Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
78


__ADS_3

"Baiklah. Sebelum acara pesta resepsi dilaksankan, izinkan saya menyampaikan sepatah dua patah kata untuk adik perempuan satu-satunya yang saya miliki dan juga sahabat yang kini menjadi adik ipar saya." Alvino menghentikan ucapannya, lalu menghela napas panjang.


"Nad ... Kakak di sini sebagai perwakilan daddy dan mommy yang sudah bahagia di Surga. Selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian. Maafkan kita baru bisa mengadakan pesta pernikahan yang megah padahal pernikahan kalian sudah satu bulan lebih berjalan. Walaupun pesta ini tetap terasa begitu hampa tanpa kehadiran daddy dan mommy di sini, tapi percayalah ... mereka melihat dan pasti merasa sangat bahagia." Alvino kembali menghentikan ucapannya saat merasakan dadanya begitu sesak. Dia mengusap airmata yang mulai mengalir. Begitu juga dengan para tamu yang hadir. Kepergian Davin dan Aluna tentu saja menjadi luka menganga terutama untuk keluarga Alexander.


Nadira pun tak kuasa menahan tangisnya, Nathan kembali menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapan eratnya. "Semua akan baik-baik saja," ucap Nathan parau.


"Nathan, aku tahu kamu lelaki yang baik dan bertanggung jawab walau seringkali menyebalkan, tapi aku percaya kalau kamu mampu menjaga dan menyayangi Nadira dengan sangat baik. Aku juga yakin kalau daddy pasti punya alasan tertentu kenapa memilihmu sebagai pendamping hidup Nadira sebelum pergi. Aku mohon ... sayangilah adikku dengan setulus hatimu. Kalaupun suatu saat kamu sudah merasa bosan dan tidak mencintainya lagi. Kamu bisa kembalikan dia kepadaku dan Keluarga Alexander masih akan tetap menerimanya dengan baik." Alvino menatap Nathan dengan penuh memohon. Nathan pun hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Maukah kamu berjanji?" tanya Alvino memastikan.


"Ya! Aku berjanji, Al! Terima kasih sudah mengizinkan aku memiliki cinta masa kecilku," sahut Nathan dengan senyum bahagia. Nadira mendongak dan menatap penuh tanya ke arah Nathan.


"Sekarang keinginanmu sudah terwujud dan aku harap kamu tidak menyiakan kesempatan yang aku berikan, Nat. Berbahagialah kalian." Alvino berusaha keras menahan tangisnya yang hampir pecah lagi.


Seluruh anggota keluarga yang hadir mulai dari Marvel, Ardian, Ronal dan yang lain pun tak kuasa menahan tangis mereka. Antara tangis bahagia dan juga sedih.


Nadira melerai pelukannya, lalu beralih memeluk Alvino dan Febian. "Aku sayang kalian, aku juga sayang daddy dan mommy." Suara Nadira terdengar serak.


"Kita juga sayang kamu, Nad. Berjanjilah untuk terus hidup bahagia," kata Alvino dan Febian bersamaan.


Mila memeluk suaminya yang sedari tadi hanya terdiam. "Aku yakin kamu pasti sudah ikhlas, Mas."


"Seharusnya Tuan dan Nyonya ikut merasakan kebahagiaan ini." Johan membalas pelukan Mila. Percayalah, lelaki paruh baya itu sedang berusaha keras menahan airmatanya.

__ADS_1


Setelah cukup lama suasana haru dan sedih itu berlangsung, akhirnya pesta pernikahan pun digelar. Berbagai acara dijalani Nadira dan Nathan bersama-sama. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka dan juga seluruh orang yang ada di ruangan itu.


Setelah resepsi selesai, mereka pun berfoto-foto. Para anggota keluarga bergantian berfoto sebagai kenang-kenangan. Nathan sedari tadi tersenyum lebar, tapi senyumnya perlahan memudar saat melihat wajah istrinya yang sudah tampak lelah.


"Kamu mau istirahat sekarang?" tanya Nathan dengan lembut. Nadira menggeleng lemah.


"Aku masih ingin di sini, Kak." Nadira memaksakan senyumnya. Jujur, dia merasa sudah sangat lelah, tapi dia tidak mungkin pergi sebelum acara selesai.


"Kalau sudah lelah jangan dipaksa. Aku mencintaimu, Nad." Nathan memajukan wajahnya, hendak mencium bibir istrinya yang begitu menggairahkan. Nadira pun terbuai, tanpa sadar dia memejamkan matanya saat wajah Nathan perlahan mendekatinya.


"Ingat! Masih banyak orang!" Alvino menahan kepala Nathan.


"Kamu kenapa ganggu aja sih, Al!" cebik Nathan, menepis tangan Alvino dengan kasar.


"Alvino!" pekik Nathan kesal. Namun, Alvino hanya menutupi tawanya. Nathan bangkit berdiri lalu membopong tubuh Nadira ala bridal style. Nadira yang dalam posisi tidak siap hanya berteriak karena terkejut dengan gerakan Nathan yang tiba-tiba.


"Kamu mau ke mana, Nat?" tanya Alvino berteriak saat Nathan meninggalkan mereka.


"Tentu saja malam pertama. Memang mau apa lagi?" sahut Nathan ketus. Wajah Nadira merona merah.


"Ingat, woy! Ini masih sore belum malam!" teriak Alvino lagi. Mereka tidak peduli meski kini sudah menjadi pusat perhatian.


"Masa bodo!" Nathan bicara dengan sangat ketus. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin memberi adik kecilnya rumah yang nyaman dan bikin ketagihan.

__ADS_1


"Nadira! Jangan lupa lempar bunga pengantinmu dulu. Aku menanti!" teriak Cacha berhasil menghentikan langkah Nathan. Dia berbalik tanpa menurunkan Nadira.


"Yang mau rebutan bunga pengantin biar segera kawin, cepet ngumpul!" suruh Nathan. Mereka pun mulai mendekat. Febian, Jasmin, Cacha, Rendra, Erlando, Leona, dan juga Mike serta Mario. Rendra sedari tadi hanya diam saat melihat Mike dan Mario saling melempar tatapan tajam.


Setelah memastikan mereka sudah berkumpul, Nathan segera berbalik lagi dan menyuruh Nadira untuk melempar bunga itu.


"Satu ... dua ... tiga! Lempar!" Nadira melempar bunga itu, setelahnya Nathan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar pengantin yang sudah disediakan oleh keluarganya.


Cacha, Rendra dan Mike sama-sama terdiam saat mereka bertiga berhasil menyentuh bunga itu bersamaan.


________________________________________


Kalian seneng enggak nih? Biasanya up 3 bab sekarang 5 bab.


Eh kapan malam pertama, Thor? Sabar, Othor 'kan suka jahil pertama πŸ˜…πŸ˜…


Dukungan jangan lupa nih, kan udah Othor kasih bonus πŸ˜‚


Hari ini sudah cukup ya,


Sampai jumpa esok hari gaes


Salam sayang dari Othor Kalem nih.

__ADS_1


__ADS_2