
Di tepi kolam renang yang terletak di kediaman Adhiwinata, Jasmin dan Febian berdiri dengan jarak yang cukup jauh. Mereka sedari tadi sama-sama saling diam. Namun, tatapan Febian ke arah Jasmin tidak terputus sama sekali sehingga membuat gadis itu memalingkan wajah.
"Jas, aku sudah datang ke sini dan akan melamarmu. Maukah kamu menerima pinanganku nanti?" tanya Febian akhirnya memecah keheningan.
"Aku sudah terlalu sakit atas apa yang sudah kamu perbuat kemarin, Bi." Suara Jasmin terdengar parau karena menahan tangis.
"Aku minta maaf, Jas. Aku benar-benar khilaf dan menyesal." Febian mendekati Jasmin, tetapi wanita itu justru memundurkan tubuhnya.
"Jangan mendekati aku, Bi!" seru Jasmin yang membuat langkah Febian terhenti seketika.
"Kamu masih marah padaku?" tanya Febian lirih.
"Bi, aku mohon jangan pernah kamu dekati aku lagi. Hubungan kita sudah berakhir sejak kamu dirasuki iblis. Aku takut, Bi." Suara Jasmin terdengar jelas kalau gadis itu sedang menahan tangis saat ini.
"Jas, aku akan menikahimu kalau kamu mau," tegas Febian, tetapi Jasmin justru menggeleng cepat.
"Aku butuh waktu, Bi." Jasmin benar-benar memalingkan wajah, tidak berani menatap Febian sama sekali. "Pergilah, Bi. Aku sedang tidak mau bertemu denganmu."
__ADS_1
Hati Febian terasa sakit mendengar kalimat pengusiran dari Jasmin. Dia memegang lengan gadis itu, tetapi langsung ditepis dengan kasar.
"Jas, Om Dharma bilang kamu akan belajar menerima Damian. Apakah itu artinya kamu sudah menganggap hubungan kita benar-benar berakhir?" tanya Febian penuh penekanan. Namun, Jasmin tetap saja bungkam.
"Jawab, Jas! Aku butuh jawaban ya pasti!" Suara Febian mulai meninggi.
"Pergilah, Bi! Aku tidak mau bertemu kamu lagi." Ucapan Jasmin seolah menjadi penegas kalau gadis itu tidak mau berhubungan lagi dengan Febian.
"Baiklah, aku akan pergi jauh darimu, tapi bolehkah aku meminta satu hal?" pinta Febian. Jasmin menoleh dan tatapan mereka berdua akhirnya bertemu. Baik Jasmin maupun Febian sama-sama terpaku dalam tatapan itu.
"Apa yang kamu inginkan?" Jasmin memutus tatapan itu karena tidak mau hatinya akan luluh dengan mudah.
Jasmin bergeming sesaat sebelum akhirnya dia memeluk Febian terlebih dahulu. Tangan Febian pun melingkar di pinggang Jasmin dengan erat. Bahkan dia harus menahan air matanya dengan sekuat tenaga.
"Jas, terima kasih sudah pernah memberiku kesempatan untuk mencintaimu dan memilikimu. Walau kita tidak berjodoh, berjanjilah kalau kamu akan selalu hidup bahagia meski tanpaku. Percayalah kalau perasaanku padamu tidak akan pernah berubah." Febian semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar isakan tangis dari Jasmin.
Jujur, Jasmin masih mencintai Febian bahkan perasaannya masih sama. Namun, dia masih takut dengan kejadian saat itu, seperti meninggalkan bekas luka yang teramat dalam untuknya.
__ADS_1
"Jangan menangis." Febian melerai pelukan itu. Kemudian, dia menangkup pipi Jasmin dan mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya. "Aku yakin kalau kamu bisa hidup bahagia dengan lelaki yang lebih bisa menghormatimu bukan lelaki bajing*n seperti aku."
Jasmin tidak menyahut, hanya air mata gadis itu yang terus saja mengalir. Sebuah kecupan mendarat di kening juga bibir Jasmin, tetapi hanya sesaat karena Febian takut tidak bisa lagi menahan diri. Kemudian, dia kembali memeluk Jasmin erat karena setelah ini, dia akan benar-benar pergi dari kehidupan Jasmin.
Setelah puas memeluk, Febian menyuruh Jasmin kembali ke kamar karena dirinya akan berpamitan. Namun, Jasmin tetap bersikukuh akan mengantar Febian sampai pintu depan. Tuan Dharma dan Alvino pun tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mengikut mereka saja.
Ketika baru saja sampai di teras, sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka. Seorang lelaki seumuran Alvino turun dari mobil dan berjalan dengan langkah tegas. Wajah lelaki itu terlihat begitu tampan apalagi dengan rahang tegasnya.
"Kamu sudah datang, Dam." Bibir Dharma tersenyum lebar saat lelaki itu berjalan mendekat.
"Iya, Om. Maaf aku terlambat, ada hal penting yang harus kuurus terlebih dahulu." Damian berkata dengan sopan. Tatapan lelaki itu bergantian menatap Febian dan Alvino.
"Mereka siapa?" tanya Damian penasaran. Dharma pun memperkenalkan mereka. Damian hanya mengangguk saat menyadari kalau Febian adalah mantan kekasih Jasmin.
"Kalau begitu kita pamit dulu." Alvino kembali berpamitan karena dia yakin adiknya sudah merasa tidak nyaman.
"Hati-hatilah di jalan." Baik Alvino maupun Febian hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Ketika berjalan di samping Damian, Febian menghentikan langkahnya sesaat lalu menepuk pundak Damian dengan tegas. "Jagalah Jasmin untukku. Kalau kamu tidak bisa membuat bahagia, setidaknya jangan pernah kamu membuatnya menangis!"
Damian hanya menatap Febian begitu saja. Setelah mengucapkan itu, Febian segera menyusul Alvino masuk ke mobil dan akan berkunjung ke tempat Mike terlebih dahulu sebelum kembali pulang ke Indonesia.