
Cacha menatap layar ponsel yang masih menyala, tetapi panggilan dari suaminya sudah terputus begitu saja. Dia mendesah, perasaan kecewa, gelisah, dan curiga, bercampur menjadi satu hingga membuat air mata mengalir tanpa sadar. Guling yang berada di samping pun, sudah dia peluk erat bahkan sudah basah.
"Kenapa ada suara wanita yang begitu lembut, mungkinkah Mike sekarang sedang bersama wanita lain?" tukasnya, dia mengusap air mata secara kasar. Jemarinya kembali menghidupkan layar yang baru beberapa detik mati. Kemudian, dia kembali menggulir layar dan memanggil nomor suaminya, tetapi panggilan itu tidak terhubung sama sekali.
"Sepertinya, Mike sedang bersama wanita lain. Harusnya kamu sadar diri, Cha. Sekarang kamu bukan apa-apa, sedangkan dia Mike Anderson. Sudah pasti wanita banyak wanita yang lebih hebat di sampingnya sekarang." Cacha mengusap air mata kasar. Dia tidak mau menjadi wanita cengeng.
Dengan sedikit bermalas-malasan, Cacha beranjak bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah mencuci muka, dia segera mengeringkan menggunakan handuk kecil. Cacha mendengkus kasar saat melihat pantulan wajahnya, apalagi saat melihat kelopak mata yang begitu sembab.
"Bisa dimarahi ayah kalau dia sampai tahu aku menangis seperti ini."
Setelah puas menatap pantulan wajahnya, Cacha segera keluar kamar mandi, dia berencana akan jalan-jalan saat ini untuk menyegarkan pikirannya. Cacha mengolesi make up tipis yang semakin membuatnya terlihat cantik. Padahal Cacha bukanlah gadis yang suka make up, tetapi akhir-akhir ini dia suka sekali bermain alat kecantikan.
"Anda mau pergi, Nyonya?" tanya Abas, anak buah Mike yang sekarang bertugas sebagai pengawal pribadi Cacha.
__ADS_1
"Aku mau jalan-jalan, Pak." Cacha menjawab sopan. Abas pun segera membuka pintu mobil untuk Cacha, tetapi wanita itu masih saja berdiri di tempatnya.
"Pak, aku mau mengendarai mobil sendiri," ucap Cacha.
"Maaf, Nyonya. Tuan Mike pernah berpesan untuk tidak membiarkan Anda pergi sendirian," tolak Abas sopan.
"Tapi aku mau naik mobil sendiri, Pak." Cacha bersikukuh. Abas pun bersikukuh menolak karena dia tidak berani menghadapi kemarahan Mike kalau sampai Cacha mengendarai mobil sendiri. "Biarkan aku pergi sendiri atau aku akan menembakmu, Pak!"
"Nyo-nyonya." Abas tergagap saat Cacha menodongkan pistol ke arahnya. Kalau saja bukan majikannya yang akan menembak maka sudah pasti dia akan melumpuhkan terlebih dahulu.
"Bagaimana ini?" tanya Abas kepada anak buah Mike yang lain.
"Cepatlah. Kita ikuti nyonya muda. Jangan sampai kehilangan jejak." Mereka pun masuk ke mobil lain, lalu mengejar mobil yang dikendarai Cacha.
__ADS_1
***
Cacha menghentikan mobilnya di lahan luas dengan banyak pepohonan di sekitar. Dia menghirup napas dalam-dalam sebelum kembali menyalakan mobilnya. Dia mencekeram setir kemudi dengan kuat.
"Percayalah kalau Mike tidak akan pernah menyakitimu, Cha!"
Cacha menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi memutari lahan tersebut. Dia ingin melenyapkan semua perasaan gelisah yang kini sedang bersarang di hatinya. Setelah cukup puas bermain dengan kebut-kebutan, Cacha menghentikan mobilnya di tepi, membuka kaca mobil lalu mengarahkan pistolnya ke arah pohon tinggi yang cukup jauh dari tempatnya.
"Lihat saja. Siapa pun yang akan menjadi pelakor, aku tidak akan segan-segan menghancurkannya!" Tepat ketika Cacha berhenti berbicara, suara tembakan terdengar di sana. Bibir Cacha tersenyum puas saat melihat seekor burung jatuh dari pohon. Dia yakin kalau burung itu sudah mati karena terkena tembakan.
Sementara itu, anak buah Mike mencoba mencari tahu lokasi GPS mobil yang dikendarai Cacha. Mereka terus saja berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan nyonya mudanya. Kalau sampai Cacha terluka sedikit saja, bisa jadi mereka akan babak belur dihajar Mike.
"Untung saja bos memasang GPS di mobil nyonya," ucap Abas lega saat berhasil menemukan lokasi mobil Cacha berada.
__ADS_1
"Sudah pasti, bos selalu bisa mengantipisasi segala kemungkinan yang akan terjadi, kamu tahu kan betapa besar cinta bos untuk nyonya," sahut Erik, anak buah Mike yang satunya.
"Lebih baik kita susul sekarang." Erik hanya mengangguk lalu mengemudikan mobilnya menuju ke tempat Cacha.