Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
169


__ADS_3

Sebuah gedung yang sangat luas dengan penuh dekorasi pesta, saat ini mulai terlihat ramai dengan banyaknya tamu undangan yang sudah hadir. Hiasan bunga hampir memenuhi setengah bagian gedung itu dengan kursi pelaminan yang tampak megah.


Meja yang terletak di bawah panggung tepat dengan empat kursi, akan menjadi saksi bisu acara sakral di sana. Mike menatap seluruh penjuru ruangan. Sebuah pesta kejutan yang sudah dia siapa untuk seseorang yang sangat dia cintai.


Namun, dalam hati Mike merasa begitu gugup, dia takut semua ini hanya akan menjadi sia-sia seandainya gadis itu menolak semua yang sudah dipersiapkan. Tiba-tiba, ingatan Mike terlintas pada percakapan Cacha dan Nadira yang pernah dia dengar.


Flashback On


Di sebuah restoran yang terkenal di Bandung, Cacha dan Nadira duduk bersama menikmati makan malam, sedangkan Mike duduk di meja yang berada tepat di samping dua gadis itu karena tugas Mike untuk selalu mengawal Nadira.


"Nad, kamu kapan nikah?" tanya Cacha di sela kunyahannya.


"Entahlah. Calon aja belum punya." Nadira menjawab dengan lesu. Cacha yang mendengar itu hanya terkekeh. "Kalau kamu kapan nikah sama James? Pacaran mulu, tapi enggak nikah-nikah."


"Doain segera ya, Nad. Nanti aku kenalin James ke ayah bunda dulu. James lagi siapin semuanya." Cacha menjawab dengan sangat antusias. Bahkan, gadis itu sampai meletakkan sendoknya.


"Emang kamu minta apaan? Nikah di Bali?" tebak Nadira. Kepala Cacha mengangguk dengan cepat.


"Kamu 'kan tahu kalau aku pengen banget ngadain pernikahan di Bali. Ahh, aku rasanya sudah tidak sabar." Nadira menggeleng saat melihat telapak tangan Cacha saling mengusap karena membayangkan sebuah pernikahan yang sangat dia idamkan.


"Semoga saja segera, Cha. Mimpimu itu bisa terwujud," ucap Nadira dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Cacha mengangguk cepat, senyum di bibir Cacha tidak bisa membohongi kalau gadis itu sedang sangat bahagia saat ini. Tanpa mereka sadari kalau Mike mendengar semuanya.

__ADS_1


Flashback Off


"Mike!" Sebuah panggilan berhasil menyadarkan Mike dari lamunannya. Dia berbalik, lalu membungkuk hormat saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini.


"Tuan." Mike menyahut dengan sopan.


"Semua sudah siap?" tanya Johan. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang terlihat sangat hidup karena banyaknya hiasan bunga.


"Sudah, Tuan." Mike masih bersikap sopan kepada atasan yang sebentar lagi akan menjadi ayah menantu. Johan tersenyum simpul, lalu menepuk pundak Mike dengan perlahan.


"Bersiaplah, sebentar lagi semua akan dimulai." Johan berbicara dengan tenang, sedangkan Mike semakin merasa begitu gugup.


Di sebuah ruang rias, seorang gadis cantik masih setia memejamkan mata, tetapi wajah gadis itu baru saja selesai dirias dengan sangat cantik. Menjelma seperti seorang putri. Dengan setia, Nadira duduk di samping Cacha, setelah Nathan berpamitan pergi entah ke mana.


Selang beberapa saat, terlihat kelopak mata Cacha bergerak, membuat semua yang berada di ruangan itu, tersenyum simpul. Cacha membuka mata dan hendak menguceknya, tetapi Nadira langsung menahan tangan gadis itu.


"Jangan dikucek!" perintah Nadira. Kening Cacha terlihat mengerut saat mendengarnya. Namun, dia merasa heran saat merasakan wajahnya terasa kaku dan begitu tebal.


Dia beranjak duduk dan hendak mengusap wajah, tetapi Nadira kembali menahan tangan gadis itu. Cacha hendak bertanya, tetapi dia terdiam saat Nadira menaruh kaca tepat di depan wajahnya.


Bola mata Cacha membola sempurna saat melihat wajahnya yang sudah terlihat begitu cantik. Bahkan riasan itu seperti seorang pengantin saja. Cacha menatap ke arah para perias dan Nadira secara bergantian. Raut bingung terlihat memenuhi wajah cantiknya.

__ADS_1


"Kenapa aku dirias seperti ini?" tanya Cacha bingung.


"Jangan banyak tanya. Lebih baik sekarang kamu ganti bajumu dengan gaun itu." Nadira menunjuk gaun yang masih terpasang di manekin.


Cacha menoleh, dan dia semakin terkejut saat melihat gaun yang sangat tidak asing untuknya. Cacha berusaha mengingat di mana pernah melihat gaun tersebut.


"Bukankah itu gaun mempelai wanita di pernikahan Mike?" tanya Cacha saat sudah mengingat kejadian di butik kemarin.


"Bukan. Itu gaun untuk pager ayu." Nadira berbohong agar Cacha tidak curiga.


"Kamu jangan bohong, Nad! Aku sudah mencobanya kemarin!" Suara Cacha mulai terdengar meninggi, tetapi Nadira tetap terlihat tenang.


"Mike memang sengaja membuat gaun untuk pager ayu dan pengantin wanita hampir sama." Nadira kembali beralasan.


"Aku tidak percaya!" cebik Cacha. Ekor matanya menatap gaun yang sangat indah, yang kemarin begitu pas di tubuhnya. "Di mana mempelai wanitanya?" tanya Cacha sembari mengedarkan pandangan di seluruh penjuru ruangan itu.


"Sudah di sana. Makanya, cepat pakai gaun itu. Memangnya kamu mau membuat Mike malu di pesta pernikahannya karena kamu terlambat datang sendiri. Ingat, Cha! Mike selama ini sudah baik padamu." Nadira berbicara dengan bersemangat untuk memanasi sahabatnya.


Cacha hendak menolak memakai gaun itu. Namun, saat melihat sorot mata Nadira yang begitu tak sabar, membuat Cacha mau tidak mau segera turun dan berganti pakaian. Nadira pun segera membantu Cacha memakai gaun putih tulang yang menjuntai tersebut.


Jangan lupa gerakan jempol kalian untuk beri dukungan gaez

__ADS_1


__ADS_2