Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
110


__ADS_3

Nadira sudah memakai baju lengkap, tapi saat Nathan mengajak makan di luar, wanita itu justru menolak tegas dengan bibir mengerucut.


"Terus kamu mau makan di kamar saja?" tanya Nathan.


"Kamu pikir aku tidak malu kalau keluar dengan banyak stempel seperti ini?" Nadira balik bertanya dengan nada marah.


"Tidak apa, Sayang. Biar orang-orang tahu kamu ini milik siapa," ucap Nathan. Nadira tidak menyahut, hanya bersidekap dengan wajah terlihat sebal. "Kalau kamu mau membuat stempel di tubuhku juga boleh kok, Beb. Biar kita malu sama-sama."


"Enggak mau!" tolak Nadira cepat.


"Sayang, ayolah kasih aku stempel. Di mana pun kamu mau. Boleh di leher, di dada." Nadira melihat Nathan yang menunjuk leher, dada, perut, dan pusar. "Eh! Kalau mau di sini juga boleh," kata Nathan menunjuk adik kecilnya sembari terkekeh.


"Kak Nathan!" seru Nadira.


"Aku bukan kakakmu!" timpal Nathan.


"Masa bodoh! Kamu menyebalkan!" Nadira kembali merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi suaminya.


"Aku tahu kalau aku sangat tampan, Sayang. Kamu mau pakai gaya miring gini? Katanya juga enak loh," seloroh Nathan menggoda Nadira yang semakin kesal.

__ADS_1


"Pergilah, Kak! Aku enggak mau sama Kak Nathan!" Bukannya pergi, Nathan justru semakin merapatkan tubuhnya dan mencium leher belakang Nadira hingga wanita itu kembali merasakan perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Aku bukan kakakmu, Nat! Panggil aku mas." Nathan terus menghujami ciuman di tengkuk Nadira membuat wanita itu tak kuasa menahan hasratnya.


"Mas." Akhirnya, suara merdu itu kembali terdengar di telinga Nathan sampai membuat Othong ingin kembali masuk ke rumahnya, untuk sekedar muntah.


"Kita lanjutkan nanti saja." Nathan menyudahi kegiatannya, lalu mengambil ponsel untuk menghubungi makhluk menyebalkan bagi dirinya.


"Hallo, Zack. Bawa dua porsi makanan ke sini! Dua puluh menit, kalau sampai terlambat maka kamu, aku beri hukuman!" Nathan mematikan panggilan itu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari seberang telepon.


"Kamu yang bener aja, Mas. Kasihan si Zack!" protes Nadira. Dia berbalik dan memeluk Nathan erat.


"Si Mar?" Alis Nadira terlihat saling bertautan.


"Iya. Dia 'kan enggak punya pacar jadi ya mainnya sama si Mar terus. Temennya Tante Citra, Beb," tutur Nathan.


"Oh Astaga!" Nadira mencubit pinggang Nathan dengan gemas saat menyadari ke mana arah pembicaraan suaminya. Sementara Nathan hanya tergelak keras. Mereka pun saling mengobrol sambil menunggu Zack datang membawa makanan untuk isi amunisi sebelum kembali berperang di atas kasur.


***

__ADS_1


"Mas! Kalau emang enggak niat jemput, jangan sok-sokan mau jemput. Aku telat, aku yang rugi!" omel Cacha. Dia masuk ke mobil Rendra dan duduk di samping lelaki itu.


"Maaf, Cha. Aku kan barusan enggak tahu kalau ban mobilku bocor," jelas Rendra membela diri.


"Setidaknya kalau kamu bilang, aku bisa berangkat sendiri atau bersama Mike," timpal Cacha. Rendra tidak menyahut dan hanya melajukan mobilnya menuju ke JS Group.


"Mas, sampai kapan kita akan bersandiwara? Aku takut ayah akan tahu semuanya." Cacha menyandarkan kepala dan menatap keluar jendela.


"Kalau kita langsung putus yang ada orang tuaku akan curiga, Cha." Rendra terlihat begitu fokus dengan jalanan di depannya, padahal pikiran lelaki itu sedang tidak fokus. Semalam dia sampai mabuk karena begitu merindukan Nadira, apalagi setelah mendengar Nadira dan Nathan sedang ke Lombok untuk berbulan madu, membuat perasaan Rendra menjadi sangat tidak karuan.


"Mas, awas!" pekik Cacha, menyadarkan Rendra dari lamunan. Dengan cepat Rendra membanting setir ke arah kiri hingga masuk ke trotoar jalan untuk menghindari mobil dari arah depannya. Beruntung, di lajur sebelah kiri ataupun di trotoar tidak ada satu orang pun.


"Kamu baik-baik saja, Cha?" tanya Rendra. Dia melihat tubuh Cacha yang terlihat sangat gemetar.


"Ayah ... bunda ... Cacha takut." Rendra menarik tubuh Cacha masuk dalam dekapannya untuk menenangkan gadis itu, meski Rendra pun masih terkejut karena hampir saja bertabrakan.


Pintu mobil diketuk dari luar dan Rendra melihat Mike mengetuk keras pintu mobil itu dengan penuh kemarahan. Rendra pun membuka kunci pintu tanpa melepaskan pelukannya.


"Anda baik-baik saja, Nona Muda?" tanya Mike, tapi lelaki itu langsung memalingkan wajah saat melihat Cacha sedang berpelukan dengan Rendra. Hatinya terasa berdesir sakit dan memanas.

__ADS_1


__ADS_2