dedaunan nampak begitu cantik layaknya permata. Sepasang suami istri yang semalam gagal melakukan malam pertama, masih sama-sama terlelap dan tidur saling berpelukan di bawah selimut.


Nathan mengerjapkan mata saat mendengar suara pintu diketuk dari luar. Dia menggeram kesal karena ada yang berani mengganggu tidurnya. Namun, saat kedua matanya sudah terbuka lebar, senyum di bibir Nathan terlihat mengembang sempurna saat melihat Nadira yang masih tertidur lelap. Bahkan, Nathan masih bisa mendengar dengkuran halus dari istrinya itu.


"Kamu cantik sekali," gumam Nathan. Dia mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadira yang sama sekali tidak terganggu.


"Bangun, Kak!" Ketukan suara pintu itu semakin keras terdengar dan Nathan menggerutu karena paham siapa yang mengganggunya saat ini.


Dengan kasar, Nathan turun dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju ke pintu. Setelah pintu terbuka, Nathan mendengus kasar karena dugaannya tidak salah.


"Cha! Ini masih pagi, kenapa kamu sudah menganggu tidurku!" seru Nathan.


"Kak, ini sudah siang. Matahari aja udah hampir di atas kepala." Cacha melipat kedua tangan di dada.


"Aku ini pengantin baru, harusnya kamu tidak menganggu sampai dua hari dua malam!" omel Nathan. Dia menatap tajam ke arah Cacha. Bukannya takut, Cacha justru tergelak keras yang membuat Nathan menautkan kedua alisnya.


"Ngapain sih, Kak. Dua hari dua malam cuman di dalam kamar, sedangkan Kak Nathan enggak bisa merasakan surga dunia," ledek Cacha masih dengan tawa lebar. Mata Nathan terlihat membola sempurna.


"Pasti Bunda yang kasih tahu kamu 'kan?" tebak Nathan, tapi Cacha menggeleng cepat.


"Semalam Nadira meneleponku dan bilang kalau dia datang bulan," jelas Cacha. Nathan mengusap wajahnya kasar.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Nathan berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Aku mau pamit pulang ke Bandung. Pekerjaanku enggak bisa ditinggal. Apalagi sekarang aku harus gantiin posisi Kak Nathan." Wajah Cacha terlihat sangat tidak bersahabat. Sebenarnya, Cacha begitu enggan jika harus memimpin sebuah perusahaan dan harus mengemban tanggung jawab yang besar.


"Baguslah kalau begitu. Katakan pada Rendra juga kalau Nadira berhenti bekerja di perusahaannya," kata Nathan.


"Itu bukan urusanku! Kak Nathan atau Nadira saja yang bilang sendiri padanya. Di mana Nadira, Kak?" Cacha berusaha menerobos masuk, tapi Nathan menghalangi di tengah pintu.


"Sudah sana pergi! Biar nanti kukatakan pada Nadira," usir Nathan. Cacha tetap hendak memaksa masuk, tapi Nathan langsung menutup pintu itu dengan rapat.


"Kak! Buka pintunya!" Cacha menggedor pintu itu, tapi Nathan tetap tidak peduli. "Ish! Kak Nathan sangat menyebalkan! Pantes aja selalu gagal malam pertama," cebik Cacha. Kemudian, dia pergi dari sana dan berjalan ke parkiran karena Mike sudah menunggunya.


"Anda yakin akan kembali ke Bandung sekarang, Nona?" tanya Mike dengan sopan. Dia membuka pintu untuk nona mudanya itu.


"Ya, dua hari lagi ada hal penting yang harus kulakukan, Mike." Setelah memastikan Cacha sudah duduk dengan tenang, Mike berjalan mengitari mobil dan duduk di belakang setir kemudi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Cacha menghela napas panjang dan duduk dalam keadaan bersandar. "Maukah kamu berjanji untuk tidak memberitahu ayah?" tanya Cacha dengan ragu. Awalnya Mike diam saja, tapi saat melirik Cacha dari kaca depan mobil, Mike akhirnya mengangguk setuju.


"Dua hari lagi aku akan ke Bogor untuk membantu Mas Rendra," tutur Cacha. Mike kembali melirik wajah Cacha.


"Membantu apa?" tanya Mike penasaran.


"Membatalkan perjodohan yang sudah direncanakan orang tua Mas Rendra," sahut Cacha lesu.


"Bagaimana caranya, Nona?" tanya Mike lagi.

__ADS_1


"Aku akan menjadi pacar pura-pura Mas Rendra."


Cciitttt!!!


Mike menginjak pedal rem secara mendadak hingga tubuh Cacha terhuyung ke depan. Mike dengan gerakan cepat berbalik dan menahan kepala Cacha agar tidak terbentur jok depan.


"Maafkan saya, Nona. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Mike khawatir. Cacha yang barusan terdiam karena gerakan Mike, akhirnya dia kembali duduk tegak.


"Aku baik-baik saja, Mike. Kenapa kamu mengerem mendadak?" tanya Cacha balik.


"Saya hanya terkejut karena ucapan Anda. Apakah Anda serius akan menjadi pacar pura-pura Tuan Rendra?" Mike kembali memastikan.


"Ya, hanya sebatas pacar pura-pura karena aku tahu kalau hati Mas Rendra sudah menjadi milik wanita lain," sahut Cacha lirih.


"Kenapa tidak menyuruh wanita itu saja?" Mike terlihat begitu kesal.


"Karena wanita itu sudah menjadi istri orang lain."


"Nona ... bisakah Anda tidak melakukan hal konyol itu?" Cacha bisa menangkap amarah dari suara Mike.


"Aku tidak mungkin mengingkari janjiku sendiri, Mike. Aku harap kamu tidak bilang pada ayah. Lagi pula, itu hanya sekali saja dan pura-pura." Mike menghela napas saat melihat raut wajah Cacha penuh keraguan.


"Anda yakin?" Mike kembali memastikan dan Cacha mengangguk lemah. "Saya harap Anda tidak pernah menyesali keputusan Anda." Mike kembali menghadap ke depan dan melajukan mobil itu tanpa membuka suara lagi. Bahkan, Cacha bisa merasakan aura dingin di dalam sana, tapi Cacha mencoba bersikap biasa dan kembali memejamkan mata. Hati dan pikirannya sedang berkecamuk saat ini.

__ADS_1


AIHH, Kok Komennya sepi lagi 😂


__ADS_2